CERPENKU

AKU TUNGGU KENTUT ITU
Oleh: Imron Rosidi


          Siapa yang mengira bahwa aku sekarang menunggu-nunggu kentut itu. Detik demi detik, menit demi menit dan berakhir pada hari kedua malam ketiga, aku tidak kunjung kentut. Padahal, aku operasi di hari keramat, dua hari mundur ke belakang. Rasa lendir meleleh bak nana yang bergerombol di tenggorokan dan ingin berontak, keluar dari mulutku, atau ingin masuk ke dalam perutku. Tapi tak bisa. Kentutku masih belum mau menampakkan diri. Aku belum boleh menarikan lidahku sedikit pun. Bahkan memasukkan setetes air pada tenggorokanku. Tiba-tiba muncul sosok seorang berjilbab dengan seragam putih bersih dengan stetoskop di lehernya.
          - Sudah kentut, dengan nada tinggi sambil senyum merekah di bibir
          Aku hanya bisa menggeleng. Perut bekas jahitanku mulai mengaku. Tubuh lemas dengan jarum infus menancap di punggung telapak tanganku. Berusaha aku miringkan tubuhku perlahan. Kaki kananku aku tumpukkan di atas kaki kiriku, persis orang sedang melungker kedinginan. Rasa sakit menggigit membarengi usahaku.
          - Kamu bom  lagi kapsul lewat  duburnya, perintah dokter itu pada para               pembantu-pembantunya.
          Dengan cekatan tangan mungil, putih tetapi agak kasar itu meraih sarungku. Duburku mulai terasa licin. Cairan yang meleleh. Cairan kapsul yang belum menancap penuh dalam duburku, membecekkan selangkangku.
          Aku mulai tidak enak dengan perutku yang mulai mengembung. Duburku yang tidak kasat lagi. Tanganku yang mulai membengkak dengan hunusan jarum infus. Kedua kakiku mulai kesemutan. Aku ingat pesan orang-orang di sekitar rumahku.
          - Buk, aku kasih simbuan atau daun jarak saja. Aku ingin kentut, Buk? kataku              dengan memelas pada istriku.
          - Ah, sampean ada-ada saja, mas. Aku sungkan Bu dokter. Nanti dikira mengada-              ngada.
          - Ibuk tidak usah ngomong-ngomong. Coba Buk, aku tidak enak dengan perutku.              Lapar. Haus. Aku mules, aku pingin kentut, Buk!
          Istriku mulai kurang percaya diri. Dia yang biasanya tenang mulai gundah dengan keadaanku. Kentut yang biasanya paling aku benci kini aku cari. Aku ingat ketika istriku aku damprat. Aku marah besar karena istriku kentut, terdengar oleh telingaku, jelas, dan sangat jelas sekali. Dia menangis. Dia membalikkan badannya sambil meletakkan kedua telapak tangannya di antara kedua pahanya. Kepalanya menunduk, wajahnya tertutup rambut sebagunya. Dadanya naik turun, takut karena aku marah sebesar itu. Air matanya menetes perlahan, menghapus kedua pipi bersihnya, melewati bibirnya yang gemetaran. Kemudian, jatuh bergantian di atas tangan kirinya.
          Aku juga ingat kejadian di waktu remajaku. Aku cerai pacarku karena dia kentut. Waktu itu aku masih baru sekali menginjakkan kaki di rumahnya. Padahal, kentut yang dikeluarkan oleh pacarku itu berbunyi seperti rem sepeda yang berkarat, tidak seperti ban meletus. Setelah itu, aku tidak pernah ingin bertemu dengannya. Aku menjauh. Dering telepon pun tidak aku terima. Aku benar-benar bulat memutus cintanya.
          Aku ingat bagaimana orang tuaku membelalakkan matanya ke arahku yang kentut tanpa diirencanakan. Tanpa sengaja, aku mengeluarkan angin yang berbunyi dikala bapakku sedang makan.  Dibantingnya piring yang masih penuh dengan nasi. Disiramkannya air yang masih hangat di gelas putih. Dia keluarkan kata-kata yang sebelumnya tidak pernah aku dengar. Keras dan tanpa basa-basi.
          - Hai anak durhaka. Jancuk kamu. Matamu nggak lihat, bapak lagi apa. Jancuk              kamu!
          Tiba-tiba tangan kulit keras mendarat di pipiku. Darah bak mengalir di dalam kulit pipiku. Aku merasa pening. Langit-langit rumah berputar. Bapakku yang tidak begitu jelek tampak mukanya tidak berbentuk lagi. Hidungnya mencong ke sana-kemari. Kepalanya tidak bundar lagi. Mataku berkunang-kunang. Aku sempoyongan, berdiriku sudah tidak tegap lagi.
          Istriku mulai menahan kegelisahannya dengan memijat-mijat kentol kakiku. Sekali-kali tangan kanannya menyibakkan ujung jilbabnya yang mulai dlewer ke arah punggungnya. Dia usap keringat dingin di jidatnya. Aku mulai meraskan kegelisahan istriku.
          - Ya, sudah buk kalau tidak mau.
          - Anu mas, aku … khan perawat. Masak aku harus melakukan hal-hal yang tidak              pernah aku terima ketika bersekolah perawat. Aku sungkan mas.
          - Tapi …. ini perutku buk, kataku sambil memperlihatkan perutku yang mulai              mengeras.
          Istriku tampak mencari sesuatu. Tangannya menyentuh halus lapisan luar kasurku. Dia angkat ujung bantalku yang sedang memanjakan kepalaku. Dia tarik lembaran koran yang bersembunyi di bawah bantalku. Tanganya mulai mengayun-ayunkan kertas koran itu sampai rambutku bergerak-gerak. Tiupan angin menyeruak di antara benang-benang sarungku yang tipis. Kelaminku terasa dingin yang sudah beberapa hari beristirahat. Mendinginkan badanku. Menyerap butiran-butiran keringat di jidatku. Tapi semua itu tidak mengurangi rasa laparku. Rasa hausku. Sesekali tanganku memegang perban putih yang menempel di perut bagian bawah. Kira-kira lima belas cm di atas kemaluanku dan berbelok ke kanan juga kira-kira lima belas cm. Panjang perban putih itu sepanjang sobekan pada perutku.
          - Sabar mas. Sebentar lagi mas pasti kentut. Obat itu pasti akan segera bereaksi.
          Aku terdiam saja. Tiba-tiba terdengar bunyi yang aku tunggu-tunggu. Menggelegar. Istriku sejenak kaget.
          - alhammdulillah, akhirnya mas kentut juga
          - aku tidak kentut, buk, kataku agak gemetar
          - Lho, itu tadi?
          - Kulo Bu, kata seorang kakek yang berada di samping tempat tidurku
          Kakek itu memang berbarengan denganku ketika operasi. Dia terkena hernia. Maklum, sewaktu muda, kakek itu bekerja sebagai penjual sayur. Dia ambil sayur di Pasuruan dan menjualnya di Mojokerto. Dia ayun sepeda pancal. Waktu itu memang belum begitu ramai jalanan. Kakek itu selalu berangkat waktu subuh dan pulang malam hari. Kakek itu tak mengenal sempak. Dia biarkan kelaminnya gandol, bak detangan jam di rumahku.
          Aku iri dengan kakek itu. Dia sudah bisa minum. Bisa makan. Bisa tersenyum. Aku mencoba ke toilet. Aku coba mengangkat kepalaku, tapi tak mampu. Tangan kananku mencoba meraih seprai, sedangkan tangan kiri masih bergaul dengan jarum infus. Lagi-lagi usahaku tak berhasil. Bekas jahitan di perutku tidak mau diajak kompromi. Rasa sakit yang amat sangat membuat wajahku menyerengai. Istriku tidak tega. Dengan cekatan tangannya mengendong kepalaku.
          - Mas, mau ke mana?
          - Aku ingin ke toilet, Buk.
          - Tapi mas jangan banyak gerak dulu. Jahitan mas masih basah.
          - Anu Buk ….
          Istriku akhirnya mengiyakan permintaanku. Aku mulai duduk. Tangan kiri istriku mengambil botol infus yang berada di tiang. Dengan perlahan tangan kiriku aku jatuhkan dari tempat tidurku. Kedua kakiku mengikuti tanganku. Aku melangkah perlahan. Istriku mengiringi di belakangku. Aku buka sarungku yang sudah tidak karuan baunya. Kumal, banyak lipatan-lipatan kecil. Tangan kanan istriku meraih dan dia selempangkan di atas bahunya.
          - Sampean tunggu di luar saja, kataku pura-pura
          - Biar mas, aku di sini. Yang megang botol ini siapa?
          - Sampean nanti bau
          Istriku lagi-lagi ingin membantuku. Dia rela bau kentutku. Dia tampak lebih mementingkan kentutku dibanding dengan bau kentutku. Aku berusaha mengeraskan perutku dan menahan nafasku. Aku coba menggerak-gerakkan perutku agar kentutku mau nongol. Mungkin sudah sepuluh menit aku jongkok di toilet pengap, pesing, dan berbau obat-obatan ini. Aku menggelengkan kepalaku.
          Aku rebahkan lagi badan lemahku. Aku mulai mengingat Tuhanku. Aku ingat pesan Kiaiku. Aku harus dapat menjaga masa sehatku sebelum datang masa sakitku. Aku bekerja tanpa mengenal waktu. Wiridan sesudah salat tidak jarang aku tinggal. Kadang-kadang waktu salatku berjarak tidak terlalu lama. Salat dhuhur dekat dengan ashar. Salat maghrib di akhir-akhir. Tak jarang harus kujadikan satu dengan isyak. Aku permainkan perintah Tuhan. Subuhku sesukaku.
          - Mas, sampean salat subuh apa duha
          Kata-kata itu sering terlontar dari mulut istriku. Pikiranku mulai melayang mengingat dosa-dosaku. Hanya ingin kentut saja aku tak bisa. Padahal, sewaktu salat aku tidak boleh kentut. Pernah pada suatu waktu aku diberi kesempatan berada di depan ketika salat berjamaah. Perutku berputar-putar. Duburku cemut-cemut ingin mengeluarkan angin. Aku berjuang habis-habisan mempertahankan kesucian wudhuku, kesucian salatku. Ketika suara salam keluar dari mulutku. Cepat-cepat ku tinggalkan jamaahku. Kentutku tidak tertahankan. Aku kentut di belakang para jamaahku.
          Kini aku mulai lemas, benar-benar lemas. Letih, lunglai. Ibu dokter sudah mengganti infusku. Biasanya botol infusku terbuat dari plastik. Infusku kini tampak lebih bundar. Lebih keras. Lebih bening. Lebih berat. Infusku katanya bisa mengganti makanan. Banyak nutrisi, mineral, atau mungkin vitamin. Tapi aku takut botolnya mengandung formalin. Meskipun begitu, aku terus berpikir, kapan aku bisa makan seperti kakek di sebelahku. Aku sudah kangen dengan rawon tahu buatan istriku. Urap-urap yang membuat aku semangat bekerja.
          Istriku juga mulai ikut gelisah. Dia mulai menimbang-nimbang untuk mengambilkan daun simbuan. Dia mulai menghitung untung ruginya.
          - kalau aku ambil daun simbuan, apa sih ruginya. Paling-paling aku ditertawai. Atau             paling banter, aku telah tidak patuh pada teori keperawatan yang pernah aku             pelajari di bangku sekolah. Atau mungkin aku dianggap kolot.
          Istriku berjalan mondar-mandir di sampingku. Entah sudah berapa kali, tidak terhitungkan olehku. Aku pura-pura tidak memperhatikan. Sesekali kakiku bergantian yang kutekuk, mengurangi rasa penat. Istriku mendekatiku sambil memegang tangan kiriku.
          - Mas, aku pulang dulu ya? kata istriku seperti memelas
          - Lho, nanti siapa yang menemani aku malam ini Buk. Siapa yang membawakan             botol infus ini kalau aku ingin kencing nanti malam?
          - Anu mas, aku sebentar kok.
          - Ada apa sih Buk?
          - Aku akan ambil daun simbuan dulu ya? sambil berbisik takut terdengar kakek              yang berbaring di sebelahku
          - Sampean?
          Istriku tidak menjawab. Dia palingkan badannya. Dia ambil sandal japitnya dan melepas pegangan tangannya. Istriku mulai menutup kamarku. Langkahnya mulai semakin menjauh. Aku berusaha memejamkan mataku. Tangan kananku tetap memegang perban di perutku. Bunyi-bunyian kecil terdengar dari perutku yang kosong dan kering. Hanya satu sebab, belum kentut.
Sambil memejamkan mata, pikiranku berputar-putar. Aku mulai kasihan melihat istriku. Padahal, aku selalu marah kalau istriku kentut. Memang dalam agamaku tidak mengatur tata cara kentut. Tapi kita diwajibkan saling menghormati sesama, terutama pada orang tua dan suami atau istri. Orang tuaku juga berpesan agar aku segera menjauh apabila akan kentut. Bahkan, setelah kejadian penempelengan sewaktu aku kecil, aku tidak pernah kentut di dekat kedua orang tuaku. Kalau bisa, kentut itu tidak berbunyi agar tidak terdengar oleh orang lain.
          Lamunanku tiba-tiba berhenti setelah ada bunyi ketukan di pintu kamarku. Aku yakin itu istriku yang sedang membawa daun simbuan yang telah dihaluskan, dicampur dengan minyak telon atau minyak kayu putih. Belum sempat aku membuka mataku dengan sempurna, suara yang tidak asing lagi terdengar.
          - Bapak harus minum obat ini, kata seorang perawat sambil menyodorkan kapsul             berwarna biru putih.
          - Obat apa itu, Rin? tanyaku pada perawat yang sudah aku kenal itu
          - Biar Bapak bisa makan lagi, bisa minum lagi.
Aku ingin segera minum obat di genggamanku. Aku kesulitan untuk mengambil air putih yang berada di meja samping kiri atas kepalaku. Istriku yang biasanya membantuku ketika aku minum obat atau pergi ke toilet tidak berada di sampingku. Aku lihat kakek di sebelahku sudah mendengkur, begitu juga nenek yang menjaganya. Aku geser kaki kananku menjauhi kasurku menuju lantai. Aku geser pantatku sambil menyeringai menahan sakit di bekas jahitan yang ada di perutku. Sambil menjaga jarum infus yang menempel di tanganku agar tetap tidak begerak, aku berusaha mengambil gelas itu.           Sudah dekat telapak tanganku menyentuh gelas itu.
          - Mas ……, teriaknya tiba-tiba muncul.
Aku kaget dan tubuhku meloncat sedikit bersamaan dengan bunyi kentut keluar dari duburku. Mukaku memerah bercampur tak percaya. Istriku tersenyum, dan kakek itu terbangun karena kentutku.


Pasuruan, Januari 2006
buat istriku yang setia merawatku



Imron Rosidi, anggota dewan kesenian kota Pasuruan
Guru bahasa Indonesia dan Mahasiswa S3 bahasa Indonesia UM

Komentar :

ada 7 komentar ke “CERPENKU”
puri mengatakan...
pada hari 

kata-kata yang bapak pakai terlalu seronok, sehingga membuat pembaca agak risih.
terdapat campuran dua bahasa yaitu bahasa jawa dan bahasa indonesia.

puri wardani
b.ind/06

Anonim mengatakan...
pada hari 

Askum... Bpk saya kira kata-kata yang bapak gunakan terlalu kasar... (JANCUK) sehingga membuat si pembaca kayak gimana... gitu! tapi pendiskripsian Bpk tentang karakter yang digunakan tepat atau sesuai dengan kondisinya.



Ahmad Ari Safrizalla
Ekonomi/B/08

Anonim mengatakan...
pada hari 

cerpennya asik... tapi, bahasanya terlalu gamblang dan terkesan kasar sehingga kurang enak di dengar

m. wasni
pbsi/a/2008

girindera mengatakan...
pada hari 

aduh... gimana ya?

cerpennya boleh juga. tapi, kaya-katanya agak kurang pas. atau memang bapak sengaja mengangkat kebiasaan keseharian di lingkungan kita, itu juga boleh.



girindera rizki choirusman
08188293955
esa (d) 2008

Anonim mengatakan...
pada hari 

Cerita bapak terjadi pada ponakanku yang baru melahirkan di Makasar, kami keluarga di jabotabek terus berkomunikasi dengan keluarga di sana lewat ponsel,Jadi seharian ini kentut on line.


ipak
Tangerang

Saif El-Syadiri mengatakan...
pada hari 

sip pak guru... mudah-mudahan muridmu juga menjadi penulis yang bermenfaat... amin...

Anonim mengatakan...
pada hari 

bagus juga ilmunya pak walaupun kata2nya agak kasar tapi kan lebih kasar yg punya jabatan selamat deh udah bisa kentut

Posting Komentar