artikel BIPA

USAHA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA BAGI PEBELAJAR ASING
Oleh: Imron Rosidi


1. Pendahuluan
Proses pembelajaran bahasa merupakan suatu unit sistem yang bersifat kompleks karena di dalamnya terlibat sejumlah komponen yang saling berhubungan secara fungsional. Menurut Winkel (1989:79) komponen-komponen dalam proses pembelajaran meliputi: (1) tujuan pembelajaran, (2) kondisi asal (pebelajar, guru, dan lembaga/program), (3) evaluasi, (4) proses belajar, (5) materi pembelajaran, prosedur didaktik, (7) media pembelajaran, dan (8) pengelompokan pebelajar. Komponen-komponen tersebut sebagai factor penentu dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran, kehadiran guru mutlak diperlukan dan tidak dapat digantikan dengan sarana atau media apa pun. Pandangan humanistik dan konstruktivistik yang konon disebut sebagai pandangan terbaru dan termodern pun tetap menempatkan guru sebagai unsur pusat. Hal ini dikemukakan pula oleh Degeng (1997) bahwa peran dan tugas utama guru dalam proses pembelajaran menurut pandangan konstruktivistik, meliputi (1) manajerial (organisator) dan (2) instruksional (fasilitator, motivator, katalisator, motor of learnng process, dan evaluator). Dalam praktik, kedua aspek di atas tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan keselarasannya.
Faktor-faktor penentu keberhasilan pembelajaran BIPA di atas perlu dioptimalkan dan disertai berbagai inovasi dalam pembelajarannya, misalnya dengan pemanfaatan lagu-lagu dalam pembelajaran BIPA. Selain itu, hubungan baik dengan lembaga lain dalam pembelajaran BIPA juga perlu dilakukan. Hal inilah yang menjadi kajian dalam tulisan ini.
2. Profesionalisasi Pengajar BIPA
Lembaga pendidikan yang mengemban misi tugas dan tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan tenaga kependidikan yang profesional, pertama-tama dituntut untuk mampu memprofesionalkan dirinya dengan tidak mengurangi hak-hak otonominya. Lembaga pendidikan hendaknya memelihara tri-partit dengan para pengelola satuan/sistem pendidikan, organisasi profesional atau pun yang lainnya. Dalam suatu lembaga harus ada pengkajian dan pengembangan mengenai wawasan, nilai-nilai etik dan etika profesi, pranata sosial budaya, dan ilmu-ilmu yang relevan.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan bagi pengajar BIPA yang profesional. Ketiga hal tersebut meliputi: pertama, sikap. Guru BIPA harus mengembangkan minat terhadap bahasa dan budaya siswanya, sehingga dia akan termotivasi untuk terus belajar. Kedua, Pemahaman, guru BIPA harus memahami bahwa hal yang terpenting antarpenutur non-asli dan penutur asli yang belajar BIPA, mempersiapkan dirinya untuk berkomunikasi lintas budaya. Untuk itu, guru BIPA juga diharapkan dapat memahami bahwa kode linguistik hanyalah satu diantara sistem pesan yang digunakan dalam komunikasi. Ketiga, Keterampilan, Guru BIPA diharapkan mampu menemukan dan menggunakan analisis kontrastif guna membantu siswa dalam mengatasi masalah pembelajarannya. Ragam bahasa juga digunakan (Hamied, 2004:5).
Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam upaya profesionalisasi pengajaran BIPA. Pertama, fungsi dan signifikansi sosial. Program BIPA banyak ditawarkan diberbagai negara. Kedua, profesionalisasi BIPA akan terkokohkan dengan adanya lembaga pendidikan tenaga pengajar BIPA. Berbagai universitas dan lembaga pendidikan yang ada di Inonesia seperti UPI, UI, UGM, IALF, yang menawarkan pembelajaran BIPA dengan berbagai formatnya. Pengadaan sebuah program pendidikan bagi guru BIPA tidak hanya menyelenggarakan begitu saja, tetapi juga dituntut akuntabilitas dalam berbgai aspek termasuk kelembagaan dan proses pendidikan yang ditawarkan. Ketiga, dari segi disiplin ilmu profesionalisasi BIPA akan terkait erat dengan disiplin linguistik dan pedagogi yang tentu saja secara khusus berkaitan dengan bahasa Indonesia.


3. Usaha Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Indonesia Pebelajar Asing
Seorang guru harus selalu berinovasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk pebelajar asing. Hal ini bertujuan agar dihasilkan output yang memiliki kemampuan yang cukup memadai. Beberapa bentuk inovasi dan kegiatan yang dapat dilakukan akan diuraikan di bawah ini.
3.1 Pembelajaran BIPA melalui Lagu
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa proses pembelajaran bahasa merupakan suatu unit sistem yang bersifat kompleks karena di dalamnya terlibat ejumlah komponen yang saling berhubungan secra fungsional. Menurut Winkel (1989:79) komponen-komponen dalam proses pembelajaran meliputi: (1) tujuan pembelajaran, (2) kondisi asal (pembelajar, guru, dan lembaga/ program), (3) evaluasi, (4) proses belajar, (5) materi pembelajaran, prosedur didaktik, (7) media pembelajaran, dan (8) pengelompokan pebelajar.
Dalam pengajara bahasa, lagu adalah materi yang menarik minat sisa serta mudah diperoleh. Namun materi ini sering tidak siap pakai karena itu perlu disesuaikan dan dikembangkan sedemikian rupa untuk menjembani kesenjangan yang ada antara pengalaman yang menyenangkan dalam mendengarkan atau menyajikannya serta fungsi komunikatif bahasa tersebut.
Materi ajar yang berupa lagu banyak tersedia di pasaran yang pemanfaatannya bisa sebagai materi inti maupun sebagai materi tambahan. Dalam tema hiburan salah satu topik adalah musik dan lagu. Materi yang berupa lagu jika dikembangkan dengan baik akan membantu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dalam pengajaran BIPA sehingga tercipta proses belajar mengajar yang efektif (Wartini, 2004).
Seperti yang dikemukakan oleh Murphy (1992) bahwa lagu bisa dimanfaatkan seperti pemanfaatan bahan aar lainnya yang berupa teks. Bahan ajar lagu bisa digunakan untuk pengajaran keempat keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis serta komponen-komponen pengajaran bahasa yang lainnya seperti kosa kata, pelafalan, tata bahasa, penerjemahan dan budaya.
Menurut (Wartini, 2004) dalam proses belajar mengajar bahasa, lagu disajikan dalam tiga langkah kegiatan yang terdiri atas sebelum kegiatan, ketika kegiatan berlangsung, dan setelah kegiatan.
Langkah Sebelum Kegiatan, yaitu siswa menerka isi teks dengan membaca judulnya kemudian huruf atau kata-kata yang merupakan judul lagunya dilacak lalu siswa kembali merangkainya. Siswa membaca teks dan menghilangkan kata-kata tertentu guna membuat latihan atau tugas yang akan dilengkapi oleh siswa lain lalu sisa menggambarkan atau pun mendiskusikan gambar/foto yang berhubungan dengan topik. Setelah itu, siswa diajarkan kosakata yang mungkin muncul dalam teks lalu kata-kata dihilangkan dari teks. Selanjutnya siswa mengenali kata-kata yang hilang sebelum membaca atau mendengarkan teks lagu tersebut.
Langkah ketika kegiatan Berlangsung, yaitu kalimat-kalimat pada teks dipenggal lalu digabungkan kembali sesuai dengan urutannya. Setelah itu, siswa membaca atau mendengarkan teks untuk memastikan apa yang telah diterka pada tahapan sebelum kegiatan, kemudian siswa mengisi bagian teks yang kosong. Selanjutnya siswa mendengarkan atau membaca teks lagu, lalu menyusun gambar atau foto sesuai dengan urutannya yang benar. Siswa menjawab pertanyaan pilihan ganda atau pertanyaan pemahaman, kemudian mencari makna kata atau ungkapan yang dipakai pada teks. Siswa mendengarkan lagu lalu mencatat dan menemukan kesalahan yang sengaja dibuat pada teks. Setelah itu siswa menyusun kembali dengan jalan memilih kata yang benar dari daftar kata yang telah disediakan.
Langkah Setelah Kegiatan, yaitu siswa menulis percakapan antartokoh dalam lagu kemudian mewawancarai dan menulis surat kepada tokoh dalam lagu tersebut dan membuat pertanyaan berdasarkan lagu yang telah didengar. Selanjutnya, siswa menulis lirik lagu menurut versi mereka sendiri, menyanyikan lagu tersebut, dan memperbaiki pelafalan atau menulis ringkasan lagu tersebut.


3.2 Kerjasama Antar-Universitas dan Perusahaan
Kegiatan bidang pemasaran merupakan aspek penting dalam mempertahankan, melestarikan, dan mengembangkan suatu usaha. Pengembangan bidang pemasaran atau kerjasama dilakukan sebagai usaha untuk menjaring sisa untuk belajar BIPA dan agar penutur asing yang ingin belajar bahasa Indonesia dapat menemukan atau memilih program pengajaran BIPA. Menurut Weneng (1994:4), kegiatan pemasaran dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu (1) distribusi atau pembentukan jaringan, (2) produk (produk atau jasa), (3) harga atau dana, dan, (3) promosi (promosi atau strategi pemasaran). Untuk itu, ada tiga hal yang akan dikemukakan dalam pengembangan bidang pemasaran BIPA yaitu pembentukan jaringan, promosi (harga, produk, dan sarana), dan konsolidasi ke dalam.
3.2.1 Pembentukan Jaringan Pengajaan BIPA
Salah satu cara membentuk jaringan pengajaran BIPA adalah memasuki jaringan yang sudah ada. Misalnya, terbentuknya Asosiasi Pengajar BIPA di tingkat nasional pada tahun 1999 merupakan salah satu bentuk terjalinya kerjasama antarpara pengajar BIPA untuk selalu meningkatkan kinerja dan kompetensi pengajar BIPA (Sukartiningsih, 2004).
Melalui kerjasama antar-Universitas atau Perguruan Tinggi Lain
Bentuk kerjasama yang telah dilakukan oleh universitas atau perguruan tinggi dalam bidang-bidang tertentu baik di dalam maupun di luar negeri, bagian pemasaran BIPA dapat melakukan koordinasi dengan rektor atau pembantu rektor IV (jika ada). Koordinasi tersebut berbentuk kesepakatan untuk memasukkan pengajaran BIPA menjadi salah satu bidang jalinan kerjasama yang dibentuk universitas atau perguruan tinggi.
Ada pun langkah-langkah operasional yang akan dilakukan oleh pihak pengelola BIPA untuk melakukan kerjasama melalui jaringan antara universitas yaitu, (1) pengelola BIPA mengajukan usulan pemasukan kerjasama melalui jalinan kerjasama yang dilakukan oleh universitas atau perguruan tinggi dengan universitas atau perguruan tinggi lain kepada rektor dengan melampirkan program-program yang berisi program kelembagaan, akademik, dan pemasaran BIPA, (2) rektor menugasi pembantu rektor IV untuk melakukan koordinasi dengan pengelola BIPA yang bersangkutan, (3) Pembantu rektor IV kemudian melakukan koordinasi dengan pengelola BIPA tentang format dan teknis kerjasama yang akan dilakukan dengan universitas atau perguruan tinggi lain termasuk format dan teknis penyelenggaraan pengajaran BIPA, (4) dari hasil koordinasi tersebut, pihak pengelola menyerahkan skenario kerjasama kepada pembantu rektor IV, dan (5) selanjutnya, hasil kerjasama yang dapat dijalin dengan universitas atau perguruan tinggi lain kemudian disampaikan oleh pembantu rektor IV kepada pengelola BIPA (Sukartiningsih, 2004).
Melalui kerjasama antara Universitas dengan Instansi Lain atau Perusahaan
Jaringan kerjasama dalam pengajaran BIPA dapat juga dilakukan dengan instansi atau perusahan baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya perusahaan di luar negeri yang memasarkan produknya di Indonesia, perlu mengenal berbagai aspek kehidupan masyarakat di Indonesia.
Jaringan kerjasama yang sudah dilakukan oleh universitas atau perguruan tinggi dengan instansi atau perusahaan dapat merekrut mahasiswa lulusan universitas atau perguruan tinggi yang memiliki indeks prestasi tinggi di perusahaan rekanan dalam usaha untuk meningkatkan mutu para pekerja. Melalui kerjasama ini, pihak universitas atau perguruan tinggi akan melakukan koordinasi dengan rektor atau pembentu rektor IV yang berbentuk kesepakatan untuk memasukkan pengajaran BIPA sebagai salah satu bidang dalam jalinan kerjasama.
3.2.2 Promosi
Promosi merupakan bagian penting dalam kegiatan pemasaran. Oleh karena itu, tujuan promosi adalah untuk menarik perhatian dan mengajak audiens mengikuti program yang ditawarkan seperti tampilan fisik, bahasa, dan gambar. Bentuk-bentuk promosi dapat berupa lisan atau tulis, audio atau visual, atau gabungan ausiovisual. Ada beberapa bentuk promosi dalam pengajaran BIPA, seperti informasi melalui web site di internet, penyebaran brosur, pengiriman surat, dan pembuatan spanduk.
Internet merupakan salah satu promosi yang cukup efektif dalam pengajaran BIPA karena dengan membuka web site, mereka dapat memperoleh informasi dengan cepat baik kualitas pengajarnya maupun gambaran produk yang dihasilkannya. Promosi juga dapat dilakukan dengan mengirimkan surat dan brosur ke pada perguruan-perguruan tinggi maupun perusahan-perusahaan baik di dalam mapun di luar negeri ntuk mempromosikan pengajaran BIPA.
Faktor utama yang penting dalam pembiayaan BIPA khususnya promosi adalah aspek produk. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi calon pembelajar untuk mempelajari BIPA di lembaga yang bersangkautan. Untuk itu, hal-hal yang berkaitan seperti produk, untuk menghasilkan pembelajar BIPA harus menguasai keterampilan berbahasa Indoneisa baik lisan maupun tulisan yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. Untuk menghasilkan produk yang baik, sangat bergantung dari waktu belajar yang dipergunakan. Apakah itu satu minggu, dua minggu, ataukah satu bulan. Hal ini terkait dengan bidang akademik dan juga kurikulum yang berpatokan pada kompetensi dasar dalam pengajaran BIPA, karakteristik siswa, dan termasuk bahasa pertamanya. Untuk itu, dana, termasuk salah satu faktor penting yang harus dialokasikan untuk pengajaran BIPA dan juga disesuaikan dengan fasilitas yang diperole siswa misalnya laboratorium bahasa, penggunaan kaset dan CD, media gambar, maupun vidio. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai serta guru yang profesional, program pengajaran BIPA akan mengalami hambatan. Homestay atau asrama kampus, termasuk salah satu aspek yang perlu dipromosikan untuk menarik pembelajar BIPA. Homestay yang akan digunakan oleh siswa, terlebih dahulu harus ada kesepakatan sebagai wadah keluarga yang ikut mendukung kemapuan belajar bahasa Indonesia siswa. Disaping keramahan yang menjadi karakteristik bangsa Indonesia, homestay juga dapat menciptakan suasana yang nyaman dan bersahabat bagi siswa. Dalam kegiatan promosi, perlu dipikirkan strategi pemasaran yang akan dilakukan untuk menentukan jenis pelayanan akademik pembelajar, misalnya mahasiswa yang mempunyai minat tentang Indonesia/Asia, peneliti atau pekerja yang nantinya akan dikaitkan dengan karakteristik calon pembelajar.
3.2.3 Konsolidasi
Konsolidasi ke dalam yang dilakukan dalam kegiatan pemasaran perlu juga diinformasikan mengenai kurikulum, tenaga pengajar, dan fasilitas yang akan diperoleh pembelajar BIPA. Hal ini akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi calon pembelajar untuk memilih lembaga yang bersangkutan untuk meningkatkan kualitas dalam rangka memuaskan para pembelajar sekaligus sebagai tempat pembelajar dalam belajar BIPA.
Perlu dilakukan konsolidasi terhadap kurikulum atau program untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga dengan dapat mudah dipahami oleh siswa. Di samping itu, kualitas tenaga pengajar juga berpengaruh terhadap upaya peningkatan pelaksanaan program untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul dalam kegitan pembelajaran. Tenaga pengajar juga perlu memberikan penjelasan yang mudah dipahami termasuk bagaimana memanaje kelas sehingga komplain dari pembelajar dapat dihindari. Konsolidasi juga perlu dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan fasilitas terhadap pembelajar BIPA. Fasilitas yang diterima pembelajar BIPA adalah semua peralatan dan media pembelajaran baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak untuk mendukung kegiatan belajar siswa. Untuk itu, pembelajar BIPA juga perlu mendapatkan pelayanan yang baik dalam administrasi, sebab administrasi yang terlalu rumit, kurang ramah, dan menyulitkan pembelajar dapat menyebabkan pembelajar frustasi sehingga konsolidasi dengan para pegawai administrasi perlu dilakukan sehingga tidak menimbulkan proses administrasi yang berbelit-belit.









DAFTAR RUJUKAN


Degeng, I. S. 1989. Pandangan Behavioristik Versus Konstruktivistik. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran di IKIP Malang. Malang: Tidak diterbitkan.

Hamied, F. A. 2004. Profesionalisasi dalam Pengajaran BIPA. Makalah disajikan pada Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) di Universitas Negeri Makassar. Makassar: Tidak diterbitkan.

Muliastuti, L. 2004. Pengajaran BIPA Bersama Penyanyi Indonesia. Makalah disajikan pada Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) di Universitas Negeri Makassar. Makassar: Tidak diterbitkan.

Sukartiningsih, W. 2004. Pengembangan Bidang Pemasaran Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Makalah disajikan pada Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) di Universitas Negeri Makassar. Makassar: Tidak diterbitkan.

Tim. 1992. Music and Song. Oxford: Oxford University Press. Makalah disajikan pada Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) di Universitas Negeri Makassar. Makassar: Tidak diterbitkan.

Wartini, N. K. 2004. Penggunaan Lagu dalam Kelas BIPA. Makalah disajikan pada Konfrensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) di Universitas Negeri Makassar.: Makassar: Tidak diterbitkan.

Winkel, W.S. 1989. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.







Komentar :

ada 1
luky lukmansyah mengatakan...
pada hari 

Terima kasih banyak pak,
atas informasinya

Poskan Komentar