Tampilkan postingan dengan label Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saya. Tampilkan semua postingan

Imron Kecil 2

Imron Kecil 2

        Imron kecil memang hidup serba kekurangan. Sebagai pegawai rendahan, kedua orang tuaku menghidupi enam anaknya. Aku masih ingat ketika ibuku harus menyuruh hutang tetangga karena sudah tidak ada lagi yang dimakan. Tetapi, ayahku selalu menolak untuk berhutang. Kalau ini terjadi, sudah dapat dipastikan ada pertengkaran kecik kedua orang tuaku. Ayahku adalah orang yang takut berhutang, dan saat itu pulalah ibuku akan menangis. Akhirnya ibuku harus berjualan jajan rentengan untuk menambah penghasilan orang tuaku.
     Imron kecil selalu ingat ketika harus disuruh-suruh orang kampung untuk mendapatkan uang jajan. Imron yang tinggal di sidotopo Surabaya, kampung kecil di daerah pinggiran, tidak memiliki apa-apa selain tempat tinggal sederhana. Rumah yang terbuat dari diding sesek (anyaman bambu) ditempati delapan orang. Saya harus bisa hidup sesuai dengan kemampuan kedua orang tuaku. Imron kecil masih ingat ketika saya harus melihat ibuku yang sedang mencuci nasi basi agar bisa digoreng dengan garam. Nasi inilah yang bisa disantap adik dan kakakku.
        Imron kecil masih ingat ketika kedua orang tuaku mendidikku dengan disiplin dan keras. Aku harus mengaji dua kali dalam sehari, pukul 4 sebelum subuh aku harus ke mushollah, begitu juga sebelum Maghrib. Didikan orang tuaku itulah yang membuat aku bisa mengaji dan menjalankan semua perintah Allah. Ketika masuk usia sekolah, saya dimasukkan di SD negeri yang agak jauh dari rumah. Aku tidak mengerti mengapa hanya saya yang bersekolah agak jauh.
        Aku mulai bersekolah dengan berjalan kaki, sekita 30 menit baru bisa sampai. Aku ingat sepatu saya. Ibu bisa membelikan sepatu yang lebih besar dari ukuran kakiku. Aku yakin bukan karena nomor sepatuku tidak ada. Tapi aku yakin ada maksud dari kedua orang tuaku. Dengan ukuran yang relative lebih besar, ibuku tidak harus membelikan sepatuku setiap tahun. Ibuku selalu memberi gombal (bercak kain tidak terpai) di dalam bagian depan sepatuku agar sepatuku tidak terlepas ketika dipakai.
        Aku juga masih ingat ketika harus menyiapkan karet untuk kaos kakiku. Kaos kaki yang dibeli di pasar emperan tentunya tidak memiliki kualitas yang baik. Kaos kakiku selalu terpakai bertahun-tahun. Karet yang sudah longgar dapat diatasi dengan memberi karet gelang. Kaos yang sudah berlubang tidak membuat ibuku harus membelikan yang baru. Itu dilakukan agar senua anak-anaknya bisa bersekolah dan bisa makan, meskipun dengan makanan yang sangat sederhana.
        Kata-kata ibuku yang sampai sekarang sulit saya lupakan ketika makan adalah “im, jangan makan ikan banyak-banyak. Nanti kamu cacingan.” Aku nurut saja ketika ibuku harus memotong tahu menjadi empat untuk dibagikan ke anak-anaknya. Sisa lauk biasanya dimasukkan ke dalam almari yang dikunci. Saya juga masih ingat ketika adikku harus menyelipkan tahunya di bawah nasinya agar dapat tahu lagi. Tapi adikku yang satu ini sekarang juga sudah bergelar master dan menjadi widyaiswara di Depag Jatim. Meskipun saya tidak makan ikan banyak, tetap saja saya sering cacingan. Maaf, bahkan kadang keluar sendiri ketika saya harus buang air besar. Bersambung ………..

otobiografi

MASA KECILKU 1


            Aku mungkin tidak akan pernah tahu kalau aku dilahirkan pada 10 Juni 1966 kalau kedua orang tuaku tidak mencatatkannya dalam sebuah akta kelahiran. Aku juga mungkin tidak akan pernah tahu kalau masa kecilku penuh dengan kesengsaraan kalau ayah ibuku tidak memberitahuku. Semua yang aku tahu tentang diriku akan aku tulis dalam sebuah catatan bersambung dalam blog-ku ini.
            Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bernama Rusma (almarhumah), seorang ibu sederhana dari sebuah desa terpencil, yaitu pulau Bawean dengan seorang ayah bernama M.Hasan (almarhum) yang memiliki darah campuran Madura dengan Mojokerto. Ibuku seorang wanita yang hanya mengenyam bangku SR (Sekolah Rakyat) setingkat SD saat ini, sedangkan ayahku lulusan SMP. Meskipun ibuku hanyalah lulusan SR, beliau memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap pendidikan anak-anaknya.
            Hidup serba kekurangan tidak membuat kedua orang tuaku lupa menyekolahkan aku. Di masa kecilku, aku hidup dengan kedua kakakku dan seorang adik di sebuah rumah kos-kosan yang hanya memiliki satu ruang, sekitar 3 x 4 meter. Kos-kosan itu milik Omku yang hidupnya lebih beruntung dari kedua orang tuaku. Kos-kosan itu berada di jalan Bolodewo, Surabaya.
            Di tempat kos-kosan itu, Imron kecil yang sekarang bisa mengenyam pendidikan doktoral di Universitas Negeri Malang menjalani hidup serba kekurangan. Sampai-sampai aku dititipkan ke Bulik (adik ibu) di pulau Bawean karena aku sakit-sakitan (sakit kulit) dan bapak ibu tidak mampu mengobati. Di pulau Bawean aku dirawat nenek dan bulik dengan diberi minyak kayu yang dibakar serta lauk tokek dan cecak.
            Hidup serba kekurangan tidak membuat ibuku putus asa. Beliau merawat anak-anaknya, termasuk aku dengan cara membanting tulang, berjualan apa pun yang penting bisa mendatangkan uang. Aku masih ingat bagaimana cara ibuku mendulang (memberi makan adikku). Cukup dengan nasi putih yang agak kuning (nasi kopal/koperasi angkatan laut) ditambah dengan air di lepek, selanjutnya nasi diulek supaya halus. Ya ... hanya itu yang dapat orang tuaku berikan agar perut anaknya terisi, termasuk yang diperlakukan kepadaku. Bersambung .....

BIODATA PENULIS

        Imron Rosidi dilahirkan di Surabaya, 10 Juni 1966. Tahun 1988 berhasil menyelesaikan studinya di IKIP Surabaya program D3. Tahun itu pula penulis diangkat menjadi guru di SMA Negeri Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik selama 4 tahun. Pada tahun 1994, penulis melanjutkan studi S-1 di IKIP Malang dan pindah mengajar ke SMA Negeri 2 Pasuruan, tahun 2004 pindah ke SMKN 2 Pasuruan. 
        Tugas sebagai pembina Karya Tulis se kota Pasuruan masih dijalani. Saat ini dia juga aktif sebagai staf pengajar di STKIP kota Pasuruan. Pada tahun 1998, Imron melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang program S-2 dan pada tahun 2003, penulis melanjutkan studi program Doktor (S3) di universitas yang sama. Pada tahun 2006, dia berkesempatan berkunjung ke Amerika Serikat atas biaya Deplu AS.
        Imron Rosidi juga beberapa kali berhasil menjadi juara lomba karya tulis dan penyusunan buku tingkat nasional. Beberapa buku juga berhasil diterbitkan, misalnya ”Menulis karya Ilmiah” dengan penerbit Pusbuk dan ’Menulis, Siapa Takut?” dengan penerbit Kanisius. Buku-buku pelajaran SMP dan SMA juga telah disusun dan diterbitkan oleh penerbit Universitas Negeri Malang dan YA3 Malang. Dia juga aktif menulis artikel di beberapa majalah seperti Media LPMP Jatim dan Media serta jurnal perguruan tinggi.
        Selain mengajar di SMKN 2 Pasuruan, Imron masih menyempatkan diri mengajar di Pondok Pesantren Sidogiri dan Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan. Selain itu, dia juga dikenal sebagai Dewan Pendekar Perguruan Pencak Silat Pencak Organisasi (PO) kota Pasuruan. Imron juga pernah aktif di organisasi Dewan Kesenian dan Dewan Pendidikan kota Pasuruan.