kajian bahasa

PROSEDUR DAN TEKNIK EVALUASI
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASING


Oleh:Imron Rosidi


1. Pengantar
            Kegiatan evaluasi merupakan proses sistematis yang terdapat dalam dunia pendidikan dan pengajaran, termasuk pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing (selanjutnya disingkat BIPA). Hanya saja, dalam perkembangan BIPA di Indonesia belum didukung oleh tersedianya alat evaluasi yang memadai. Di samping itu, belum diketahui dengan pasti aspek-aspek bahasa Indonesia apa saja yang akan diukur dan bagaimana proporsi yang edial, serta komposisi yang tepat terhadap aspek-aspek tersebut.
            Widodo (1995:6) mengatakan bahwa pengajaran BIPA seringkali dihadapkan pada permasalahan evaluasi pembelajaran, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Dalam evaluasi proses pembelajaran, banyak hal yang berpengaruh terhadap kelangsungan proses belajar mengajar. Berkaitan dengan evaluasi hasil pembelajaran, permasalahan yang sering dihadapi oleh pengajar, antara lain: bentuk, jenis dan kualifikasi alat ukur yang digunakan. Kondisi seperti ini akan selalu dialami pengajar ketika melaksanakan tes penentuan level, baik untuk kepentingan placement tes, pre tes, maupun tes akhir program
Sehubungan dengan masalah tersebut di atas, dalam makalah ini akan dibahas: (1) tujuan orang asing belajar bahasa Indonesia, (2) aspek-aspek bahasa yang dipelajari, (3) evaluasi hasil belajar, dan (4) ranah evaluasi BIPA.

2. Tujuan Orang Asing Belajar Bahasa Indonesia
            Orang asing mempelajari BI dengan tujuan yang bermacam-macam, mulai dari sekadar berkomunikasi untuk keperluan sehari-hari, sepeti: berbicara dengan sopir, menawar barang, sampai dengan penguasaan BI yang bersifat resmi, seperti mengikuti kuliah, atau mengajarkan BI (Suyata,1998). Sebelum itu, Trim (1980) melaporkan ada dua alasan mengapa orang dewasa mempelajari bahasa asing. Pertama, alasan sosio-profesional, yaitu dengan menguasai bahasa asing, mereka menganggap bahwa kemampuan itu akan meningkatkan kualitas diri mereka atau mengubah status profesi mereka. Kedua, alasan sosio-kultural, yaitu dengan menguasai bahasa asing, mereka dapat mempelajari kebudayaan bahasa tersebut, dan dapat meningkatkan kedudukan mereka di mata masyarakat.
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga tujuan utama orang asing belajar BI, yaitu ingin menguasai keterampilan komunikasi antarpersonal dasar (basic interpersonal communication skills), menguasai konsep, serta prinsip-prinsip yang bersifat ilmiah (cognitive/academic language proficiency), dan menggali kebudayaan dengan segala aspeknya. Ketiga tujuan tersebut dapat bersifat sendiri-sendiri dan dapat pula berkelanjutan. Mereka belajar BI untuk keperluan praktis, bersifat ilmiah, dan belajar menguasai kebudayaan.

3. Aspek-aspek Bahasa yang Dipelajari
            Pada dasarnya, tujuan orang belajar bahasa agar pebelajar terampil berbahasa. Komunikasi berjalan baik jika pebelajar terampil menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Agar terampil dalam keempat keterampilan berbahasa tersebut, mereka perlu menguasai hal-hal yang berkaitan dengan aspek kebahasaan, seperti: fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
            Canale dan Swaim (1980) menyebut aspek-aspek kompetensi komunikasi mencakup: (1) gramatikal, (2) wacana, (3) sosiolinguistik, dan (4) strategi. Hadley (1993) menambahkan penguasaan akan kompetensi tersebut bergantung pada penguasaan (5) konteks dan situasi. Pemakai bahasa yang telah memiliki kompetensi komunikatif akan mengetahui bagaimana memilih ragam dan gaya yang sesuai dengan situasi dan tempat terjadinya komunikasi.
            Bahasa sehari-hari untuk kepentingan praktis digunakan dalam situasi tidak formal. Dengan demikian, bentuk bahasa yang sesuai bercirikan ketidakformalan, seperti: (1) kalimatnya sederhana atau bahkan tidak lengkap, (2) kosa kata tidak baku, (3) bentuk kata tidak formal, dan (4) imbuhan dan kata tugas hilang. Untuk situasi formal, bentuk bahasa yang sesuai bercirikan keformalan, seperti (1) kosa kata baku, (2) imbuhan dan kata tugas lengkap, (3) susunan kalimat baku, dan (4) unsur-unsurnya lengkap

4. Evaluasi Hasil Belajar
            Evaluasi dalam pengertian luas dapat diartikan sebagai suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi atau data yang diperlukan sebagai dasar untuk membuat alternatif keputusan. Dengan demikian, setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data (Purwanto, 1992). Informasi atau data yang dikumpulkan haruslah mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan.
            Dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran, Gronlund (1976) merumuskan pengertian evaluasi sebagai suatu proses sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan tentang ketercapai tujuan pengajaran. Wrighstone (dalam Purwanto, 1992) mengemukakan bahwa evaluasi ialah penafsiran terhadap pertum-buhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
            Mengenai hubungan antara evaluasi dengan pengajaran, disebutkan oleh Parnel (Purwanto, 1984) bahwa pengukuran merupakan langkah awal pengajaran. Tanpa pengukuran tidak akan terjadi penilaian. Tanpa penilaian tidak akan terjadi umpan balik. Tanpa umpan balik tidak akan diperoleh pengetahuan yang baik tentang hasil. Tanpa pengetahuan tentang hasil tidak dapat terjadi perbaikan yang sistematis dalam belajar.
            Melalui evaluasi, seorang pengajar dapat (1) mengetahui apakah pebelajar mampu menguasai materi yang telah diajarkan, (2) apakah mereka bersikap sebagaimana yang diharapkan, (3) apakah mereka telah memiliki keterampilan berbahasa, (4) mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, dan (5) menentukan kebijakan selanjutnya.
            Tujuan pengajaran BI meliputi ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Oleh sebab itu, model evaluasi yang diterapkan juga mengacu ketiga ranah tersebut. Bila tidak demikian, pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dari pebelajar tidak dapat diketahui dengan pasti. Padahal, kepastian hasil evaluasi inilah yang dijadikan titik tolak untuk menentukan kebijakan selanjutnya.
            Bentuk alat ukur evaluasi dapat berupa tes dan nontes. Bentuk alat ukur yang berupa tes dapat digunakan untuk menguji kompetensi (1) struktur dan ekspresi tulis, (2) kosakata dan membaca, serta (3) menyimak. Ujian menyimak biasanya merupa-kan ujian yang berat bagi pebelajar. Mereka sering cemas dan tegang sebelum atau pada waktu ujian dilaksanakan. Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan itu dapat dimaksudkan selingan musik instrumentalia di sela-sela naskah ujian. Nontes digunakan untuk menguji kompetensi (1) berbicara dan (2) menulis dengan bentuk penugasan. Melalui pengamatan, pengukuran kompetensi berbicara dan menulis dila-kukan. Untuk melakukan penskoran digunakan lembar pengamatan yang dilengkapi skala berjenjang.

4.1 Tujuan Tes Bahasa
            Tes adalah alat, prosedur evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan testee dengan menggunakan pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau dikerjakan. Tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, misalnya: tes seleksi, tes masuk, tes penempatan, tes diagnostik, tes keberhasilan, tes perkembangan, tes hasil prestasi belajar, dan tes penguasaan.
            Tes bahasa sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena tes dapat memonitor keberhasilan, baik pembelajar maupun pebelajar dalam mencapai tujuannya. Bagi pebelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar hasil yang telah dicapai, yaitu kemampuan yang telah diperoleh, sedangkan bagi pembelajar, tes dapat digunakan untuk mengetahui keefektivan pendekatan, metode, teknik, serta fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaaran.
            Pada dasarnya, tes dilakukan untuk keuntungan kedua belah pihak, yaitu pembelajar dan pebelajar. Tujuan tes ialah untuk menjajaki seberapa besar kemam-puan pembelajar dalam menyampaikan materi kepada pebelajar dan bagi pebelajar sebagai penjajagan seberapa banyak materi yang mampu mereka serap selama proses pembelajaran. Dari hasil tes, pembelajar/penyusun silabus dapat mengubah/ memperbaiki silabus, metode, dan media. Tes merupakan pengumpul informasi (Zuhud,1995:10).
            Tidak terlepas dari kepentingan tes dalam belajar-mengajar bahasa, menurut Harris (1967:2-4) tes bahasa mempunyai enam tujuan yang berhubungan dan tidak saling mengecualikan, yaitu: (1) untuk menentukan kesiapan pebelajar menerima suatu program pelajaran, (2) untuk mengelompokkan atau menempatkan pebelajar pada kelas yang tepat, (3) untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan khusus individu yang dites, (4) untuk mengukur bakat belajar, (5) untuk mengukur luas pencapaian tujuan belajar pada pebelajar, dan (6) untuk menilai keefektivan pelajaran.
            Secara ringkas, enam butir itu digolongkan menjadi tes kemampuan umum atau general profiency (1-3), tes bakat atau aptitude, (4) dan tes prestasi atau achievement (5 dan 6). Tes kemampuan umum digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang pada waktu dites (sebagai hasil keseluruhan belajarnya), yang dapat juga digunakan sebagai dasar untuk meramalkan kecakapan yang mungkin dicapai selanjutnya. Tes bakat menunjukkan kemudahan individu untuk memperoleh kerterampilan khusus dan kemudahan mempelajari sesuatu. Tes prestasi menunjuk-kan luasnya keterampilanmdan pengetahuan individu yang diperoleh dalam belajar secara formal.
            Tujuan tes bahasa asing, seperti TOEFL (Tes of English as aforeign Language) dapat dimasukkan ke dalam golongan tes kemampuan umum sebab biasanya TOEFL dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam berbahasa Inggris secara umum, bukan kemampuan hasil program pendidikan tertentu. Seperi dikatakan oleh Hughes (1989:9), tes kemampuan dirancang untuk mengukur kecakapan seseorang dalam suatu bahasa tanpa memandang latihan apapun yang telah dilakukannya dalam bahasa itu. Tes bahasa Indonesia untuk pelajar asing di sini, juga dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan orang asing dalam berbahasa Indonesia secara umum . Tes ini dapat disebut TBIPA (Tes Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).

4.2 Jenis Tes Bahasa
            Secara umum, jenis pelaksanaan tes mencakup: tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan . Dalam tes tertulis dapat digunakan soal-soal berbentuk esai, objektif, atau gabungan dari keduanya. Tes lisan digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar dalam bentuk kemampuan mengemukakan ide-ide dan pendapat-pendapat secara lisan. Sebagai alat evaluasi belajar, soal-soal tes lisan pada dasarnya berbentuk esai (subino, 1989:1-7).
            Baik soal berbentuk esai maupun objektif mempunyai kelebihan dan keku-rangan. Namun, menurut subino, soal tes bentuk esai lebih tepat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang bersikap kompleks; soal tes objektif tepat digunakan untuk mengevalusi hasil belajar berupa kemampuan: mengingat dan mengenal kembali fakta-fakta, memahami hubungan antara dua hal atau lebih, dan mengaplikasikan prinsip-prinsip.
            Ketiga bentuk tes besarta bentuk soalnya itu dapat dilaksanakan untuk tes bahasa. Babarapa ahli memasukkan tes esai dan tes objekti ke dalam teknis pelaksanaan tes. Lado (1961:32-36) menyebutkan lima macam tipe tes berkaitan dengan teknis pelaksanaan tes bahasa, yaitu terjemahan (translation), esai (essay). Dikte (dictation), tes objektif (objective test), dan tes kemampuan mendengarkan (auditory comprehension tests). Harris (1969:4-8) mengemukakan enam macam wacana yang dinilai (scored interview), pilihan berganda (multiple-choiceitems), dan jawaban pendek (short-answer items).
            Agak berbeda dengan Lado dan Harris, Hughes mengemukakam macam-macam teknis pengetesan dengan pasangan kontras, yaitu pengetesan langsung dan tidak langsung (direct versus indirecttesting), pengetesan dengan butir terpisah dan terpadu (discrete point versus integrative testing), pengetesan dengan acuan norma dan acuan kriteria (norm-referenced versus subjective testing), dan pengetesan bahasa yang komunikatif (communicative language testing). Pengetesan dikatakan langsung apabila pengetesan itu menuntut calon untuk mempertunjukkan dengan tepat kete-rampilan yang hendak diukur. Pengetesan langsung lebih mudah dilaksanakan untuk mengukur keterampilan pruduktif, berbicara, dan menulis. Pengetesan tidak langsung dimaksudkan untuk mengukur kemampuan yang mendasari keterampilan yang hendak diperhatikan. Pengetesan dengan butir terpisah merujuk kepada pengetesan salah satu unsur pada suatu waktu, butir demi butir. Pengetesan terpadu, sebaliknya menuntut calon untuk menggabungkan beberapa unsur bahasa dalam menyelesaikan suatu tugas (Hughes,1989:14-19).

5. Ranah Evaluasi BIPA
            Terdapat tiga jenis ranah evaluasi BIPA, yaitu (1) evaluasi ranah pengetahuan bahasa, (2) evaluasi ranah sikap, (3) ranah evakuasi keterampilan berbahasa.

5.1 Evaluasi Ranah Pengetahuan Bahasa
            Pengetahuan kebahasaan antara lain meliputi: masalah struktur (fonologi, morfologi, sintaksis), semantik, kosa kata, ejaan, dan lain-lain. Penguasaan pengetahuan (kompetensi) kebahasaan ini pada akhirnya akan mencerminkan perilaku berbahasa pebelajar. Dengan kata lain, keterampilan pebelajar bahasa target sangat ditentukan oleh pengetahuannya terhadap bahasa target yang dipelajarinya.
            Ranah pengetahuan beerkenaan dengan hasil belajar intelektual. Evaluasi ranah pengetahuan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pebelajar menguasai teori-teori kebahasaan yang dipelajarinya. Ranah pengetahuan dapat diujikan dengan mengadakan (1) tes pengetahuan, (2) wawancara, dan (3) observasi. Nilai tes ditentukan oleh seberapa jauh pebelajar dapar menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Semakin banyak pebelajar menjawab dengan benar, semakin baiklah penge-tahuan bahasanya. Tes bahasa tersebut yang meliputi: tes bunyi bahasa, tes kosa kata, dan tes tatabahasa (struktur).

5.1.1 Tes Bunyi Bahasa
            Tes bunyi bahasa pada umumnya lebih banyak dilakukan pada penyeleng-garaan pengajaran bahasa sebagai asing daripada bahasa pertama atau bahasa kedua (Djiwandono, 1996). Tes bunyi bahasa merupakan tes untuk menilai ketepatan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dan mengidentifikasi bunyi-bunyi yang didengar atau diperdengarkan. Penguasaan bunyi bahasa merupakan salah satu tujuan pengajaran yang sangat penting.
            Sasaran tes bunyi bahasa untuk BIPA secara umum meliputi penguasaan seluruh sistem bunyi bahasa, baik secara pasif-reseptif (mengenal dan memahami), maupun secara aktif-produktif (melafalkan dan menggunakan), termasuk penguasan tekanan dan intonasi. Dengan demikian, tes bunyi bahasa meliputi tiga kemampuan dasar, yaitu: (1) kemampuan merekognisi dan melafalkan perbedaan bunyi bahasa, (2) kemampuan merekognisi dan menggunakan pola penekanan bunyi bahasa, dan (3) kemampuan mendengarkan dan memproduksi pola dinamik bunyi bahasa.
            Pengembangan alat tes bunyi bahasa perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu: pertama, tekanan bunyi dalam bahasa Indonesia tidak membedakan arti; kedua, belum ada ucapan baku dan banyaknya variasi ucapan dalam bahasa Indonesia juga tidak membedakan arti; dan ketiga, tes ucapan produktif harus dilaksanakan secara individual yang tentu akan membutuhkan waktu dan tenaga.
            Beberapa bentuk dan jenis butir tes bunyi bahasa antara lain: (1) membedakan bunyi bahasa (teras – teras), (2) melafalkan fonem-fonem, (3) melafalkan kata dan pasangan kata, dan (4) melafalkan rangkaian kata dan kalimat.

5.1.2 Tes Kosakata
            Tes kosakata bertujuan untuk mengukur pengetahuan dan produksi kata-kata yang dugunakan dalam berbicara dan menulis. Menurut Harris (1969:48), yang mula-mula harus diterapkan adalah apakah kosakata yang akan diteskan itu kosakata aktif atau pasif, yaitu kata-kata yang akan digunakan dalam berbicara dan menulis yang akan digunakan khusus untuk memahami bacaan. Kamus dapat digunakan dalam memilih kata-kata yang akan diteskan, tetapi pada umumnya digunakan daftar kata yang dibuat berdasarkan frekuensi pemakaiannya secara nyata.
            Pengetahuan tentang kosakata merupakan hal yang sangat penting untuk mengembangkan dan menunjukkan keterampilan berbahasa mendengarkan, memba-ca, dan menulis. Namun, hal itu tidak selamanya berarti bahwa kosakata harus diteskan secara terpisah (Hughes, 1989:146). Tes kosakata dapat dilakukan tersendiri, dapat juga dilakukan secara terpadu dengan keterampilan itu. Dalam hal ini, perlu diperhatikan perbedaan antara kemampuan produktif (berbicara dan menulis) dan kemampuan resepsi (mendengarkan dan membaca).
            Tes kosakata umumnya menggunakan soal bentuk objektif pilihan ganda, tetapi ada pula bentuk isian. Bentuk tes kosa kata antara lain: sinonim, antonim, memperagakan, mencari padanannya, definisi atau parafrase, melengkapi kalimat, dan gambar. Untuk tes kosakata ini, Harris (1969:54-57) memberi saran: (1) definisi menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dipahami; (2) semua alternatif jawaban memiliki tingkat kesukaran yang lebih kurang sama; (3) kalau mungkin, semua pilihan berhubungan dengan bidang atau kegiatan yang sama; (4) panjang pilihan jawaban lebih kurang sama; dan (5) butir soal harus bebas dari kesalahan ejaan.

5.1.3 Tes Struktural (Tata bahasa)
            Tatabahasa (sintaksis) merupakan bagian yang berkaitan dengan penataan rangkaian kata-kata dalam suatu hubungan yang bersifat prediktif sehingga menghasilkan kalimat yang gramatikal. Selain penataan kata dalam rangkaian kata-kata, tata bahasa juga berkaitan dengan perubahan bentuk kata akibat lingkungan yang dimasuki kata-kata itu dalam rangkaiannya. Akibatnya, kata-kata itu tersusun dalam bentuk frasa ataupun kalimat. Jadi, tatabahasa tidak hanya berurusan dengan merangkaikan kata-kata, melainkan juga perubahan bentuk kata dan penataan dalam bentuk frasa atau kalimat.
Tes mengenai pengetauan tentang tata bahasa sangat penting seperti halnya tentang kosakata sebab semua kegiatan berbahasa melibatkan kedua komponen itu. Pengajaran bahasa, apapun pendekatan dan metodenya selalu mengajarkan kedua komponen itu. Seperi dikatakan oleh Hughes (1989:141-142), rupanya tidak mungkin ada lembaga pengajaran yang tidak mengajarkan tata bahasa secara tersamar atau dengan cara lain. Kelemahan dalam kemampuan gramatikal akan mengurangi pencapaian penampilan keterampilan berbahasa, terutama keterampilan produktif.
            Tes tatabahasa dapat dibedakan atas (1) tes bentuk kata, (2) tes pembentukan frasa, (3) tes makna frasa, dan (4) tes pembentukan kalimat. Penentuan format tes didasarkan pada tujuan, keluasan materi, waktu, serta tingkat kemampuan yang dimiliki pebelajar. Adapun bentuk tes tatabahasa dapat disusun dalam bentuk esai, pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban pendek.

5.2 Evaluasi Ranah Sikap Berbahasa
Ranah sikap merupakan ranah yang berkaitan dengan pandangan, pikiran, dan perasaan penutur asing terhadap bahasa target (Indonesia) yang dipelajarinya. Ranah ini mencakup aspek penerimaan, reaksi, dan penilaian. Ketiga aspek ini saling berkaitan. Aspek penerimaan berkaitan dengan kepekaan pembelajaran dalam menerima segala rangsangan bahasa terget yang dipelajari. Tingkat ketanggapan dan keterpahaman ini berpengaruh terhadap aspek reaksi dan aspek penilaian. Aspek reaksi berkaitan dengan tanggapan yang diberikan pebelajar terhadap rangsangan kebahasaan. Tanggapan tersebut berupa penguatan, perbaikan, dan pengarahan. Aspek penilaian berkaitan dengan evaluasi terhadap penerimaan dan tanggapan kebahasaan.
            Evaluasi terhadap ranah sikap berbahasa ini dimaksudkan agar penilai menge-tahui: (1) pandangan, pikiran, dan perasaan pebelajar, (2) perilaku pebelajar, (3) ketanggapan terhadap gejala bahasa; dan (4) sejauh mana pebelajar mampu menilai setiap masalah bahasa terget yang ditemuinya. Teknik evaluasi yang dapat dilakukan berupa: (1) pengungkapan, (2) pangamatan, dan (3) penilaian. Baik buruknya pandangan pebelajaran terhadap bahasa terget ditentukan dari kemampuannya menyelesaikan tes, hasil observasi, wawancara, dan hasil angketnya. Semakin baik pengungkapan, penerimaan dan reaksi pembelajar, semakin positiflah sikap mereka terhadap bahasa target yang dipelajarinya, demikian juga sebaliknya.

5.3 Evaluasi Ranah Keterampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa merupakan kiat menggunakan setiap aspek kebaha-saan dalam setiap perilaku berbahasa. Keterampilan berbahasa mencakup menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keterampilan menyimak termasuk keterampilan reseptif, sedangkan berbicara dan menulis termasuk keterampilan produktif.

5.3.1 Evaluasi Keterampilan Menyimak
            Menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang pertama kali dikuasai anak sebelum menguasaai keterampilan berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menyimak pada hakikatnya lebih bersifat kognitif dengan aspek yang lebih tinggi. Kemampuan ini mencakup menerima, menganalisis, memahami, dan menyimpulkan informasi lisan yang disampaikan dalam bahasa target.
            Teknik evaluasi yang dapat dilakukan dipaparkan berikut.
1) Menyebutkan/menuliskan   kembali suatu informasi sederhana (fonem, nama sesuatu,     jumlah, keadaan sesuatu, peristiwa, dan lain-lain)
2) Menyebutkan/menuliskan   kembali  deskripsi  atau  uraian  suatu peristiwa, benda,     keadaan, sebab akibat, dan lain-lain.
3) Menyebutkan/menuliskan kembali suatu hal (kelahiran, pengalaman kawan-kawan, dan     lain-lain).
4) Menyebutkan/menuliskan kembali suatu cerita.
5) Menyimpulkan suatu percakapan.
6) Menjawab suat pertanyaan dari suatu soal (objektif, esai berstuktural, atau esai bebas).
7) Menyimpulkan tema dan unsur-unsur lainnya dari sebuah cerita.
8) Memperbaiki ucapan-ucapan yang salah yang tidak sesuai dengan bahasa tatget.

Tes Menyimak
            Tes menyimak adalah tes yang tidak hanya untuk mengetahui apakah seseorang mendengarkan atau tidak, tetapi juga untuk mengukur kemampuan seseorang memahami bahasa lisan yang didengarnya. Sampel yang disimakkan dalam tes ini dapat berupa satu kalimat perintah, pertanyaan, atau pernyataan tentang fakta; juga berupa simulasi percakapan singkat atau uraian wacana ekspositori. Namun, apapun hakikat sampel itu, peserta tes (subjek) dituntut secara serentak (simultan) menanggapi ”sinyal” fonolofis, gramatikal, dan leksikal; dengan jawaban mereka menunjukkan sejauh mana mereka dapat menangkap makna dari unsur yang disinyalkan bila digunakan dalam komunikasi verbal (Harris,1969;35).
            Tes menyimak dapat disesuaikan dengan tingkatannya, yaitu tes menyimak tingkat marjinal atau deskriptif, tes menyimak tingkat apresiatif, tes menyimak tingkat komprehensif, tes menyimak tingkat kritis, dan tes menyimak tingkat terapis. Tes menyimak tingkat marjinal bertujuan untuk mengetahui tingkat kepekaan pebelajar dalam membedakan suara dan untuk mengembangkan kepekaan pada komunikasi nonverbal. Tes menyimak apresiatif bertujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan pebelajar dalam menangkap dan memehami bahan simakan yang berhubungan dengan perasaan dan emosi sehingga dalam pelaksanaannya, pebelajar diberi bahan simakan yang bersifat menyenangkan,misalnya: drama, puisi, lagu, cerita, dan sebagainya.
            Tes menyimak komprehensif bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman pebelajar terhadap pesan yang disimak. Tes menyimak kritis bertujuan untuk mengetahui pemahaman pebelajar terhadap bahan simakan yang dilanjutkan dengan memberi evaluasi, sedangkan tes menyimak terapis bertujuan untuk menyembuhkan seseorang, yang biasa dilakukan oleh seorang psikolog.

5.3.2 Evaluasi Keterampilan Membaca
            Evaluasi keterampilan membaca dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan pebelajar (1) memahami informasi, (2) menerima, mengklafikasi, menganalisis, dan menyimpulkan informasi, (3) ketepatan lafal dan intonasi ketika membaca tes dalam bahasa target.
Teknik evaluasi yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan membaca dipaparkan berikut.
1. Membaca dengan lafal dan intonasi yang tepat
2. Menjawab pertanyaan-pertanyaan
3. Menyimpulkan tema dan unsur-unsur lainnya dari cerita yang dibaca
4. Mengindentifikasi, mengklasifiksi, dan menyimpulkan bahan bacaan
5. Menentukan kata sulit, umum, dan khusus, homonim, homofon, hiponim, sinonim, dan     antonim.
6. Melengkapi bagian-bagian tertentu dari bacaan yang sengaja dihilangkan (teknik klose)
7. Menyusun kembali rangkaian informasi yang kurang tepat dari suatu bacaan dalam     bahasa target

Tes Membaca
            Kegiatan membaca ada bermacam-macan di antaranya membaca cepat, membaca sekilas, membaca keras, dan membaca pemahaman. Pembedaan jenis membaca itu dapat didasarkan atas tujuannya atau teknisnya. Dalam tulisan ini, membaca yang dimaksud adalah membaca pemahaman, atau membaca untuk memahami isi bacaan.
            Tes membaca memerlukan teks. Untuk memilih teks Hughes (1989;119-120) memberikan nasihat sebagai berikut:
1. Ingatlah selalu spesifikasinya dan cobalah memilih sampel yang representatif dan jangan     mengulangi memilih teks yang semacam hanya karena tersedia;
2. Pilihlah teks yang panjangnya sesuai;
3. Agar mendapatkan  reliabilitas yang  dapat diterima,  masukkan  kutipan sebanyak     mungkin dalam tes itu;
4. Untuk tes membaca sekilas,  carilah  kutipan yang mengandung  banyak informasi     terpisah;
5. Pilihlah teks yang menarik bagi peserta, tetapi yang tidak terlalu mengagumkan atau     mengganggu mereka;
6. Hindari teks yang merupakan informasi yang mungkin bagian dari pengetahuan umum     calon;
7. Anggaplah bahwa hanya kemampuan membaca yang akan dites, jangan memilih teks     yang terlalu bermuatan budaya; dan
8. Jangan menggunakan teks yang telah dibaca oleh siswa.
            Bentuk tes membaca pemahaman meliputi; (1) tes membaca pemahaman literal, (2) tes membaca pemahaman interpretatif, dan (3) tes pemahaman membaca kritis.

5.3.3 Evaluasi Keterampilan Berbicara
            Keterampilan berbicara sangat komplek karena tidak hanya menuntut pemahaman terhadap masalah yang akan diinformasikan, tetapi juga menuntut kemampuan menggunakan perangkat kebahasaan dan nonkebahasaan. Evaluasi keterampilan berbicara dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan pebelajar dalam menggunakan bahasa target secara lisan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan keberadaannya.
            Teknik evaluasi yang dapat digunakan dipaparkan berikut.
1. Mengucapkan huruf, nama, keadaan dalam bahasa target.
2. Menceritakan kembali dialog, cerita, peristiwa yang didengar atau yang dibaca.
3. Menceritakan gambar.
4. Melakukan wawancara.
5. Menyampaikan pengalaman, peristiwa, ilmu pengetahuan seecara lisan.
6. Menjawab pertanyaan sederhana dan komplek.
7. Bermain peran.

Tes Berbicara
            Baik Harris (1969), Halim (1982), maupun Madsen (1983) menyatakan bahwa tes berbicara umumnya dianggap tes yang paling sukar. Salah satu sebabnya adalah bahwa hakikat keterampilan berbicara itu sendiri sukar didefinisikan. Pengalaman dalam kenyataan menunjukkan bahwa ada orang yang disebut pendiam, ada juga yang banyak bicara, tetapi kalau berbicara, kualitasnya ditinjau dari segi pilihan kata, tata bahasa, dan penalarannya, orang yang termasuk banyak bicara tadi belum tentu lebih baik. Orang yang pandai atau berpendidikan tinggi juga belum tentu pembicara-annya lancar dan mudah dipahami.
            Tes berbicara dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya tes jawaban terbatas, teknik terbimbing, dan wawancara (Madsen,1983:12) tentu saja semua itu dilaksanakan secara lisan dan individual. Namun, menurut Halim (1974;136) dan Harris dapat juga tes berbicara dilaksanakan secara tertulis dengan bentuk objektif yang dapat menunjukkan bukti-bukti tidak langsung mengenai kemampuan bebicara seseorang. Hanya saja, tes bentuk ini kurang valid.
            Nurgiyanto (1995) membagi tes berbicara berdasarkan kriteria, yaitu (1) kriteria penyelenggaraannya, dan (2) kriteria tingkatan yang dites. Berdasarkan kriteria penyelenggaraannya, tes berbicara dibedakan menjadi dua, yakni: (a) tes berbicara secara terkendali, dan (b) tes berbicara bebas. Berdasarkan kriteria tingkatan yang dites, tes berbicara dibedakan menjadi tiga, yakni: (a) tes berbicara tingkat ingatan, (b) tes berbicara tingkat pemahaman, dan (c) tes berbicara tingkat peneraapan.

5.3.4 Evaluasi Keterampilan Menulis
            Keterampilan menulis merupakan kiat menggunakan pola-pola lisan dalam menyampaikan suatu informasi. Dalam menulis, orang tidak hanya dituntut menguasai materi yang akan ditulis, tetapi juga mempu menggunakan perangkat kebahasaan secara tertulis. Penggunaan perangkat kebahasaan secara tertulis menjadi inti kegiatan menulis sebab penggunaan perangkat bahasa tulis berbeda dengan penggunaan perangkat kebahasaan secara lisan.
            Evaluasi keterampilan menulis bertujuan mengetahui kemampuan pebelajar dalam menyampikan ide, perasaan, dan pikirannya, serta menggunakan perangkat bahasa target secara tulis.
            Teknik evaluasi yang dapat digunakan dipaparkan berikut.
1. Menulis huruf,  nama, peristiwa, dan keadaan yang diperdengarkan, diperlihatkan, dan     bicara.
2. Menyampaikan kembali secara tertulis suatu cerita, dialog, peristiwa yang didengar atau     dibaca.
3. Menuliskan cerita berdasarkan gambar atau rangkaian gambar.
4. Melaporkan pengalaman, peristiwa, pekerjaan, atau perjalanan secara tulis.
5. Menjawab pertanyaan sederhana atau komplek secara tulis.
6. Membuat karangan berdasarkan tema tertentu.
7. Menggunakan ejaan dan tanda baca secara tetap.

Tes Menulis
            Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang melibatkan berbagai kemampuan dan keterampilan secara terpadu. Tujuan pembelajaran menulis dapat dibedakan menjadi dua, yakni: (1) siswa mampu mengungkapkan unsur-unsur kebahasaan, seperti ejaan, kosakata, struktur kalimat, dan pemakaian paragraph, dan (2) siswa mampu mengungkapkan gagasannya dalam bentuk tulisan yang sesuai dengan konteks (pragmatik).
            Tes kemampuan menulis juga ada beberapa macam. Hal ini disamping disebabkan oleh adanya tahapan dalam pengajaran menulis, juga karena ada banyak faktor yang dapat dinilai, seperti mekanis, kosakata, tata bahasa, ketetapan isi, diksi, retorika, logika, dan gaya (Madsen, 1983:101). Tompkins (dalam Ramli, 1998) mengatakan bahwa tes menulis dapat disikapi dalam dua aspek, yakni sebagai tes proses (tes menulis sebagai proses) dan tes produk (tes menulis sebagai produk). Oleh karena itu disarankan agar tes menggunakan postofolio, yaitu koleksi segala dokumentasi dan aktivitas siswa yang menunjukkan usaha, kemajuan, dan pencapaian siswa dalam satu atau beberapa bidang tertentu yang dapat digunakan sebagai alternatif atau pelengkap kegiatan tes.
            Cara langsung untuk mengukur kemampuan menulis seseorang adalah dengan menyuruh seseorang itu menulis. Akan tetepi, tes bentuk esai ini banyak kelemahannya. Di samping itu, kemampuan menulis juga dapat diukur dengan tes objektif. Baik tes bentuk esai maupun bentuk objektif mempunyai kelebihan dan kekurangan. Apalagi jumlah peserta tes besar jumlahnya, tes objektif akan lebih baik.

DAFTAR RUJUKAN

Djiwandono, M.S. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. ITB: Bandung.

Gani, E. 2000. Pemberdayaan Pengajaran BIPA. Makalah Proseding Konferensi Bahasa             Indonesia Bagi Penutur Asing (KIPBIPA) III, pada tanggal 11-13 Oktober 1999 di             Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Karmin, Y. 2000. Pengembangan Tes BIPA. Makalah Prosiding Konferensi Bahasa             Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) III, pada tanggal 11-13 Oktober 1999 di             Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Ramli, M. 1988. Portofolio dalam Evaluasi dan Pembelajaran. Makalah yang             disampaikan dalam seminar Assesmen Portofolio, Malang, 29 April 1988.

Suyata, P. 2000. Model Alat Ukur Evaluasi BIPA. Makalah Prosiding Konferensi Bahasa             Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA) III, pada tanggal 11-13 Oktober 1999 di             Kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Widodo, H.S. 1995. Tenaga Pengajar: Sosok dan Problematikanya dalam             Penyelenggaraan Program Pembelajaran bahasa Indonesia bagi Penutur Asing.             Makalah yang disampaikan dalam Kongres Internasional BIPA pada tanggal 28-30             Agustus 1995 di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

Zuhud, D. A. 1995. Faktor-faktor Kondusif dalam Mempersiapkan Silabus dan Materi             Proses Belajar Mengajar bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Makalah yang             disampaikan dalam Kongres Internasional di Fakultas Sastra Universitas             Indonesia, Jakarta, 28-30 Agustus 1995.

Komentar :

ada 4 komentar ke “kajian bahasa”
Anonim mengatakan...
pada hari 

Biasanya tes ini digunakan bagi orang asing yang ingin menetap di Indonesia, entah hanya sementara ataupun selamanya.
hal ini tidak terlalu penting bagi orang Indonesia sendiri.
TERIMA KASIH KEPADA BPK IMRON, DENGAN INI SAYA TAHU PENTINGNYA BAHASA INDONESIA.
Saya juga jadi lebih mengerti unsur - unsur yang ada dalam bahasa Indonesia lebih jauh.

RISMIATI
PBSI 2008 /C

Anonim mengatakan...
pada hari 

saya sengat senang tentang adanya "PROSEDUR DAN TEKNIK EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ASING" karena dengan adanya seperti itu kita dapat belajar dengan lebih paham atau lebih mengerti. dan biar orang asing bisa mengetahui bahasa nasional kita.

SOFWAN HADI
PBSI C 2008

Anonim mengatakan...
pada hari 

dengan adanya materi semester genap ini saya bisa menambah wawasan yang belum dapatkan sehingga saya dapat mengerti.



ADHI NUGRAHA
EKONOMI 2008 (A)

Tri Saparudin mengatakan...
pada hari 

Minta informasi Tentang tes kosakata yang lebih terperinci menurut Burhan Nurgiyantoro bang??

Poskan Komentar