KELAKAR GUS DUR SEBAGAI SEBUAH KRITIK
Oleh: Imron Rosidi

Pengantar
Gus Dur ya Gus Dur, sampai wafat pun masih meninggalkan kontroversi. Hal itu ditandai dengan adanya kegiatan nonton bareng (Nobar) sepak bola Piala AFF antara Malaysia dengan Indonesia dalam Haul Gus Dur yang pertama di Jombang (Nobar). Sesuatu yang kontroversi sebab Haul seorang ulama biasanya diisi dengan berbagai bacaan ayat-ayat suci Al-quran, ceramah agama, pemutaran biografi, sampai pada pembacaan salawat secara bersama-sama. Itulah Gus Dur, sampai wafat pun masih memunculkan kontroversi.

Memang, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah tiada. Tokoh yang satu ini memang luar biasa. Dalam sosoknya melekat banyak ikon: pejuang demokrasi, pembela kaum marginal, pluralis, kontroversial, dan tentu saja humoris dan sudah pasti masih banyak lagi ikon lain yang melekat padanya. Tak ayal lagi, kepergiannya akan dikenang sepanjang masa oleh segenap anak bangsa.
Banyak orang mengenang Gus Dur dengan berbagai cara. Baru beberapa hari wafat, para politisi berusaha mengenangnya dengan usulan gelar pahlawan nasional. Dasar politisi, suka memanfaatkan peluang alias momentum, oportunis sejati melebihi pengusaha. Para pengikut (umat) Gus Dur lebih senang berdoa sambil berisak tangis di sisi makamnya. Jurnalis televisi tentu memutar kembali tayangan dialog atau wawancara bersama sang Guru Bangsa semasa hayatnya. Kaum akademisi bisa mengkaji kalimat-kalimat Gus Dur yang terungkap selama beliau sebagai presiden maupun selama beliau menjadi masyarakat biasa.
Kalimat-kalimat kelakar dan terkesan arogan dan kontroversi yang keluar dari mulut beliau tentunya bukanlah hanyalah sebuah kelakar. Kalimat-kalimat tersebut mengandung makna menuju kea rah kebaikan. Sebagai contoh, kalimat Taman Kanak-kanak kepada yang terhotmat anggota Dewan masih melekat di hati rakyat Indonesia. Kata-kata Gus Dur tersebut bertujuan untuk mengingatkan para anggota dewan untuk bertindak lebih dewasa, tidak hanya ingin menang sendiri, seperti sifat siswa Taman kanak-kanak. Siswa Taman Kanak-kanak akan selalu berebut apabila melihat gurunya
akan membagi kue. Ternyata terbukti saat ini pada diri anggota dewan. Anggota dewan hanya berpikir untuk dapat saling menjatuhkan, baik sesama anggota dewan lain partai maupun kepada pemerintah.
Ketika Gus Dur menjadi presiden, beliau sangat sedih banyaknya provokator di sekitarnya sehingga pemerintah yang dipimpinnya terasa goyah. Saat itu Gus Dur bercerita bahwa ada temannya dari kampung terpilih sebagai anggota DPR. Setelah di DPR, teman-temannya memanggil dia dengan sebutan prof'. Teman Gus Dur itu jelas heran bukan kepalang sebab dia tidak pernah mengajar, bukan dosen, tetapi selalu dipanggil 'prof'. Setelah dicek ke sana-sini, ternyata prof yang dimaksud oleh teman-temannya itu bukan professor, tetapi provokator. Hal ini merupakan bentuk kelakar Gus Dur yang bertujuan untuk mengingatkan anggota DPR untuk tidak menjadi seorang provokator.
Meski seorang kyai kontroversial, namun ucapan Gus Dur seringkali membuat banyak orang sadar. Pernyataan-pernyataan Gus Dur memancing orang untuk ikut berpikir dan merenung. Sekalipun pandangan matanya terganggu, Gus Dur dikenal sebagai humoris, seperti kutipan di atas. Saat berbicara, dia selalu menyelipkan joke, cerita lucu, yang membuat pendengarnya tertawa. Joke-jokenya itu disukai oleh banyak tokoh dunia.
“Gus, kok suka humor terus sih?” tanya seorang yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti.
“Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari,” jelasnya.
“Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat,” sambungnya.
Analisis wacana kritis (critical discourse analysis-CDA), selanjutnya disebut AWK, memandang wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus, telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Bahasa dipandang sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi. AWK melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam AWK dipandang dapat menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Orang bisa mencoba mempengaruhi orang lain (menunjukkan kekuasaannya) melalui pemilihan kata yang secara efektif mampu memanipulasi konteks. Untuk itu, kelakar-kelakar Gus Dur menurut hemat penulis menarik untuk dikaji berdasarkan AWK.
Analisis Wacana Kritis
Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Dalam ilmu sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Menurut Foucault (1972), wacana sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan, seperti yang sering diucapkan para anggota Dewan bahwa hal ini masih sebuah wacana. Selanjutnya, apakah yang dimaksud analisis wacana?
Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa merupakan aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek bahasa inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.
Bahasa (teks) mampu menentukan konteks. Bahasa merupakan bahasa sosial dan bukan sesuatu yang netral atau konsisten, melainkan partisipan dalam proses tahu, budaya, dan politik. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang transparan yang menangkap dan memantulkan segala sesuatu diluarnya secara jernih. Secara sosial, terikat bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu dan bukan semata tertata menurut hukum yang diatur secara alamiah dan universal. Oleh karena itu, sebagai representasi hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subjek-subjek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana atau diskursus tertentu.
Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas disimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu. Untuk kalangan kritis (critical), bahasa dipandang sebagai alat perjuangan kelas. Makna dalam hal ini tidak ditentukan oleh struktur realitas, melainkan oleh kondisi ketika pemaknaan dilakukan melalui praktek sosial.
AWK memandang pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam AWK menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Konsep ini dipertegas oleh Fairclough dan Wodak yang melihat praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologis, artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas yang perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial. Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing.
Karakteristik penting dari analisis kritis, yaitu: (1) Tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Seorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar, (2) Konteks. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan dimengerti dan dianalisis dalam konteks tertentu. Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; khalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi.
Karakteristik yang lain yaitu: (3) Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks, dan (4) Kekuasaan. Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat.
Mills menjadikan teori wacana Foucault sebagai ground teori untuk analisis wacana kritis. Pendekatan wacana yang mengguanakan teori Foucault sebagai grounded disebut sebagai Analsis Wacana Pendekatan Prancis (French Discourse Analysis). Sara Mills merupakan salah satu penganut dari teori ini. Walaupun lebih dikenal sebagai seorang feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan realasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam penelitian ini. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi-posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subjek penceritaan dan siapa yang menjadi objek penceritaan akan manentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu, juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks.
Mengenal Sosok Gus Dur sebagai Bapak Bangsa
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilahirkan di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur tanggal 7 September 1940. Beliau lahir dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. Addakhil berarti Sang Penakluk. Kata Addakhil tidak cukup dikenal, dan diganti nama Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.
Gus adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti abang atau mas. Beliau lahir dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, yaitu KH Wahid Hasyim, terlibat dalam gerakan nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Ibunya, Ny Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua I Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.
Pada akhir tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta, dan ayahnya ditunjuk menjadi Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo.
Gus Dur mulai mengikuti pendidikan di luar negeri pada tahun 1963. Beliau menerima beasiswa dari Kementerian Agama RI untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Pada tahun 1966, Gus Dur mengikuti pendidikan prasarjana beasiswa di Universitas Baghdad Tahun 1970. Beliau juga belajar di Universitas Leiden, Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971. Karier awal Gus Dur berada di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), dan mendirikan majalah prisma, kemudian meneruskan kariernya sebagai jurnalis, dan menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas.
Pada tahun 1974, Gus Dur bekerja tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur juga menjadi guru Kitab Al Hikam. Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Wahid bergabung Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Pada pemilihan umum legislatif 1982 adalah pengalaman politik pertamanya berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pemilu 1999 dan SU MPR.
Pada Juni 1999, PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangi 12 persen suara, sedangkan PDI-P menang dengan raihan 33 persen suara.
Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada SU MPR. Namun PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, berisi koalisi partai-partai Islam. Poros Tengah kemudian mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden, dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.
Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden.
Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie, dan Habibie harus mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR menyatakan bahwa Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya meraih 313 suara.
Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk, dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan Jenderal Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.
Pada hari Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB, Abdurrahman Wahid meninggal dunia. Sebelumnya Gus Dur dirawat di RSCM sejak Sabtu pekan lalu. Gus Dur sempat dirawat di Jombang dan meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo. Sebelumnya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu dirawat di ruang VVIP nomor 116 Gedung A rumah sakit itu.
Meskipun telah tiada, Gus Dur tetap dikenang sebagai sosok yang penuh kontroversi dan humoris. Kelakarnya selalu membuat pendengar tepingkal-pingkal, meskipun kadang membuat yang disindir telinganya merah.
Kelakar Gus Dur sebagai Sebuah Kritik
Kelakar Gus Dur sebagai suatu wacana akan lebih menarik apabila dianalisis melalui analisis wacana kritis karena akan menjadi kentara bagaimana bahasa telah digunakan sebagai piranti kepentingan. Wacana publik, lebih-lebih pada kasus yang melibatkan kepentingan yang saling berbenturan, terbukti telah dijadikan sebagai senjata, baik bagi yang kuat maupun bagi yang lemah. Satu pihak menggunakan wacana sebagai sarana untuk mengendalikan dan merekayasa batin yang lain. Sebaliknya, pihak lain, dengan piranti wacana pula untuk melakukan perlawanan,atau sekurang-kurangnya melakukan pembakangan.
Melalui analisis wacana kritis, menjadi mudah memahami wacana dan kontrawacana sebagai setali-tiga-uang dengan hegemoni dan kontra-hegemoni. Ini berarti bahwa cabang kajian bahasa yang menautkan unsur-unsur bahasa dengan peristiwa nyata komunikasi ini telah menyumbang cukup besar dalam upaya kita memahami siasat penguasaan hegemonik sekaligus siasat melakukan perlawanan terhadapnya. Dilekatkan dalam diri pengguna bahasa, ternyata entitas makna memiliki beberapa ciri penting, yaitu: kerentanan dan kepirantian. Karena bersifat rentan dan atau mudah rusak ini, makna-makna diperlakukan secara hati-hati oleh kelompok pendukungnya, dan dipertahankan apabila ada serangan terhadapnya.
Gus Dur sebagai seorang negarawan yang lama berada di pesantren tentunya memiliki sifat yang blak-blakan atau terbuka tanpa tedeng aling-aling dalam berbicara atau mengeluarkan statement. Hal ini kadang-kadang dapat membuat orang yang mendengarkan menjadi tersinggung ataupun merasa disakiti. Padahal, wacana kelakar yang disampaikan Gus Dur lebih dari itu maknannya, seperti yang tampak pada kutipan berikut.
Handoyo "Gus Pur" epigon Gus Dur bernafas lega ketika dipertemukan dengan tokoh aslinya yaitu Gus Dur, saat program Kick Andy yang diputar di Metro TV, Kamis 15 November 2007.

"Apakah Handoyo pernah minta izin langsung kepada Anda untuk menjadi Gus Dur dalam Republik Mimpi?" tanya Andy F Noya, host program itu, kepada Gus Dur.
"Abis gimana lagi, yah anggep saja sudah," jawab Gus Dur enteng.

Obrolan itu terjadi di sebuah stasiun televisi yang dihadiri berbagai kalangan dan dipirsa oleh bangsa Indonesia. Tentunya, setiap jawaban yang akan disampaikan oleh Gus Dur melalui pertimbangan yang matang. Akan tetapi, sifat humor dan prinsip gitu saja kok repot selalu melekat pada beliau sehingga pertanyaan serius dijawab dengan enteng Abis gimana lagi, yah anggep saja sudah tentunya membuat para pendengar tertawa lebar. Melihat latar belakang Gus Dur, jawaban enteng tersebut memiliki makna yang cukup dalam, yaitu: (1) banyak para elit politik yang suka meng-klaim program milik orang lain, meskipun dia belum meminta izin pada sang pemilik, (2) banyak elit politik yang menganggap sepele suatu persoalan, padahal terlalu sulit dan rumit, misalnya dalam menangani kasus Lapindo.
Gus dur juga pernah berkelakar ketika menanggapi maraknya kegiatan main hakim sendiri yang seakan sudah dianggap normal oleh masyarakat kita. Pelakunya bukan cuma rakyat biasa, tetapi sering justru aparat yang berwenang. Paling tidak penghakiman dilakukan di depan aparat. Sampai-sampai majalah Tempo, jauh sebelum pembredelan pernah “menghitamkan” beberapa halamannya sebagai tanda prihatin. Para pembaca Tempo tentu kaget dan heran. Bermacam dugaan pun segera muncul. Gus Dur termasuk yang heran dan menduga-duga.
“Mengapakah Tempo dibuat hitam seperti itu?” tanya Gus Dur dalam “kuis imajiner”-nya.
“Karena reportase soal tukang santet dan bromocorah Jember.”
“Siapakah yang memerintahkan penghitaman itu?”
“Tukang santet dan bromocorah Jakarta.” kata Gus Dur

Kalimat terakhir yang diucapkan Gus Dur tentunya mengandung makna bahwa setiap kerusuhan yang terjadi di masyarakat pasti ada penggeraknya. Gus Dur memperkirakan bahwa yang menggerakkan adalah para aparat dan elite politik yang berada di Jakarta. Itu lebih berbahaya daripada pelaku sebagai seorang suruhan.
Dalam mengkritik Gus Dur tidak tebang pilih. Beliau juga tidak segan-segan mengkritik NU maupun orang-orang kepercayaannya apabila dianggap perlu. Akan tetapi, kritikan Gus Dur selalu dalam bentuk kelakar, seperti kritikan kepada orang-orang NU yang tampak dalam kutipan berikut.
Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU ataupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota.
Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.
Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya.
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.

Wacana kelakar di atas disampaikan Gus Dur ketika masih menjabat sebagai ketua PB NU. Beliau memiliki kekuasaan terhadap NU yang dipimpinnya. Orang-orang NU sangat fanatik terhadap organisasi dan pemimpinnya, apabilagi Gus Dur adalah cucu dari pendiri NU. Kefanatikan itu digambarkan Gus Dur melalui kelakar kunjungan rumah. Gus Dur menganggap tidak semua NU ingin membesarkan NU, tetapi ada juga yang ingin memecah belah NU, terutama orang NU yang sudah duduk dalam lingkaran birokrasi, yang takut kehilangan kekuasaannya.
Gus Dur membagi NU menjadi tiga, yaitu: pertama NU asli, tulen warga NU yang terdiri atas para Kiai NU dan warga NU yang digambarkan Gus Dur orang yang berkunjung layaknya seorang tamu yang mengerti waktu kunjung. Para kiai dan pengikut pada tipe ini sudah memahami watak dan kebiasaan Gus Dur dan memaklumi setiap kontroversi yang dilakukan Gus Dur. Kedua orang yang gila NU, yaitu orang NU yang terlalu fanatik sehingga apa saja mau dilakukan demi NU, meskipun kadang-kadang menjadi fanatik buta. Orang-orang ini digambarkan dengan tamu yang tidak mengerti waktu. Ketiga, orang NU yang gila, yaitu orang-orang di luar NU atau yang mengaku warga NU ketika dia selalu meminta restu ketika akan berebut kekuasaan. Orang-orang itu selalu memanfaatkan Gus Dur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Orang-orang ini selalu ingin mempertahankan kekuasaannya maupun orang yang ingin mendapatkan kekuasaan, padahal dia tidak mampu atau kurang yakin terhadap kemampuannya.
Kritikan Gus Dur terhadap anggota Dewan sering terlontar ketika beliau menjabat sebagai presiden. Gus Dur menjadi presiden bukan karena partainya menang, tetapi atas bantuan poros tengah yang dikomandani Amin Rais. Beliau didukung untuk menyingkirkan Megawati yang kurang mendapat dukungan para Kiai. Karena itulah, Gus Dur selalu mendapat kritikan dari para anggota Dewan, terutama dari PDI dan lainnya. Selain itu, poros tengah yang sebelumnya mendukung Gus dur mulai goyah karena Gus Dur juga mengkritik tanpa melihat kawan atau lawan, seperti yang tampak pada kutipan berikut.

Pada bulan Juli Tahun 2001 terjadi perselisihan antara Gus Dur sebagai presiden dengan DPR RI. Dengan rasa percaya diri Gus Dur mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membubarkan DPR RI . Akan tetapi, dekrit tersebut tidak direspon oleh DPR RI yang berakibat lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden RI. Pada pertemuan dengan wartawan di Ciganjur, beliau ditanya
“kenapa dekrit Gus Dur tidak laku ?”
“bukan tidak laku, tetapi DPR yang tidak tahu dekrit”, Gus Dur menjelaskan
“masak DPR tidak tahu dekrit Gus”, tanya wartawan.
“Tanya aja sendiri…anggota DPR kan belum lulus SD”, ujar Gus Dur sambil tertawa terkekeh kekeh.

Gus Dur selalu mengeluarkan kelakar dalam mengkritik seseorang, termasuk dalam mengkritik anggota dewan yang terus merongrongnya. Gus Dur pernah mengatakan bahwa dewan bagaikan taman kanak-kanak. Selang beberapa bulan, anggota dewan adu fisik untuk mempertahankan keinginan dan kekuasaannya, seperti yang diungkapkan Gus Dur. Saat kelakar itu tercetus, banyak orang yang menganggap Gus Dur keterlaluan. Akan tetapi, ketika hal buruk terjadi di dewan yang terhormat, semua orang menganggap Gus Dur selalu memiliki misi ke depan, yang tahu apa yang akan terjadi.
Saat Gus Dur menjadi seorang presiden atas jasa baik poros tengah, Gus Dur diharap selalu mengikuti apa yang diinginkan poros tengah. Kenyataannya, Gus Dur selalu melakukan manuver, mulai dari memangkas berbagai institusi atau departemen, pemecatan beberapa menteri, sampai mengeluarkan dekrit. Akibatnya, semua anggota dewan dari berbagai fraksi membencinya.
Gus Dur tetap tenang, meskipun jabatannya terancam. Gus Dur sebagai seorang santri menganggap jabatan adalah sebuah amanah yang kapan saja siap lepas. Gus Dur berpikir bahwa apa yang benar harus ditegakkan meskipun terasa pahit. Orang-orang yang sebelumnya dipecat Gus Dur pada akhirnya juga bermasalah terhadap hukum, yang terakhir Bachtiar Khamsah yang siap-siap menuju terali besi. Ini berarti apa yang dilakukan Gus Dur ada benarnya, meskipun dia awal-awal dianggap sebuah blunder dan kesalahan.
Untuk mengkriti DPR yang tidak menyetujui Dekrit yang dikeluarkan, Gus Dur bekelakar bahwa anggota DPR belum lulus SD. Seseorang yang belum lulus SD tentunya belum bisa bernalar secara aplikatif dan evaluatif. Anak SD hanya bisa menghalaf dan memahami hal-hal yang sifatnya konkret serta kekinian. Anak SD belum bisa berpikir ke masa yang akan datang dan abstrak. Gus Dur menganggap bahwa Dekrit dikeluarkan untuk masa depan bangsa. Karena anggota DPR belum lulus SD sudah sepantasnya kalau tidak menyetujui Dekrit.
Penutup
AWK memandang pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam AWK menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Kelakar Gus Dur sangat pas apabila dikaji dengan pisau AWK. Kelakar Gus Dur tidak sekadar kelakar, tetapi lebih dari itu. Kelakar Gus Dur merupakan bentuk kritik terhadap seseorang ataupun institusi yang sedang berkuasa.
Pustaka
Brown, G. dan Yule, G. 1966. Analisis Wacana. Diterjemahkan oleh Sutikno. Jakarta: Gramedia.
Fairclough, H. 1989. Language and Power. London: Longman.
Van Dijk, Teun A. 2001. Critical Discouse Analisis. Diterjemahkan oleh Suhendro. Bandung: UPI.


Komentar :

ada 2 komentar ke “ ”
Anonim mengatakan...
pada hari 

pak guru,., jd Gus Dur i2 dlu nmax abdurrohman ad-dakhil to,.,. kyak namax kholifah prtma dinasti umayyah di andalus dong,.,. he,.,he,.,.

kholifah i2 di juluki ad-dakhil krn dia org prtma yg memasuki andalus dan brkuasa disana atau skrg spanyol,.,
trus,.,.,.klo Gus Dur di beri nma ad-dakhil krn apa pak,.,.? krn beliau lahir prtma kali,.,.?
klo emg i2, shrusx bukan ad-dakhil pak, tp al-khorij (org yg kluar),.,. lahir kn brrti klwr dri rahim ibu,.,., he,,.he,.,.,

fadhls mengatakan...
pada hari 

hehehehe

Posting Komentar