Kajian Bahasa

MENGENAL PRAGMATIK

Oleh: Imron Rosidi


            Linguistik berarti ilmu bahasa. Sebagai ilmu bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu. Cabang-cabang itu di antaranya: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Fonologi adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji seluk-beluk bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa, sedangkan semantik adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
            Berbeda dengan fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik yang mempelajari struktur bahasa secara internal, pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Mengenai definisi pragmatik, perhatikan dialog di bawah ini:
(1) Reni : Berapa nilai mata kuliah menulismu, man?
     Rahman : Ya .. lumayan, dapat B.
     Reni : Bagus kamu Man, aku hanya dapat C.
     Rahman : Tapi, Ajeng dapat A.
     Reni : Biasa Man, dia khan mahasiswi yang pintar.
Bandingkan penggunaan kata bercetak miring pada dialog di atas dengan yang ada dalam dialog berikut!
(2) Reni : Berapa nilai mata kuliah menulismu, Man?
     Rahman : Malu aku Ren, aku diberi nilai D oleh Pak Imron.
     Reni : Bagus kamu Man, itulah hasilnya kalau kamu tidak pernah masuk.
     Rahman : Tapi, Ajeng dapat E.
     Reni : pantas, dia khan mahasiswi yang pintar.
            Secara eksternal, bila dilihat dan penggunaannya, kata bagus ternyata tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, seperti yang tampak pada dialog (1) di atas. Akan tetapi, apabila diperhatikan penggunaan kata bagus pada dialog (2) yang berbunyi “Bagus kamu Man, itulah hasilnya kalau kamu tidak pernah masuk” memiliki makna sebaliknya, yaitu buruk atau jelek, yang berfungsi sebagai bentuk sindiran. Begitu pula makna kata “pintar” pada dialog (1) memiliki makna yang bertentangan pada dialog (2). Pada dialog (1), kata pintar bermakana pandai atau cakap, tetapi pada dialog (2) bermakna sebaliknya, yaitu bodoh.
            Dari uraian di atas jelas bahwa makna yang ditelaah oleh semantik adalah makna apa adanya, tanpa memperhatikan siapa penutur, siapa mitra tutur, kapan dan di mana tuturan itu terjadi, sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah makna yang memperhatikan hal-hal tersebut. Dengan demikian, meskipun memiliki fokus kajian yang serupa dengan semantik, yaitu makna, makna yang dikaji dalam pragmatik berbeda dengan makna yang dikaji dalam semantik. Pragmatik merupakan satu-satunya tataran yang memperhitungkan manusia sebagai pengguna bahasa dalam memaknai sebuah tuturan.
            Semantik bersifat bebas konteks (contect independent), sedangkan pragmatik bersifat terikat konteks (context dependent) (Purwo, 1990, 16). Yang dimaksud dengan konteks di sini adalah konteks linguistik dan konteks nonlinguistik. Konteks linguistik, seperti kalimat yang sebelumnya mendahului, disebut pula koteks, sedangkan konteks nonlinguistik, seperti siapa yang berbicara, siapa yang diajak berbicara, kapan terjadinya pembicaraan, dan di mana terjadinya pembicaraan, disebut dengan konteks. Apabila diamati lebih jauh, makna yang menjadi kajian semantik adalah makna linguistik (linguistic meaning), sedangkan yang dikaji oleh pragmatik adalah maksud penutur (speaker meaning) (Verhaar, 1977; Parker, 1986, 32). Dengan kata lain, Makna yang dikaji oleh semantik bersifat diadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apa makna x itu? Makna yang ditelaah oleh pragmatis bersifat triadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu? Dengan demikian, pragmatik adalah studi tentang maksud penutur (Yule, 2006:3).
            Pendapat yang agak berbeda tentang pragmatik disampaikan oleh Morris (1938). Pragmatik sebagai suatu kajian ilmu muncul dari pandangan Morris tentang semiotik, yaitu ilmu yang mempelajari sistem tanda atau lambang. Morris membagi semiotik ke dalam tiga cabang ilmu, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Sintaksis mempelajari hubungan antara lambang dengan lambang lainnya, semantik mempelajari hubungan antara lambang dengan objeknya, dan pragmatik mempelajari hubungan antara lambang dengan penafsirnya.
            Yule (2006) juga menyampaikan secara gamblang perbedaan antara ketiga cabang semiotika tersebut. Dikatakan bahwa sintaksis adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk kebahasaan itu dalam suatu urutan (kalimat). Semantik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (kata) dengan sesuatu secara harfiah, sedangkan pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk linguistik (tuturan) dengan si pemakai bentuk tersebut. Dengan demikian, pragmatik selalu menghubungkan makna bentuk linguistik dengan pemakainya (penutur).
            Definisi pragmatik lainnya dikemukakan oleh beberapa ahli dengan redaksi yang berbeda. Morris (1960) mengatakan bahwa pragmatik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pemakaian tanda, yang secara spesifik dapat diartikan sebagai cara orang menggunakan tanda bahasa dan cara tanda bahasa itu diinterpretasikan. Yang dimaksud orang menurut definisi tersebut adalah pemakai tanda itu sendiri, yaitu penutur. Cara seorang petinju yang menganggap lawannya tidak bisa lagi melawan dengan menggunakan tanda bahasa habis. Tanda bahasa ini akan digunakan berbeda oleh seorang agen minyak tanah, yaitu untuk menggambarkan bahwa minyak tanahnya sudah ludes terjual.
            Menurut Leech (1993:8), pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) yang meliputi unsur-unsur penyapa dan yang disapa, konteks, tujuan, tindak ilokusi, tuturan, waktu, dan tempat. Yule (1996: 3) menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna penutur; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu, sedangkan Levinson (1987:1) mengatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara lambang dengan penafsirannya.
            Thomas (1995:2) mendefinisikan pragmatik dengan menggunakan sudut pandang sosial dan sudut pandang kognitif. Dengan sudut pandang sosial, Thomas menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, pragmatik dihubungkan dengan interpretasi tuturan (utterance interpretation). Pemaknaan tuturan dalam pragmatik merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks tuturan (fisik, sosial, dan linguistik), dan makna potensial yang mungkin dari sebuah tuturan tuturan. Pragmatik sebagai bidang linguistik yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
            Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mengkaji segala aspek makna tuturan berdasarkan maksud penutur yang dihubungkan dengan konteks bahasa dan konteks nonbahasa. Konteks ini sangat mempengaruhi makna satuan bahasa, mulai dari kata sampai pada sebuah wacana.

Komentar :

ada 17 komentar ke “Kajian Bahasa”
DIAN mengatakan...
pada hari 

Setelah membaca artikel bapak mengenai" Mengenal Pragmatik", jujur saya masih kurang dapat memahami. Tetapi saya mencoba untuk memberikan tanggapan bahwa pragmatik lebih luas kajiannya daripada semantik. Berdasarkan contoh-contoh yang disajikan mengenai pragmatic, saya sudah dapat memahaminya. Tetapi untuk semantik, saya masih kurang dapat memahami. Di atas dikatakan bahwa semantic adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual, baik makna leksikal maupun makna gramatikal. Apakah yang dimaksud dengan makna leksikal? Dan apa pula yang dimaksud dengan makna gramatikal? Jika boleh saya berpendapat, menurut saya semantic bersifat umum sedangkan pragmatic lebih bersifat khusus. Benarkah demikian? Apakah benar juga bahwa pragmatic selalu berhubungan dengan subyek?

DIAN SAPUTRI
PPKn
NIM : 0720701045

Anonim mengatakan...
pada hari 

Saya baru mengenal Pragmatik ini pada semester 6, setelah mengikuti mata kuliah ini saya bisa mengetahui dan mengerti tentang mata kuliah pragmatik ini. Saya jadi tahu perbedaan antara fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Saya juga mengetahui dan mengerti tentang apa itu lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Yang ingin saya tanyakan apakah pragmatik ini hanya berguna atau bermanfaat bagi guru Bahasa Indonesia? Apakah ada manfaatnya untuk guru bidang studi lain? Kalau ada, apa sajakah manfaatnya?

Siti Maria Ulfa
PBSI 06/B

andi dian rahmawan mengatakan...
pada hari 

@dian saputri: menurut saya, makna leksikal adalah makna kamus. sedangkan makna gramatikal adalah makna kata yang tampak ketika digunakan dalam sebuah kalimat. kalimat present continuous tentunya memiliki makan yang berbeda dengan makna yang menggunakan Past Perfect continuous tense. begitu kurang lebihnya.

machmudah mengatakan...
pada hari 

Menurut saya : Semantik dan pragmantik bukanlah bersifat umum atau khusus tapi kembali seperti pada artikel di atas bahwa semantik bersifat bebas konteks, maksudnya makna yang terkandung dalam suatu kalimat adalah murni makna baku tanpa dipengaruhi faktor-faktor lain seperti siapa yang berbicara, kepada siapa, dan pada situasi seperti apa. Sedangkan pragmatik bersifat tergantung konteks, maksudnya makna yang terkandung dalam suatu kalimat masih dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti situasi, dan lain lain. Atau dengan kata lain, arti dalam kalimat pragmatik terbentuk atas makna-makna yang muncul akibat pengaruh lingkungan sekitar. Sehingga pada lingkungan dan situasi yang berbeda, suatu kalimat akan memiliki makna yang bervariasi.

Machmudah : 07288201754/p
Prodi : Bahasa Indonesia kelas Lekok

Anonim mengatakan...
pada hari 

agggggggggggggggggggggggggggg

Anonim mengatakan...
pada hari 

Setelah saya baca dan pahami menurut saya pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakainya.oleh karena itu hubungan antara bahasa dan konteks menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa sehingga bahasa pada tap lingkungan yang berbeda akan menghasilkan makna yang berbeda pula.

Hari Kristyani : 07288201646/p
Prodi : Bahasa Indonesia kelas Lekok

Anonim mengatakan...
pada hari 

coment saya: pragmatik ialah (kajian mengenai penggunaan bahasa) hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya, sedangkan semantik adalah (kajian mengenai makna)hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut. Sehingga dapat dikemukakan bahwa kajian pragmatik bukanlah kata atau kalimat melainkan tinfak tutur atau tindak ujaran. tetapi yang saya tanyakan pragmatik ini manfaatnya untuk apa?? apa ada manfaat lain untuk bidang studi selain bahasa Indonesia mengetahui pragmatik?? mohon lebih diperjelas lagi perbedaan penggunaan semantik dan pragmatik??

Cholifah : 07288201645/p
Prodi : Bahasa Indonesia kelas Lekok

Anonim mengatakan...
pada hari 

Mantap Pak...!






takim
English Education

irfanhamdani mengatakan...
pada hari 

thanks banget pak,
tp sy dapt pertanyaan bgini ?
apa itu pragmatik dan discourse analysis(analisis wacana) ? jg contohnya ??

mohon jwbnya ya pak..., krn sy sdg agak bingung ni

Anonim mengatakan...
pada hari 

Om..
1). apa contoh keterkaitan sintaksis, semantik, dan pragmatik dalam hal ini contoh berkaitan dengan interaksi didalam kelas.
2). tolong jelaskan mengenai keranjang sampah pragmatik om?

Anonim mengatakan...
pada hari 

silakan kirim lewat email aja om jwbnnya yg 2 diatas. novhyhernadi@yahoo.co.id
mksih

Anonim mengatakan...
pada hari 

Thanks ya pak ilmunya...sangat bermanfaat buat sya...

~salamesrabadi~ mengatakan...
pada hari 

salam...boleh sy buat rujukan kajian encik?

Anonim mengatakan...
pada hari 

Terima kasih pak,penjelasan Bapak sangat bermanfaat bagi saya!

mita mengatakan...
pada hari 

tolong berikan contoh kalimat dengan kata kajian sebagai berikut:1.data
2.formasi
3.moral

Anonim mengatakan...
pada hari 

pak saya mau brtanya apa maksud dari keranjang sampah pragmatik??
mengapa pragmatik di katakan keranjang sampah??


mohon jawabannya pak




juharti
prodi: Bahasa dan Sastra Indonesia

Anonim mengatakan...
pada hari 

no shoes,no shirt,no service (tanda pada pintu bevo shop''the drag'', kwasan UGS di Austin,texas)
jelaskn ketidakaturan dalam hubungannya dengan sintaksis,semantik,dan pragmatiK!

mohon penjelasannya , sblumnya trima kasih

pnjelasan bpk saya tunggu d'email saya pak

eccejie@ymail.com

Poskan Komentar