keterampilan berbahasa

MEMBACA DAN INFORMASI
Oleh: Imron R


            Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Robbmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq:1-5).

Membaca Yok!
            Pernahkah adik-adik berpikir untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan utama dalam keseharian? Pernahkah adik-adik merasa rugi besar apabila dalam satu hari tidak sempat membaca? Pernahkah adik-adik akan merengek kepada orang tua apabila adik-adik tidak dibelikan buku-buku bacaan? Kalau pernah, adik-adik sudah mengerti tentang pentingnya membaca bagi kehidupan adik-adik. Bahkan, Allah SWT pun menurunkan ayat pertama kepada Rasullah dengan bunyi iqra’ yang berarti bacalah.
            Saya pernah berdecak kagum terhadap seseorang yang dalam perjalanannya di dalam pesawat dari Hongkong menuju Chicago. Selama dalam perjalanan, dia gunakan untuk membaca. Waktu itu saya berkesempatan dikirim oleh CCE (Center for Civic Education) untuk berkunjung ke Amerika dalam program pertukaran tokoh masyarakat. Saya melihat orang kulit hitam di depan tempat duduk saya tidak pernah lepas dari kegiatan membaca. Selesai membaca satu buku, dia ambil buku lainnya. Sampai-sampai lebih dari empat buku dia baca. Padahal aku? Aku hanya membaca dua surat kabar yang sempat saya bawa ketika masih berada di Jakarta. Setelah itu, saya tidur dan hanya sesekali menulis puisi. Itulah mungkin dapat dijadikan analogi kegemaran membaca bangsa kita dengan bangsa orang berkulit hitam tersebut, yaitu bangsa Amerika.
            Meskipun begitu, saya juga pernah bangga dengan bangsaku sendiri dalam hal membaca. Ketika itu saya berkesempatan mengantarkan salah satu kontingen renang dalam sebuah kejuaraan. Salah satu atlet renang yang saya antar tidak pernah lepas dari buku di sela-sela waktu istirahat. Bahkan ketika di atas tribun, sambil menunggu waktu tampil yang masih cukup lama, dia sempatkan juga untuk membaca. Menurut orang tuanya ketika saya tanyakan terhadap kegemaran anaknya dalam membaca, anak tersebut memang sangat tinggi minat bacanya sehingga selalu minta dibelikan buku baru apabila semua bukunya telah dibaca.

Apa itu Membaca?
            Apakah setiap aktivitas melafalkan kata-kata, kalimat, dan paragraf dalam sebuah buku dapat dikategorikan sebagai kegiatan membaca? Apakah setiap aktivitas yang melibatkan kemampuan motorik dapat dikatakan membaca? Apakah apabila ada seorang remaja sedang asyik membuka-buka majalah remaja dapat pula dikatakan sedang membaca? Untuk menjawab semua itu, adik-adik perlu memahami hakikat membaca berikut.
            Membaca pada hakikatnya adalah suatu tindakan yang tidak sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan banyak hal, antara lain: aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Dalam pengenalan kata, adik-adik bisa menggunakan kamus ketika menemukan kata-kata yang baru dikenal dalam sebuah bacaan.
            Membaca merupakan proses berpikir. Untuk dapat memahami bacaan, adik-adik terlebih dahulu harus memahami kata-kata dan kalimat yang dibacanya. Adik-adik harus mampu berpikir secara sistematis, logis, dan kreatif. Setelah menyelesaikan bacaannya, adik-adik dapat menilai isi bacaan dengan cara memberi komentar. Kegiatan menilai ini menuntut kemampuan berpikir kritis (Syafi’ie, 1993:44).
            Untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, adik-adik perlu membawa pena atau stabilo ketika membaca. Ketika menemukan hal-hal yang dirasa penting dan perlu diberi tanggapan, tandailah dengan stabilo atau dengan memberi garis bawah dengan pena yang adik-adik pegang. Selanjutnya, berilah komentar terhadap hal tersebut di samping margin kanan lembar yang Anda baca. Komentar ini bertujuan untuk melatih kemampuan berpikir kritis Anda.
            Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut memang bukan interaksi langsung, tetapi bersifat komunikatif. Penulis menyampaikan ide dan gagasan melalui tulisannya agar dapat dipahami oleh pembaca. Pembaca yang memiliki kemampuan lebih akan mampu menjalin komunikasi yang lebih baik dengan penulis melalui tulisan yang dibaca. Dengan demikian, pembaca yang baik akan mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca.
            Pernahkah adik-adik merasa tidak mengerti tentang apa yang telah dibaca? Pernahkah adik-adik telah menyelesaikan pembacaan sebuah bacaan secara utuh dalam beberapa halaman, tetapi seakan-akan adik-adik lupa semua terhadap apa yang telah dibaca? Kalau hal itu pernah adik-adik alami berarti adik-adik belum mampu menjalin komunikasi yang baik dengan penulis.
            Membaca juga dapat dijadikan tujuan mencari pahala kelak di akhirat, bahkan membaca merupakan ibadah yang paling utama (setelah ibadah fardlu). Membaca yang semula merupakan sarana mencari pengetahuan ternyata dapat dijadikan tujuan. Selain tujuan mencari pahala kelak di akhirat, membaca juga dapat dijadikan pengobat hati yang sakit dengan syarat bacaan itu disertai dengan pemahaman. Hal itu dapatlah dijadikan bukti bahwa membaca dapat dijadikan sarana mempelajari ilmu. Selain itu, membaca juga dapat dijadikan sarana mencapai tujuan melestarikan khasanah ilmiah agar eksistensinya tetap terjaga.
            Keterampilan membaca dapat dilihat sebagai suatu proses dan sebagai hasil (Burns, dkk. 1984). Sebagai suatu proses, membaca mencakup (a) proses visual, (b) proses berpikir, (c) proses psikomotorik, (d) proses metakognitif, dan (e) proses teknologi. Sebagai suatu proses visual, dalam membaca terjadi pergerakan mata. Mata adik-adik membuat fiksasi dan melompat dari satu fiksasi ke fiksasi lain dalam gerakan cepat (saccadic movement). Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup pengenalan kata, pemahaman literal, dan pemberian kritik. Pengenalan kata meliputi keterampilan untuk membaca kata dengan cepat dan tepat tanpa bantuan kamus. Pemahaman literal meliputi keterampilan untuk memahami kata dan memahami pengelompokkan kata-kata tersebut ke dalam frasa, klausa, kalimat, dan paragraf. Pada pemahaman literal ini, pembaca juga mencoba memahami maksud penulis sehingga pembaca dapat membuat kesimpulan dan memberikan tanggapan terhadap bacaan. Pada pemberian kritik, pembaca menciptakan ide-ide orisinal.
            Sebagai suatu proses psikolinguistik, dalam membaca terjadi interaksi antara pikiran dan bahasa. Selama proses ini, skemata sangat membantu pembaca dalam menyusun makna. Pengetahuan adik-adik sebagai pembaca tentang fonologi, semantik, sintaksis sangat membantu dalam memahami dan menginterpretasi pesan. Sementara itu, sebagai suatu proses metakognitif, kegiatan membaca mencakup perencanaan, penentuan strategi, pemantauan, dan penilaian. Ketika membaca, adik-adik perlu mengidentifikasi tugas-tugas dalam membaca, menentukan strategi untuk memahami bacaan, memantau pemahaman, dan menilai keberhasilan.
            Sebagai suatu proses teknologi, kegiatan membaca dapat mencakup interaksi pembaca dengan komputer. Dengan menggunakan program tertentu, komputer dapat mengucapkan kata-kata untuk pembaca dan dapat membaca seluruh bacaan dengan berbagai macam dan karakteristik suara. Dilihat sebagai hasil, dalam membaca terdapat pencapaian komunikasi pikiran dan perasaan adik-adik dengan penulis. Komunikasi ini terjadi karena terdapat kesamaan pengetahuan dan asumsi antara pembaca dan penulis. Komunikasi ini sangat tergantung pada pemahaman yang diperoleh adik-adik dalam semua proses membaca.
            Membaca juga merupakan proses psikologi. Sebagai suatu proses psikologis, kemampuan membaca dipengaruhi oleh intelegensi umum sebagai faktor yang terpenting. Faktor tersebut merupakan angka rata-rata perkembangan mental yang memiliki kaitan yang jelas dengan faktor lainnya, seperti: usia, sosial ekonomi, bahasa dan sebagainya.
Membaca sebagai suatu hasil artinya memalui kegiatan membaca kita dapat memahami isi sebuah bacaan. Pemahaman dalam suatu bacaan dipengaruhi oleh kemampuan kognitif pembaca serta daya konsentrasi. Pemahaman tersebut bisa berupa pemahaman literal, bisa juga pemahaman nonliteral.
            Tiga istilah sering digunakan untuk memberikan komponen dasar dari proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengasosiasikannya dengan bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan, sedangkan proses decoding (penyandian) merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Proses recording dan decoding biasanya berlangsung pada kelas-kelas awal SD yang dikenal dengan istilah membaca permulaan. Penekanan membaca pada tahap ini ialah proses perseptual, yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Sementara itu, proses memahami makna lebih ditekankan di kelas-kelas SMP sampai pada perguruan tinggi (Syafi’ie: 1999).
            Dengan demikian, kegiatan membaca yang dilakukan oleh adik-adik remaja sudah pada tahap membaca lanjut, yaitu membaca untuk memahami makna secara implisit atau yang tersirat. Makna di luar isi bacaan dapat dilakukan melalui proses meaning atau pemaknaan.

Komentar :

ada 3 komentar ke “keterampilan berbahasa”
CaH aYu mengatakan...
pada hari 

salam kenal pak..
mohon kirimin refence tentang tingkat pemahaman teks ke email saya..
trimakasi..

CaH aYu mengatakan...
pada hari 

mohon reference nya ya pak..
trimakasi sblumnya..

indah lovely mengatakan...
pada hari 

salam kenal.
pak ada ngak referensi tentang membaca ( strategi pengantar dan tekniknya) & bahasa struktur dan terjemahannya.
krm ke email sya indahwulandari19@ymail.com
mksh sblm nya

Posting Komentar