KRITIK SASTRA

MEMELUK IBU
LEWAT PUISI BOSA ZAWAWI


Oleh: Imron Rosidi

            Abstrak: Zawawi Imron, putra Madura yang tinggal di Batangbatang, Sumenep,             menulis puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin (BOSA) sebagai tempat untuk             mengekspresikan kekagumannya terhadap ibunya, Maduranya, dan pahlawannya.             Sosok ibu dikupas dalam kumpulan puisi Semerbak Mayang dan Tembang Dusun             Siwalan. Dalam memeluk ibunya, Zawawi menggunakan kata-kata yang cukup             sederhana dan keseharian dalam rangka memanjakan pembacanya. Sampai-              sampai A. Teeuw menganggap puisi Zawawi terlalu konvensional dan tidak dapat             didekatkan dengan puisi Abdul Hadi – rekan sastrawan sepulaunya. Memang,             Zawawi ya Zawawi, bukan yang lain.

Kata Kunci: Zawawi Imron, puisi BOSA, ibu

            Kumpulan puisi Zawawi “Bantalku Ombak Selimutku Angin (BOSA)” yang terdiri atas lima kumpulan puisi – Semerbak Mayang, Madura, Akulah Lautmu, Tembang Dusun Siwalan, Bantalku Ombak Selimutku Angin - cukup enak untuk dinikmati. Kata-kata keseharian meluncur sederas tekad orang Madura. Hal ini yang membuat BOSA mudah dipahami, tanpa harus menghilangkan eksistensi sebuah puisi bernilai sastra. Begitu juga dalam memeluk ibunya, Zawawi menggunakan diksi sederhana, seperti: bambu, mata ayah dan ibu, airmatamu ibu, biru restumu, dan masih banyak lagi. Zawawi tampak menginginkan puisinya lebih dekat dengan pembacanya dengan tidak mengesampingkan fungsi estetisnya.
            Bahasa Zawawi dalam puisinya merupakan bahasa khas Zawawi. Teeuw (1964:70) menerangkan bahwa bahasa sastra adalah bahasa yang khas yang dimanfaatkan oleh penyair, meskipun mungkin dalam pemakaiannya dianggap menyimpang dari bahasa sehari-hari dan bahasa yang normal. Sah-sah saja Zawawi menggunakan kata sederhana dalam puisinya.
            Sebagai anak tunggal, Zawawi sangat mengagumi orang yang melahirkan-IBU- yang biasa dipanggil “emak” di Madura. Sampai-sampai, dengan alasan ingin menjaga sang ibu yang sudah tua, Zawawi tidak ingin pindah dari Madura. Zawawi yang sudah pernah keluar negeri, seperti Belanda, Jerman, dan beberapa negara di Asia masih kerasan dengan desa terpencil, tempat kelahirannya. Selain itu, di tahun 1986, beliau mendapat kesempatan untuk berpindah ke Jakarta. Itu tidak beliau lakukan karena Zawawi tidak ingin ibunya merasa tersiksa di Jakarta. Ibu Zawawi tidak bisa berkomunikasi selain dengan bahasa Madura. Zawawi tidak ingin melihat ibunya tidak memiliki teman karena ibunya tidak bisa berbahasa Indonesia. Atau mungkin, Zawawi tidak ingin meninggalkan Madura karena sumpahnya pada Madura, /di ubun lagit ku ucapkan sumpah/-Madura, akulah darahmu/.
            Dari 59 puisi yang tersebar di keempat kumpulan puisi, yaitu: 1) Semerbak Mayang, 2) Madura, Akulah Lautmu, 3) Tembang Dusun Siwalan, dan 4)Bantalku Ombak Selimutku Angin, enam puisi mengisahkan dan menggambarkan sosok seorang ibu. Puisi-puisi tersebut antara lain: Ibu Tinggal Bersama Rindu (halaman 13), Pengembara (halaman 14), Nyanyian Kampung Halaman (halaman 16), Ibu (halaman 20), dan Tembang Kasmaran (halaman 27) berada pada kumpulan puisi Semerbak Mayang, dan Bermalam di Rumah Ibu (halaman 97) ada pada kumpulan puisi Tembang Dusun Siwalan. Lainnya, puisi Zawawi dalam BOSA bercerita tentang alam, kepahlawanan, gadis Madura, masyarakat Madura, istri, dan anaknya.

Zawawi Mencintai Ibunya
            Ketika sahabat bertanya kepada Rosul tentang siapa yang harus dihormati pertama kali, Rosul menjawab “Ibumu.” Jawaban belum memuaskan sahabat. Dia bertanya lagi dengan pertanyaan “Siapa lagi, ya Rosul?” Rosul tetap menjawab “Ibumu.” Jawaban tidak berubah sampai pada pertanyaan yang ketiga. Baru pada pertanyaan yang keempat, jawaban Rosul berbeda dengan jawaban sebelumnnya, yaitu “ayahmu.”
            Dari gambaran di atas, Rosul ingin menempatkan sosok ibu sebagai orang yang perlu dihormati di atas lainnya, termasuk sang ayah. Bahkan, Allah menempatkan syurga di telapak kaki ibu. Kalau Allah saja menempatkan sosok ibu setinggi itu, bagaimana dengan Zawawi? Sebagai seorang santri yang pernah mengenyam pendidikan pesantren Salaf selama 1,5 tahun, tentunya Zawawi ingin mengamalkan ajaran Allah dan Rosulnya. Zawawi juga menempatkan sosok ibu di atas ayahnya. Dari lima puisi yang bercerita tentang ibu, ada satu puisi yang bercerita tentang ayah. Zawawi memandang seorang ibu sebagai sosok tempat mengadu, tempat memita restu, sosok seorang pahlawan, dan sosok yang sangat sederhana.
            Puisi pertama Zawawi dalam BOSA yang bercerita tentang ibu ditemukan dalam halaman 13 dengan judul “Ibu Tinggal Bersama Rindu.” Puisi yang dibangun atas enam bait ini mengisahkan sosok ibu bagi seorang Zawawi. Ibu selalu merasa sakit apabila anaknya sakit. Ibu yang selalu mengharapkan pulang apabila sang anak mengalami kesulitan di rantau. Hal ini tampak jelas pada larik /sekali waktu akan menerkam/anakku luka/hati ibu yang ngucur darah/ Larik ini menunjukkan bagaimana seorang ibu yang merasa ikut bersedih apabila anaknya sedang bersedih. Seorang ibu yang merasa bersedih apabila sang anak sedang bersedih.
            Pada bait pertama puisi Zawawi tersebut, tampak adanya pelompatan pengisahan, sampai-sampai tampak hanya sebuah basa-basi. Bait pertama yang terdiri atas enam baris, pada tiga baris pertama, aku lirik menempatkan sang ibu selalu dekat dengannya, bersama rindunya ketika merantau, terungkap dalam larik /ibu tinggal bersama rindu/pilu doanya tajam sembilu/, __ buah hidupku/ Larik ini dilajutkan dengan /sapi kerapan sedang berpacu/rantau mana dijelajahnya/moga ada pahit darahnya!/ Larik ini dapat mengaburkan makna pada tiga baris pertama, terutama pada larik /moga ada pahit darahnya/ Partikel –nya pada larik tersebut siapa, aku lirik ataukah sang ibu, atau orang lain. Selain itu, mengapa ada doa agar darahnya pahit? Siapa yang berdoa, dan siapa yang didoakan? Mungkin untuk mengurangi kesan melompat, Zawawi dapat mengubah dengan larik, misalnya: /bagai sapi kerapan sedang berpacu/rantau mana dijelajahnya/moga doa ibu tetap padaku/. Tetapi, pergantian ini justru dapat juga menghilangkan nilai polyinterpretable pada puisi tersebut, bahkan yang lebih parah dapat menghilangkan nilai puisi BOSA sebagai sebuah puisi, seperti yang disampaikan Damono bahwa sebuah kata dalam puisi apabila diganti dengan kata lain yang bersinonim sekali pun, seketika itu juga puisi tersebut berhenti sebagai puisi.
            Kasih ibu sepajang jalan, kasih anak sebatas batas. Peribahasa itu sangat cocok untuk menggambarkan kasih ibu terhadap Zawawi. Ibu Zawawi sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Hal itu dilukiskan dalam larik /hati-hatilah selalu!/ tangan halus yang erat kau jabat/ kadang-kadang berkuku tajam/ sekali waktu akan menerkam/. Begitu cinta sang ibu kepada anaknya, sampai-sampai sang ibu berpesan kepada anaknya agar tidak malu-malu untuk kembali ke desanya apabila mengalami kesulitan. Ini dapat dilihat dari larik /kalau dirantau tak ada rumput menghijau/ wahai, sapi kerapanku!/ segeralah pulau ke kandang teduh!/ ke ribaan ibu yang kosong/ nasi ubi dan sayur singkong/.
            Membaca larik-larik dalam puisi Zawawi di atas mengingatkan kita pada puisi “Surat dari Ibu” karya Asrul Sani. Keduanya mengangkat persoalan yang sama, yaitu kedalaman cinta seorang ibu. Bedanya, kalau dalam puisi Zawawi, seorang ibu menyuruh anaknya pulang apabila sudah tidak ada rumput menghijau, Asrul Sani mengharapkan anaknya pulang apabila bayang telah pudar dan elang laut pulang ke sarang, seperti tampak pada kutipan berikut.
            SURAT DARI IBU
            …………………………………..
            Jika bayang telah pudar
            dan elang laut pulang ke sarang
            angin bertiup ke benua
            Tiang-tiang akan kering sendiri
            dan nakhoda sudah tahu pedoman
            Boleh engkau datang padaku!
            ………………………………….
            Kalau Zawawi dan Asrul mengharapkan anaknya pulang, Taufik Ismail tidak demikian. Taufik tidak ingin anaknya menoleh kembali ketika berangkat berdemonstrasi. Aku lirik tidak ingin anaknya ragu berdemonstrasi, meskipun logam memuat nama anak-anaknya. Hal itu tampak pada penggalan berikut.
            DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN
            ………………………………
            Tapi, ingatlah, sekali lagi
            Jika logam itu memang memuat nama kalian
            (Ibu itu tersedu sesaat)
            Ibu relakan
            ……………………………….
            Pergilah pergi
            Iwan, Ida dan Hadi
            Pergilah pergi
            Pagi ini
            (Mereka telah berpamitan dengan ibu tercinta
            Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
            Dan berangkatlah mereka bertiga
            Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

1966

            Puisi kedua yang membicarakan sosok ibu berjudul “Pengembara.” Ibu oleh Zawawi didudukkan sebagai sosok pelabuhan restu, yang dapat dilihat dalam larik /biru restumu, ibu!/ warna tahi tembaga di wajah langitmu/ telah hikmati langkahku/ yang suam-suam kuku/. Penyair menggambarkan restu ibu sebagai sesuatu yang berwarna biru. Biru yang dimaksud Zawawi adalah hijau, yang orang Madura menyebutnya sebagai “biru deun” atau biru daun. Warna hijau dipilih karena menggambarkan kesejukan, seperti daun-daun hijau di musim kemarau.
            Orang-orang Madura, termasuk pemudanya selalu merantau untuk mencari nafkah. Hanya orang-orang tertentulah yang betah hidup di Madura, termasuk Zawawi sendiri. Bahkan putra Bawean yang termasuk dalam koloni orang Madura, tidak menganggap seorang itu dewasa apabila belum merantau. Hal ini juga berlaku di Madura. Bahkan, aku lirik disuruh sang ibu merantau sebagai bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Hal itu ditemukan pada puisi Zawawi yang berkudul “Nyanyian Kampung Halaman.” Seperti yang tampak pada larik / _kacung, anakku sayang!/jejalah dulu tanah rantau/sampirkan selendang pelangi/di tingkat pisang./ Hanya saja, sebelum merantau, sang anak selalu tidak lupa meminta restu ibunya, dan di perantauan, sosok ibu tetap menjadi tempat mengadu apabila menemukan sesuatu, seperti dalam larik /di sudut yang sepi/kujumpai seorang petani/duhai, ibu!/matanya/bentangi paras tanah derita/dan langit biru/melas hatinya.
            Restu seorang ibu tidak hanya diperlukan apabila seorang anak akan merantau. Zawawi juga menggambarkan seorang ibu sebagai tempat meminta restu dalam mencari jodoh. Seperti dalam penggalan puisi berikut.
            Semerbak Mayang
            …………..
            Ke puncak gunung biru
            Restuku semerbak mayang
            Bika engkau dan dia
            Mau datang ke sana
            …………………
            __ aduhai, aduhai!
                Restuku semerbak mayang
            ………………………………
1966

            Puisi Zawawi yang jelas-jelas menggambarkan sosok ibu ditemukan pada halaman 20. Ibu bagi Zawawi adalah segala-galanya. Ibu sebagai sosok tempat mengaduh, ibu sebagai seorang yang dermawan yang tidak meminta ganti, ibu yang selalu memberi apa yang diminta sang anak, ibu sebagai pahlawan besar, mengalahkan ketenaran Joko Tole, seperti yang tampak pada larik /kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan/ namamu, ibu, yang kan kusebutkan paling dahulu/ lantaran aku tahu/ engkau ibu dan aku anakmu/.
            Tentunya Zawawi bukan tanpa alasan menempatkan ibunya di atas pahlawan setenar Joko Tole. Zawawi sadar bahwa dia anaknya yang tidak mungkin hadir di dunia tanpa perantara sang ibu. Zawawi tidak akan dapat hidup dengan sehat dalam rahim apabila tanpa sari-sari makanan yang disalurkan sang ibu. Bahkan mungkin, Zawawi tidak akan bisa hidup tanpa air susu yang diberikan sang ibu, meskipun sang ibu harus dengan mengorbankan keindahan salah satu bagian tubuhnya, yang dapat dilihat pada larik /bila aku merantau/ sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku/ di hati ada mayang siwalan memutikan sari-sari kerinduan/ lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar/.
            Kedudukan ibu yang digambarkan Zawawi ini tidak berbeda jauh dengan yang disampaikan oleh Amir Hamzah dalam puisinya yang berjudul Ibuku Dehulu. Meskipun sang ibu marah besar pada aku lirik, ibu tetap saja mau memaafkan, bak pahlawan yang tidak sedikit pun rasa dendam, seperti dalam kutipan berikut.
            IBUKU DEHULU
            ……………………………….
            Terus aku berkesal hati
            Menurutkan setan mengacau balau
            Jurang celaka terpandang di muka
            Kusingsong juga-biar cedera
            Bangkit ibu dipegangnya aku
            Dirangkumnya segera dikucupnya serta
            Dahiku birahi pancaran neraka
            Sejuk sentosa turun ke kalbu
            …………………………………
(Amir Hamzah)


            Aku lirik merasa bersalah karena telah membuat marah ibunya. Aku lirik merasa telah terjerumus rayuan setan. Tapi, sosok ibu tetap saja sebagai sosok pahlawan pemberi maaf, seperti tampak pada larik /bangkit ibu dipegangnya aku/ sebagai bentuk pemberian maaf dari seorang ibu.
            Ibu digambarkan sebagai tempat mengaduh juga ditemukan pada puisi ”Tembang Kasmaran”, bahkan mengenai hal yang sensitif pun, misalnya tentang cinta dan jodoh. Zawawi menginginkan pendapat ibu dan ayahnya sebelum dia melangkah ke pelaminan. Zawawi menginginkan istri yang dipilih tidak hanya dapat menyenangkan dirinya, tetapi juga ibu dan ayahnya. Dengan meminta pertimbangan ibunya, Zawawi berharap sang ibu dapat memberikan beberapa nasihat, seperti yang tampak pada larik/ inikah cinta, ibuku?/ sayup terdengar olehku tangis cucunda/ bolehkah aku labuhi, ayah?/- juga kau akan ditikam belati duka/.
            Puisi terakhir yang bercerita tentang sosok ibu pada puisi BOSA karya Zawawi berjudul “Bermalam di Rumah Ibu.” Zawawi ingin menceritakan kesederhanaan hidup ibunya melalui tempat tidur dari bambu, yang biasa disebut “ambin” oleh orang Madura, “Ambin” tak berkasur dan tak berkelambu. Bukan berarti desa Batangbatang bebas dari nyamuk, tetapi Zawawi benar-benar ingin menggambarkan kesederhanaan yang sangat pada ibuya, sampai-sampai untuk membeli kelambu saja tidak mampu /ranjang ibuku balai-balai bambu/ tak berkasur tak berkelambu/ tidurku telah berpacu mengejar/………………..
            Kesederhanaan seorang ibu bukan berarti tidak dapat menghidupi anaknya dengan layak. Zawawi merasa dapat hidup dengan layak seperti lainnya. Zawawi masih dapat tidur dengan lelap, damai, bersama dengan keramahan seorang ibu, seperti dalam larik /keramahanmukah itu, yang masuk bersama angin/ lewat sela dinding bambu?/ dilanjutkan dengan larik /demikianlah, aku akan tidur lagi walau sebentar/ melupakan beban dan sekian permintaan/.

Penutup
            Zawawi telah berusaha mengubah pandangan negatif masyarakat terhadap orang Madura lewat puisinya. Melalui sosok seorang ibu yang begitu anggun, ramah, dan sabar dapat diprediksikan bahwa orang-orang Madura yang dilahirkan dari rahim sosok ibu seperti ibu Zawawi akan dapat hidup layaknya masyarakat lainnya. Zawawi ingin meninggikan derajat ibunya, seperti yang disabdakan Rasulullah “Keridaan Allah SWT dalam keridaan ibu-bapak, dan kemurkaan Allah SWT dalam kemurkaan ibu-bapak.” Kalau pun ditemukan karakter-karakter keras dan terkesan ngawur dari beberapa orang Madura, itu hanyalah sebuah percikan-percikan ombak yang menghantam bibir pantai. Akhirnya, Zawawi ya Zawawi, dia akan terus berkarya lewat puisinya..

Daftar Rujukan
Imron, D Zawawi. 2000. Bantalku Ombak Selimutku Angin. Yogyakarta: Gama Media.
            Ismail, Taufiq. 1993. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Ananda.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma dan Analisis             Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wahyudi (Ed.). 1990. Konstelasi Sastra. Jakarta: PT Usmawi.

Komentar :

ada 4 komentar ke “KRITIK SASTRA”
Windi mengatakan...
pada hari 

gegegegegegegeg

Anonim mengatakan...
pada hari 

Puisi adalah karangan yang pekat dan padat isinya, dengan melalui media puisi D Zawawi Imran ingin benar - benar memberitahukan kepada orang bahwa patuh terhadap orang tua itu memang benar harus dijalankan oleh seorang anak terutama kepada seorang ibu?. kita pasti tahu surga itu ada di telapak kaki ibu dan siapa yang sudah pernah menyakiti hati ibu, apalagi sudah pernah mengatakan kata ah... kepada ibu itu merupakan dosa yang sangat besar. seperti puisi yang sudah dibuat oleh D Zawawi Imran ini yang berjudul ibu....
............................
Ibu adalah buah pertapaanku
Dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga tembang merebak bau sayap
Ibu menunjuk ke langit kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti
................................
Ibu merupakan orang yang sudah melahirkan kita sepatutnya kita harus menghormati seorang ibu bagaimana kondisinya ibu tetaplah seorang ibu dan tidak bisa digantikan oleh apapun didunia ini. Ibu merupakan seorang Pahlawan sejati, yang sudah mengandung kita, melindungi kita selama 9 bulan di dalam perut. itu merupakan saat - saat yang sangat menegangkan. bahkan rosulpun mewajibkan umatnya untuk menghormati seorang ibu, janganlah kita hidup seperti malin kundang yang sudah melupakan ibunya sendiri yang akhirnya dikutuk menjadi batu, dia mungkin sudah lupa siapa yang sudah memberinya air susu ketika haus, lapar ketika ingin makan, bahkan buang air besar siapa yang sudah merawatnya yaitu --ibu-- kan. maka dari itu kita harus sadar atas segala tindakan yang sudah kita lakukan kepada seorang ibu, kalau perlu kita harus sungkem kepada ibu dan meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah kita buat baik sadar maupun tidak sadar.
Nama : Yoga Setiawan
Kelas : A/2008
Nim :08188201140 / STKIP Pasuruan

DEVI MAULUDIAH OKTORA mengatakan...
pada hari 

untuk mengungkapkan perasaan kita, apalagi masalah yang paling mendalam seperti ungkapan perasaan kita kepada ibu alangkah baiknya apabila diungkapkan lewat sebuah puisi. Jelas terasa sekali bahwa dalam puisi diatas, sang tokoh benar - benar mengungkapkan keinginannya memeluk ibi melalui sebuah puisi.

DEVI MAULUDIAH OKTORA/PBSI/2008/C

Anonim mengatakan...
pada hari 

as..pak yoga bsa tdk kt ksh msk kmpulan puisix bantalku ombak selimutku angin pliss

Poskan Komentar