artikel ilmiah kebahasaan

STRUKTUR PERTUKARAN
DALAM KUPAS TUNTAS CALON PRESIDEN
DI TRANS TV
Senin, 26 April 2004


Oleh: Imron Rosidi



            Abstrak: Model struktur pertukaran adalah suatu perangkat aturan yang             digunakan oleh pewawancara dan narasumber dalam tukar menukar informasi.             Dalam KTCP ditemukan beberapa pola struktur pertukaran percakapan, yaitu [I R             R]. [I (R)],   [I RF], [I (R)/IR], dan pola baru I[I (R)R]. Selain itu,             dalam KTCP terjadi perpindahan topik. Beberapa alasan terjadinya perpidahan             topik dalam KTCP, misalnya: (1) adanya pergantian peserta percakapan, misalnya             dari moderator dengan narasumber menjadi pendengar dengan narasumber             sehingga terjadi perubahan situasi; (2) adanya perbedaan pengetahuan peserta             percakapan, dan (3) adanya keinginan peserta percakapan untuk mengetahui hal             lain setelah percakapan berkembang.

Kata Kunci: Struktur pertukaran, perpindahan topik, Inisiasi, Respon, feedback

            Kupas Tuntas Calon Presiden (KTCP) merupakan sebuah acara di televisi yang menghadirkan salah satu calon presiden untuk diwawancarai dalam rangka mengetahui visi dan misi sang calon. Dalam acara tersebut terjadi dialog antara pewawancara dari Trans TV (P1) dengan calon presiden sekaligus sebagai narasumber (N), dua wakil mahasiswa (P2 dan P3) dengan calon presiden, serta pendengar (P4 s.d. P14) dengan calon presiden, serta antara P1 dengan (P2 s.d. P14). Dialog dipandu oleh seorang moderator yang sekaligus bertindak sebagai pewawancara.
            Sebagai bentuk wacana dialog dan polilog, dalam acara KTCP terjadi alih tutur antara P1, N, dan P2 s.d. P14. Dalam KTCP, P1 selalu mengambil giliran pertama untuk memulai rangkaian alih tutur karena P1 juga bertindak sebagai moderator. Alih tutur beroperasi sesuai dengan sistem pengaturan yang telah disepakati oleh anggota KTCP. Alih tutur menggambarkan keteraturan proses percakapan antara P1 dengan N, dan P2 s.d. P14 dengan N.
            Pergantian tutur dalam KTCP diawali dengan adanya pertanyaan dari P1 sebagai moderator. Moderator setelah menyampaikan pertanyaan akan dilanjutkan dengan jawaban dari narasumber. Pergantian tutur juga ditandai dengan acungan tangan dari partisipan (P2 s.d. P14) yang telah memproklamasikan dirinya sebagai calon penanya. Mengacungkan tangan merupakan suatu norma meminta izin kepada moderator untuk mengambil alih pembicaraan.
            Hal di atas sesuai dengan kaidah pergantian tutur yang dikemukakan oleh Sack, dkk (dalam Levinson, 1983). Menurut Sack, peralihan tutur mengikuti suatu kaidah dasar. Kaidah dasar yang pertama, jika pergantian tutur itu telah ditentukan dengan menunjuk pembicara berikutnya, peserta yang ditunjuk itulah yang berhak untuk berbicara pada giliran berikutnya. Kedua, jika pergantian tutur tidak ditentukan sebelumnya, peserta percakapan itu akan menentukan sendiri siapa yang harus berbicara pada giliran berikutnya setelah pembicara terdahulu memberikan kesempatan pada peserta lainnya. Ketiga, jika pergantian tutur tidak ditentukan sebelumnya dan peserta yang lain tidak mengambil inisiatif untuk menjadi pembicara, pembicara yang terdahulu dapat melanjutkan pembicaraannya.
            Alih tutur menggambarkan keteraturan proses percakapan dalam KTCP. Wujud keteraturan itu secara mudah dapat dilihat dari rangkaian tindak tutur yang direpresentasikan menjadi pasangan berdekatan (adjacency pairs). Pada hakikatnya, pasangan berdekatan merupakan rangkaian dua tuturan yang bersebelahan satu sama lainnya dan dihasilkan oleh dua penutur yang berbeda (Schegloff dan Sacks dalam Duranti, 2000:250), atau rangkaian dua tuturan yang berdekatan yang dihasilkan oleh P yang berbeda dan diurutkan sebagai bagian pertama dan bagian kedua (Schiffrin, 1994:340).
            Pasangan ujaran terdekat terdiri atas dua ujaran. Ujaran pertama merupakan ujaran penggerak atau pemicu ujaran kedua. Ujaran kedua merupakan tindak lanjut atau tanggapan atas ujaran pertama. Untuk itu, Cook (1989:54) membedakan ujaran tanggapan (ujaran kedua) menjadi dua macam, yaitu ujaran yang disukai dan tidak disukai.
            Selanjutnya, peralihan tutur tidak hanya mengikuti pola pasangan ujaran terdekat. Ricahard dan Schmidt (1983:141) menyatakan bahwa peralihan tutur mempunyai kaitan erat dengan pencalonan topik yang dibicarakan. Peralihan tutur itu dapat terjadi apabila salah satu peserta percakapan yang mendukung sebuah topik, memperluas topik, mengantarkan topik baru, atau mengubah topik yang sedang dibicarakan. Pola peralihan tutur itu memerlukan pemahaman tentang topik. Untuk menganalisis pola alir tutur perlu dipahami pergerakan atau peralihan topik (topical action).
            Dalam kajian ini, ada dua fokus masalah yang dibahas, yaitu (1) pola struktur pertukaran dalam wacana KTCP, dan (2) pola perpidahan topik dalam wacana KTCP. Masalah pertama dikaji dengan menggunakan kerangka teori yang dikembangkan oleh Sack dan Stubbs, yaitu teori tentang peralihan tutur dan struktur pertukaran dalam wacana percakapan, sedangkan teori yang dikembangkan oleh Keenan dan Schieffelein digunakan untuk menganalisis masalah kedua.

Struktur Pertukaran dan Perpindahan Topik
            Bangun struktur wacana dapat diketahui dan dideskripsikan berdasakan dua hal pokok. Pertama, berdasarkan tata urutan informasi yang terdapat dalam wacana. Kedua, berdasarkan struktur dialog dalam tuturan. Berdasarkan hal pertama, bangun struktur wacana tertata dari suatu komponen informasi yang bersifat umum menuju ke komponen informasi yang khusus, atau sebaliknya, dari komponen informasi yang besifat khusus menuju ke komponen informasi yang bersifat umum (pola deduktif dan induktif). Berdasarkan hal kedua, struktur bangun wacana dapat dilihat dalam struktur gilir-bicara dalam wacana dialog. Dalam wacana jenis ini terdapat mekanisme pertukaran dalam tuturan antara pewawancara (P) dengan narasumber (N). Antara P dan N terdapat mekanisme petukaran tuturan. Pewawancara akan berbicara terlebih dahulu kemudian narasumber berbicara kemudian. Dalam hal ini, N bersifat memberikan respon kepada            P.   Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan dialog berikut ini.
           P1: Pemirsa, dalam acara Kupas Tuntas Calon Presiden kali ini, telah hadir di                  hadapan kita, seorang pejuang demokrasi, ketua Dewan Suro PKB, Gus Dur.                  Assalamualaikum Gus.
           N : Waalaikum salam
           P1: Ini Gus Dur, apa memang menjadi presiden itu menyenangkan sekali sehingga                  Gus Dur ingin naik lagi?
           N : Sebenarnya   ada   sebuah catatan kecil bahwa saya sendiri tidak ingin jadi                  presiden.
           P1: Nyatanya kok mencalonkan Gus?
           N : Oh bukan, yang mencalonkan kiai-kiai (pendengar tertawa) Jangan tertawa                  dulu (pendengar bertepuk tangan) Anda mulai sinis boleh saja, itulah                  kenyataannya. Memang kenyataannya begitu. Membuat PKB pun saya disuruh                  PBNU.
Kupas Tuntas Calon Presiden   
12 April 2004 di TRANS TV   


            Struktur percakapan dapat pula ditentukan oleh media yang digunakan pada saat melakukan komunikasi. Dalam percakapan melalui telepon, misalnya, terdapat mekanisme tertentu yang mengatur distribusi gilir-bicara. Dalam hal ini, penerima (N) telepon yang berbicara terlebih dahulu. N sebenarnya tidak menjawab pertanyaan tetapi menanggapi panggilan. Tanggapan atau respon dari N ini berfungsi sebagai pembuka percakapan. Setelah itu, giliran penelepon yang memunculkan topik pembicaraan. Dengan demikian, pola struktur gilir-bicara tidak bermula dari pembicara (pemanggil), tetapi bermula dari penerima telepon sebagai N. Selanjutnya mekanisme struktur gilir-bicara akan berlangsung seperti halnya dalam percakapan biasa.
            Menurut Schegloff (dalam Silverman, 1993:128), urutan gilir-bicara (panggilan-jawaban) memiliki ciri-ciri yang sama dengan giliran lain yang berhubungan (misalnya panggilan-jawaban, sapaan) yang digolongkan sebagai pasangan berdekatan atau pasangan minimal. Setelah pembukaan percakapan selesai, biasanya pemanggil akan berbicara lebih lanjut. Interaksi selanjutnya akan bersifat kondisional. Setelah itu, ada kewajiban menjawab di mana jawaban terhadap panggilan bersifat pertanyaan seperti apa, halo, ya, dan sebagainya.
            Adanya pasangan berdekatan seperti yang terlihat pada tuturan di atas sebenarnya merupakan gejala alamiah dalam proses percakapan. Bila dipandang dari segi paham behavioristik yang mendasari pandangan struktural, proses percakapan berkaitan dengan proses stimulus-respons. Stimulus tertentu dari P akan menimbulkan respons tertentu pula dari N, atau sebaliknya. Proses stimulus-respons yang berulang akan menimbulkan kebiasaan dan keteraturan dalam percakapan. Dengan demikian, pasangan berdekatan/kesesuaian respon itu dapat tercipta.
            Dalam suatu percakapan (komunikasi) yang wajar, proses interaksi biasanya berlangsung secara wajar dan lancar. Antara P dan N melakukan interaksi sesuai dengan struktur gilir-bicara, yakni terciptanya proses percakapan yang dimulai dengan pertanyaan P dan jawaban secara wajar dari N. Dalam kenyataannya, tidak semua proses interaksi berjalan seperti yang dikehendaki itu. Kadang-kadang suatu pertanyaan (stimulus) tidak diikuti oleh jawaban (respons) yang wajar. Schegloff (dalm Brown dan Yule, 1996:230) menyatakan bahwa struktur interaksi itu dapat diganggu oleh rangkaian sisipan. Dalam hal ini, suatu pertanyaan biasanya tidak diikuti oleh jawaban, yakni jawabannya ditangguhkan. Dalam kasus seperti ini, N tidak langsung menjawab pertanyaan, tetapi memberikan pertanyaan yang berbeda.
            Dalam wacana percakapan, struktur pertukaran serta hal-hal yang berkaitan dengan peralihan gilir-bicara sangat dominan dalam mendukung kebutuhan wacana. Dalam peristiwa komunikasi yang melibatkan beberapa partisipan yang saling berinteraksi, keteraturan urutan ujaran merupakan suatu hal yang sangat penting. Urutan ujaran yang teratur membuat interaksi berjalan dengan baik sebagaimana yang dikehendaki. Maksudnya, semua partisipan saling memahami sehingga didapat sesuatu yang bermakna dari interaksi tersebut.
            Adanya keteraturan urutan ujaran dalam wacana percakapan ditandai oleh adanya pola tingkah laku yang teratur dalam kaitannya dengan hubungan timbal balik. Pola tingkah laku tersebut merupakan seperangkat aturan yang mengikat seseorang dalam melaksanakan hubungan timbal balik dalam suatu interaksi verbal. Hal itu dikenal pula dengan istilah struktur pertukaran, yakni seperangkat aturan yang digunakan oleh peserta percakapan dalam suatu interaksi.
            Sehubungan dengan hal di atas, Stubbs (1983:133) menjelaskan bahwa pertukaran dapat digunakan untuk melihat koherensi wacana percakapan. Melalui struktur pertukaran yang teratur, hubungan koherensi dalam wacana lebih dipahami. Sebaliknya, struktur pertukaran yang tidak baik menyebabkan kesulitan dalam memahami hubungan koherensi antarkomponen wacana.
            Sinclair dan Coulthard (dalam Stubbs, 1983:133) mendeskripsikan bahwa pertukaran merupakan satuan terkecil dalam interaksi. Suatu pertukaran terdiri dari beberapa komponen, yaitu inisiasi (I), respon (R), dan feedback (F). Insiasi atau pemicu berfungsi sebagai pembuka percakapan atau interaksi. Inisiasi diikuti oleh sebuah respon atau tanggapan. Selanjutnya, respon atau tanggapan diikuti oleh feedback atau umpan balik. Kehadiran feedback atau umpan balik ini dapat bersifat manasuka, yakni suatu tanggapan mungkin diikuti oleh umpan balik mungkin juga tidak. Dalam wacana percakapan (interaksi) di kelas, misalnya, ketiga komponen tersebut (inisiasi, respon, feedback) biasanya muncul dalam interaksi.
            Guru : Manusia memerlukan paru-paru untuk apa? (a)
            Siswa : Untuk bernapas. (b)
            Guru : Benar. (c)

            Dari data di atas dapat dilihat bahwa ujaran (a) merupakan inisiasi, ujaran (b) adalah respon, dan ujaran (c) adalah feedback. Di sini terlihat pula bahwa sebuah insiasi diikuti oleh respon, dan selanjutnya ada feedback yang berfungsi sebagai penutup. Menurut Sinclair (dalam Stubbs, 1983:133), pola urutan seperti itu [IRF] merupakan struktur dasar wacana percakapan.
            Selanjutnya, Stubbs (1993:133) menyampaikan kemungkinan ragam struktur pertukaran secara teoretis, yaitu: (a) [IRF], yakni struktur penuh, yang dalam hal ini P mendapat respon verbal secara penuh oleh N, (b) [I R (F)], yakni struktur terjadi ketika P memberikan petunjuk agar N melakukan sesuatu sehingga R merupakan respon nonverbal, dan (c) [I (R)], yakni struktur ketika P menyampaikan informasi proposisional yang tidak perlu direspon oleh N. Dalam struktur variasi tersebut, (R) dan (F) berarti mungkin ada mungkin tidak.
            Mengenai urutan topik dalam wacana percakapan, Keenan dan Schieffelin (1983:67) mengatakan bahwa para P dalam percakapan biasanya memperhatikan masalah urutan topik lama-baru. Para peserta percakapan biasanya tidak mengembangkan topik yang dibicarakan, melainkan mengembangkan topik yang tergolong baru. Selain topik lama-baru, ada beberapa pertukaran dalam wacana percakapan yang membicarakan topik yang nyata, topik yang referensinya ditunjuk, topik yang referensinya dipegang, topik yang referensinya dilihat, topik yang referensinya didengar, dan topik berkelanjutan.

Pola Struktur Pertukaran dan Perpindahan Topik dalam Wacana KTCP
Pola struktur pertukaraan KTCP

            Dalam Kupas Tuntas Calon Presiden (KTCP) yang ditayangkan Trans TV setiap hari Senin terjadi pertukaran tuturan antara moderator sekaligus penanya dengan narasumber sebagai calon presiden (1), antara wakil mahasiswa dengan narasumber (2), dan juga antara peserta dengan narasumber (3), seperti yang tampak pada kutipan berikut.
            (1) P1: Ini Gus Dur, apa memang menjadi presiden itu menyenangkan sekali                        sehingga Gus Dur ingin naik lagi?
                  N : Sebenarnya ada sebuah catatan kecil bahwa saya sendiri tidak ingin jadi                        presiden.

            (2) P2: Jadi, sampai saat ini Gus Dur masih tetap ngotot menjadi presiden karena                        katanya masih ada e…. dukungan dari kiai. Tapi Gus Dur masih sering                        bertemu dengan orang-orang eks poros tengah.
                 N : Sebenarnya mau saya tolak. Apalagi di situ ada saudara Hidayat Nur                        Wahid. Saya itu pada orang yang muda itu senang sekali.

            (3) P6: Pada Gus Dur, apakah ada keinginan ke depannya mengembalikan Akbar                        Tanjung ke posisi semula, ke dalam penjarah (hadirin bertepuk tangan)
                 N : Ya, tentu saja, tetapi kita akan menggerakkan aparat hukum.

               Dalam kupas Tuntas Calon Presiden ditemukan beberapa pola struktur pertukaran. Pola struktur pertukaran tersebut dapat ditemukan pada pertukaran tuturan antara keempat peserta tutur, yaitu (1) pewawancara sekaligus sebagai moderator, (2) calon presiden sebagai nara sumber, (3) wakil mahasiswa sebagai penanya, serta peserta sebagai pendengar sekaligus penanya. Pola tuturan yang pertama adalah Inisiasi (I) yang dilanjutkan dengan respon (R) atau pola struktur [IR], seperti yang tampak pada kutipan berikut.
            (4) P1: Kalau Gus Dur sendiri khan juga pernah datang sendiri ke rumah                        Siswono. Itu artinya apa Gus? (1)
                  N : Ya, karena saya …. Beliau juga pernah datang ke rumah saya. Masak                        saya tidak ke rumahnya. (2)
                  P1: Bukan berarti ada pertimbangan untuk menggandeng. (3)
                  N : Nggak ada. Digandeng kalau mau? (tertawa) Sudah capek-capek mau                        gandeng ngak mau. (4)
                  P1: Ini Gus, kalau kita melihat dari sumber-sumber yang lumayan cukup                        akurat, Gus Dur ini kalah populer dibandingkan dengan calon-calon                        lainnya. Kalau menurut Gus Dur bagaimana? (5)
                  N : Terserah, yang penting tidak ngadep. Itu saja. (6)

            Unit percakapan (4) menunjukkan pola struktur pertukaran [IR]. Ujaran (1), (3), dan (5) merupakan suatu suatu pertanyaan yang memicu ujaran berikutnya. Ujaran itu tidak tergantung pada ujaran sebelumnya sehingga ujaran tersebut tidak dapat diperluas dengan penambahan bagian ujaran sebelumnya. Ujaran tersebut dianggap sebagai ujaran pemicu atau inisiasi (I), sedangkan ujaran (2), (4), dan (6) merupakan respon (R) dari ujaran (1), (3), dan (5). Respon tersebut berupa jawaban terhadap pertanyaan pada ujaran sebelumnya yang merupakan pasangan berdekatan atau pasangan minimal.
Pola struktur percakapan [IRF] juga ditemukan dalam KTCP, yaitu pola inisiasi, respon, dan feedback. Pada umumnya, inisiasi pada KTCP berupa pertanyaan yang akan direspon dengan jawaban. Hanya saja, ada beberapa inisiasi (I) berupa tawaran dan persilaan yang disampaikan moderator kepada N maupun peserta diskusi lainnya. Hal itu dapat dilihat pada unit percakapan berikut.
            (5) P1: (memotong) kalau … kalau Gus Dur harus diperiksa lagi juga, apa masih                        ada kesalahan dari Gus Dur sehingga …. (7)
                  N : (memotong) Ya … bukan … karena saya yakin, saya benar betul …. (8)
                  P1 : Oke …. (9)

            Pada unit percakapan di atas tampak ada pola strktur pertukaran yang dimulai dengan I, dilanjutkan dengan R, dan diakhiri dengan F. Ujaran (7) pada unit percakapan (5) merupakan inisiasi berupa kalimat pertanyaan yang belum sempurna karena harus dipotong oleh N. N langsung memberikan respon terhadap pertanyaan yang diajukan oleh P meskipun pertanyaan belum selesai. Hal ini bisa terjadi karena N telah memahami maksud yang ingin disampaikan oleh P. Unit percapakan diakhiri dengan ujaran oke sebagai feedback (F) yang berfungsi sebagai penutup.
            Pada wacana percakapan KTCP juga ditemukan pola struktur percakapan yang dimulai dengan inisiasi berupa kalimat pernyataan tanpa direspon oleh N. Pola [I (R)] ini pada umumnya terjadi karena P sebagai moderator ingin memberhentikan sejenak percakapan tersebut karena akan disela iklan. Meskipun P seakan-akan meminta izin kepada N untuk mengakhiri sejenak percakapan, N jarang sekali atau bahkan tidak pernah memberikan respon, seperti yang tampak pada unit percakapan berikut.
            (6) P1: Barangkali kita tunggu jawabannya ya Gus ya ….., Oke …
                       Kupas Tuntas akan saya lanjutkan sesaat lagi. (10)
                       IKLAN

            (7) P1: Baik, saya potong dulu Gus, nanti kita lanjutkan lagi Kupas Tuntas harus                        saya potong sebentar untuk mendengar iklan berikut. (11)
                       IKLAN

            Dari kedua unit percakapan di atas tampak bahwa P sebenarnya meminta respon dari N, yaitu Gus Dur sebagai narasumber dengan ujaran Barangkali kita tunggu jawabannya ya Gus ya ….., dan Baik, saya potong dulu Gus. Hanya saja, N hanya diam saja, tanpa mengiyakan, misalnya dengan ujaran ya atau silakan. Padahal, ujaran P bisa saja direspon, dan respon tersebut bersifat manasuka.
            Pola [I (R)] muncul pada KTCP tidak hanya dikarenakan adanya iklan, tetapi juga ketika P mempersilakan peserta lainnya untuk mengajukan pertanyaan kepada N, seperti yang tampak pada unit percakapan berikut.


            (8) P1: Oke … Gus, saya kasih waktu untuk yang lain. Ya … yang pojok sana.                        (12)
                  P8: Langsung saja Gus Dur. Menurut saya, Anda telah gagal memimpin                        negara ini (hadirin tepuk tangan). Anda tidak bisa membawa perubahan                        pada bangsa Indonesia. Saran saya, mengapa Anda tidak memberi                        kesempatan kepada kader-kader PKB terbaik lainnya. Saya kira kader PKB                        lainnya masih banyak yang mempunyai kredibilitas, mempunyai integritas,                        dan sebaginya. Bagaimana e … kalau seaindainya Anda jadi presiden                        besok menangani proses pemberantasan korupsi di Indonesia, apa yang                        sampai saat ini mandul. Yang ketiga, e…… (dipotong) (13)

            Ujaran (12) dari pewawancara yang berupa inisiasi (I) di atas sebenarnya dapat direspon oleh P8 dengan ujaran terima kasih, tetapi justru P8 langsung mengajukan pertanyaan kepada N. Hal ini bisa saja terjadi karena respon tersebut bersifat manasuka, dalam arti tidak akan mengganggu kelancaran percakapan meskipun P8 tidak memberikan respon.
            Ujaran dari moderator (P1) yang ditujukan kepada peserta KTCP (P4) tidak dijawab oleh peserta. Peserta justru langsung mengajukan pertanyaan kepada narasumber dan langsung direspon oleh narasumber, seperti yang tampak pada unit percakapan berikut.
            (9) P1: Oke, saya beri waktu kepada hadirin. Silakan. (14)
                 P4: Mungkin, kalau melihat standar kesehatan, gus Dur lolos tidak. Kalau                        tidak lolos, kira-kira itu siapa calon yang menggantikan Gus Dur? (15)
                 N : Pada tanggal 25 sampai dengan 27 ini akan diadakan Mukernas PKB.                        Merekalah yang menentukan kriterianya, lalu Tim 9 akan menentukan                        orangnya. Berdasarkan kriteria tersebut, ah ini tanya pada Pak Alwi (P.                        Alwi yang ikut hadir tertawa) (16)
            Ujaran (14) merupakan pemicu ujaran yang berdekatan, yaitu ujaran (15). Hanya saja, ujaran (15) tersebut bukan ditujukan kepada moderator (P) yang memberikan waktu kepada peserta percakapan, tetapi langsung ditujukan kepada N sehingga N memberikan respon (R) terhadap pertanyaan peserta (P4). Unit percakapan seperti di atas memiliki pola struktur pertukaran [I (R)/IR]. Percakapan dimulai dengan inisiasi yang merupakan pemicu munculnya ujaran selanjutnya, yang langsung ditujukan kepada narasumber dan direspon (R) oleh N. Pola struktur pertukaran seperti ini sering muncul pada KTCP.
            Pola struktur lainnya dalam KTCP adalah [I (I (R)) R]. Percakapan dimulai dengan ujaran P yang bertujuan untuk membantu narasumber mengingat pertanyaan kedua dari peserta percakapan. Narasumber menunda jawaban terhadap pertanyaan peserta percakapan yang diulang oleh P. N justru mengajukan pertanyaan baru kepada yang tidak membutuhkan respon dari pasangan terdekatnya, dan percakapan baru diakhiri dengan respon (R) narasumber terhadap pertanyaan peserta (P11). Unit percakapan dengan pola tersebut tampak di bawah ini.
            (10) P1: Banser NU, Gus (17)
                   N : Mengapa menyerbu jawa Pos? Karena Jawa Pos keterlaluan (hadirin                        tertawa) Saya itu ….. saya marahi mereka …. (P1: mereka ini …) Ya,                        yang melakukan perusakan-perusakan itu, tetapi ada sebabnya. Sebabnya                        memang Jawa Pos memulai dengan fitnah-fitnah terhadap diri saya. (18)
            Ujaran (17) merupakan inisiasi (I) atau pemicu munculnya ujaran (18). Hanya saja, narasumber tampaknya mengajukan pertanyaan baru yang sebenarnya memicu respon (R) moderator ataupun dari peserta percakapan. Percakapan justru dilanjutkan narasumber dengan merespon atau menjawab pertanyaan peserta percakapan sebelumnya. Hal itu dilakukan setelah narasumber memahami pertanyaan kedua dari peserta percakapan.

Pola perpindahan topik dalam wacana KTCP
               Topik merupakan salah satu unsur penting dalam wacana percakapan, termasuk dalam KTCP. Howe (1983:5) mengatakan bahwa topik merupakan syarat terbentuknya wacana percakapan. Dalam KTCP, topik utama percakapan antara pewawancara atau moderator dengan narasumber, dan antara peserta (pendengar) dengan narasumber berkisar tentang kesiapan narasumber dalam mencalonkan diri sebagai presiden
               Peralihan tutur yang terjadi dalam KTCP tidak hanya mengikuti pola pasangan ujaran terdekat, tetapi juga berkaitan erat dengan pencalonan topik yang dibicarakan. Peralihan tutur itu dapat terjadi apabila salah satu peserta percakapan yang mendukung sebuah topik, memperluas topik, mengantarkan topik baru, atau mengubah topik yang sedang dibicarakan. Para peserta percakapan biasanya tidak mengembangkan topik yang dibicarakan, melainkan mengembangkan topik yang tergolong baru.
               Berdasarkan analisis, ada beberapa alasan terjadinya perpidahan topik dalam KTCP, misalnya: (1) adanya pergantian peserta percakapan, misalnya dari moderator dengan narasumber menjadi pendengar dengan narasumber sehingga terjadi perubahan situasi; (2) adanya perbedaan pengetahuan peserta percakapan, dan (3) adanya keinginan peserta percakapan untuk mengetahui hal lain setelah percakapan berkembang. Topik-topik percakapan dalam KTCP yaitu: alasan pencalonan Gus Dur, standar kesehatan Gus Dur, keotoriteran Gus Dur, hukum, pertentangan sipil militer, kedemokrasian Gus Dur, perusakan Banser terhadap kantor Jawa Pos, hak minoritas, kebijakan perekonomian Gus Dur, dan rencana Gus Dur apabila gagal menjadi presiden.
               Perpindahan topik dengan alasan pergantian peserta percakapan dapat dilihat pada kutipan berikut.
               (11) P1: Ini Gus, kalau kita melihat dari sumber-sumber yang lumayan cukup                        akurat, Gus Dur ini kalah populer dibandingkan dengan calon-calon                        lainnya. Kalau menurut Gus Dur bagaimana? (19)
                   N : Terserah, yang penting tidak ngadep. Itu saja. (20)
                   P1: Oke, saya beri waktu kepada hadirin. Silakan. (21)
                   P4: Mungkin, kalau melihat standar kesehatan, gus Dur lolos tidak. Kalau                        tidak lolos, kira-kira itu siapa calon yang menggantikan Gus Dur? (22)
               Ujaran (19) pada unit percakapan (11) di atas bertopik kepopuleran Gus Dur dibanding dengan calon presiden lainnya. Topik ini selanjutnya bergeser ke topik kesehatan Gus Dur, seperti pada ujaran (22).. Pergeseran atau perpindahan topik itu akibat pergantian peserta percakapan, dari P1 dengan N menjadi P4 dengan N. Pemilihan topik pembicaraan oleh P di atas dipengaruhi oleh perubahan situasi dan konteks, serta perbedaan keinginan antara P1 dengan P4.
               Perpidahan topik percakapan juga ditemukan pada unit percakapan berikut.

               (12) P7: Gus Dur juga sebagai Kiai, e …. pernah membaca atau mendengar                        riwayat Khalifah Umar bin Khotob ketika menjadi khalifah, e …. Di mana                        beliau tidak bisa tidur nyenyak karena melihat rakyatnya masih ada yang                        kelaparan. Kita tahu bahwa selama ini pemerintah kita sering sekali                        melakukan penggusuran, kelaparan, dan … banyak rakyat jelata (hadirin                        tepuk tangan) terus …. Seandainya Gus Dur terpilih menjadi presiden                        nanti, apakah Gus Dur bisa tidur nyenyak seperti pemerintah sebelumnya                        sedangkan rakyat kelaparan (tepuk tangan) (23)
                   N : Baik, tentu semua hal harus disesuaikan dengan keadaan. Ya …. Artinya                        tetap berpegang pada prinsip yang dilakukan oleh Khalifah Umar itu, tetapi                        ya tidak bisa dong jalan-jalan kaki berkeliling dan tidak bisa tidur melihat                        rakyatnya. Indonesia ini seberapa gedenya. Ya … jadi Anda jangan                        menggunakannya seperti anak-anak. (24)
                   P1: Oke … Gus, saya kasih waktu untuk yang lain. Ya … yang pojok sana.                        (25)
                   P8: Langsung saja Gus Dur. Menurut saya, Anda telah gagal memimpin                        negara ini (hadirin tepuk tangan). Anda tidak bisa membawa perubahan                        pada bangsa Indonesia. Saran saya, mengapa Anda tidak memberi                        kesempatan kepada kader-kader PKB terbaik lainnya. Saya kira kader PKB                        lainnya masih banyak yang mempunyai kredibilitas, mempunyai integritas,                        dan sebaginya. Bagaimana e … kalau seaindainya Anda jadi presiden                        besok menangani proses pemberantasan korupsi di Indonesia, apa yang                        sampai saat ini mandul. (26)

               Unit percakapan (12) di atas juga menunjukkan adanya pertukaran topik percakapan, dari topik gaya kepemimpinan ke topik proses penanganan korupsi pada ujaran (26). Pertukaran topik percakapan tersebut dimungkinkan karena perbedaan keingintahuan peserta percakapan.
               Tidak semua perubahan peserta percapakan mengakibatkan pertukaran topik. Peserta tetap memilih topik percakapan yang sama karena peserta ingin mendapat penjelasan yang lebih dari nrasumber, seperti yang ada pada unit percakapan berikut.
               (13) P2: Jadi, sampai saat ini Gus Dur masih tetap ngotot menjadi presiden                        karena katanya masih ada e…. dukungan dari kiai. Tapi Gus Dur masih                        sering bertemu dengan orang-orang eks poros tengah. (27)
                   N : Sebenarnya mau saya tolak. Apalagi di situ ada saudara Hidayat Nur                        Wahid. Saya itu pada orang yang muda itu senang sekali. (28)
                   P2: Tapi di surat kabar khan ada foto besar Gus, Pak Alwi mengangkat                        tangan tinggi-tinggi dengan tokoh lain, misal Pak Amin Rais. (29)
                   N : Biarkan saja. Saya dengan Pak Wiranto sering bertemu. (30)
                   P1: Artinya itu ya Gus, tidak harus tidak diartikan lain oleh orang lain. (31)
               Pada ujaran (27), (28), (29), (30, dan (31) di atas tidak terjadi perpindahan topik pembicaraan. Peserta percakapan tetap mempertahankan topik, meskipun peserta percakapan telah berubah. Topik percakan tetap tentang pertemuan Gus Dur dengan tokoh-tokoh nasionalis.
Kesimpulan
               Kupas Tuntas Calon Presiden (KTCP) merupakan sebuah acara di televisi yang menghadirkan salah satu calon presiden untuk diwawancarai dalam rangka mengetahui visi dan misi sang calon. Dalam KTCP, P1 selalu mengambil giliran pertama untuk memulai rangkaian alih tutur karena P1 juga bertindak sebagai moderator. Alih tutur beroperasi sesuai dengan sistem pengaturan yang telah disepakati oleh anggota KTCP. Alih tutur menggambarkan keteraturan proses percakapan antara P1 dengan N, dan P2 s.d. P14 dengan N.
               Pola pertukaran terdiri dari beberapa komponen, yaitu inisiasi (I), respon (R), dan feedback (F). Insiasi atau pemicu berfungsi sebagai pembuka percakapan atau interaksi. Inisiasi diikuti oleh sebuah respon atau tanggapan. Selanjutnya, respon atau tanggapan diikuti oleh feedback atau umpan balik.
               Peralihan tutur mempunyai kaitan erat dengan pencalonan topik yang dibicarakan. Peralihan tutur itu dapat terjadi apabila salah satu peserta percakapan yang mendukung sebuah topik, memperluas topik, mengantarkan topik baru, atau mengubah topik yang sedang dibicarakan. Pola peralihan tutur itu memerlukan pemahaman tentang topik. Untuk menganalisis pola alir tutur perlu dipahami pergerakan atau peralihan topik (topical action).
               Dalam KTCP ditemukan beberapa pola struktur pertukaran percakapan, yaitu [I R]. [I (R)], [I RF], [I (R)/IR], dan pola baru I [I (R)]R. Pola ini terjadi berulang-ulang dalam KTCP. Selain itu, dalam KTCP juga terjadi perpindahan topik karena: (1) adanya pergantian peserta percakapan, misalnya dari moderator dengan narasumber menjadi pendengar dengan narasumber sehingga terjadi perubahan situasi; (2) adanya perbedaan pengetahuan peserta percakapan, dan (3) adanya keinginan peserta percakapan untuk mengetahui hal lain ketika percakapan berkembang.

Daftar Rujukan
    Brown, G dan Yule, G. 1983. Analisis Wacana. Terjemahan oleh I. Soetikno. 1996.             Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
    Coulthard, Malcolm. 1979. An Introduction to Discourse Analysis. London: Longman             Group Ltd.
    Duranti, A. 2000. Linguistic Antrophology. Cambridge: University Press.
    Givon, Talmy. Syntax and Semantics. New York: Academic Press.
    Levinson, S.C. 1983. Pragmatic. Cambridge: Cambridge University Press..
    Sichffrin, Deborah. 1994. Approaches to Discourse. Oxford: Blackwell.
    Sinclair, J.Mch dan R.M. Coultrard. 1975. Towards on Analysis of Discourse. Oxford:             Oxford University Press.
    Stubbs, M. 1983. Discourse Analysis, The Sociolinguistik Analysis of Natural             Language. Chicago: The University of Chicago Press.
    Rani, A., Arifin, B., dan Martutik. 2004. Analisis Wacana, Sebuah Kajian Bahasa             dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.


Komentar :

ada 0 komentar ke “artikel ilmiah kebahasaan”

Poskan Komentar