Imron Kecil 2
Imron kecil memang hidup serba kekurangan. Sebagai pegawai rendahan, kedua orang tuaku menghidupi enam anaknya. Aku masih ingat ketika ibuku harus menyuruh hutang tetangga karena sudah tidak ada lagi yang dimakan. Tetapi, ayahku selalu menolak untuk berhutang. Kalau ini terjadi, sudah dapat dipastikan ada pertengkaran kecik kedua orang tuaku. Ayahku adalah orang yang takut berhutang, dan saat itu pulalah ibuku akan menangis. Akhirnya ibuku harus berjualan jajan rentengan untuk menambah penghasilan orang tuaku. Imron kecil selalu ingat ketika harus disuruh-suruh orang kampung untuk mendapatkan uang jajan. Imron yang tinggal di sidotopo Surabaya, kampung kecil di daerah pinggiran, tidak memiliki apa-apa selain tempat tinggal sederhana. Rumah yang terbuat dari diding sesek (anyaman bambu) ditempati delapan orang. Saya harus bisa hidup sesuai dengan kemampuan kedua orang tuaku. Imron kecil masih ingat ketika saya harus melihat ibuku yang sedang mencuci nasi basi agar bisa digoreng dengan garam. Nasi inilah yang bisa disantap adik dan kakakku. Imron kecil masih ingat ketika kedua orang tuaku mendidikku dengan disiplin dan keras. Aku harus mengaji dua kali dalam sehari, pukul 4 sebelum subuh aku harus ke mushollah, begitu juga sebelum Maghrib. Didikan orang tuaku itulah yang membuat aku bisa mengaji dan menjalankan semua perintah Allah. Ketika masuk usia sekolah, saya dimasukkan di SD negeri yang agak jauh dari rumah. Aku tidak mengerti mengapa hanya saya yang bersekolah agak jauh. Aku mulai bersekolah dengan berjalan kaki, sekita 30 menit baru bisa sampai. Aku ingat sepatu saya. Ibu bisa membelikan sepatu yang lebih besar dari ukuran kakiku. Aku yakin bukan karena nomor sepatuku tidak ada. Tapi aku yakin ada maksud dari kedua orang tuaku. Dengan ukuran yang relative lebih besar, ibuku tidak harus membelikan sepatuku setiap tahun. Ibuku selalu memberi gombal (bercak kain tidak terpai) di dalam bagian depan sepatuku agar sepatuku tidak terlepas ketika dipakai. Aku juga masih ingat ketika harus menyiapkan karet untuk kaos kakiku. Kaos kaki yang dibeli di pasar emperan tentunya tidak memiliki kualitas yang baik. Kaos kakiku selalu terpakai bertahun-tahun. Karet yang sudah longgar dapat diatasi dengan memberi karet gelang. Kaos yang sudah berlubang tidak membuat ibuku harus membelikan yang baru. Itu dilakukan agar senua anak-anaknya bisa bersekolah dan bisa makan, meskipun dengan makanan yang sangat sederhana. Kata-kata ibuku yang sampai sekarang sulit saya lupakan ketika makan adalah “im, jangan makan ikan banyak-banyak. Nanti kamu cacingan.” Aku nurut saja ketika ibuku harus memotong tahu menjadi empat untuk dibagikan ke anak-anaknya. Sisa lauk biasanya dimasukkan ke dalam almari yang dikunci. Saya juga masih ingat ketika adikku harus menyelipkan tahunya di bawah nasinya agar dapat tahu lagi. Tapi adikku yang satu ini sekarang juga sudah bergelar master dan menjadi widyaiswara di Depag Jatim. Meskipun saya tidak makan ikan banyak, tetap saja saya sering cacingan. Maaf, bahkan kadang keluar sendiri ketika saya harus buang air besar. Bersambung ………..

PTK SANG JUARA

Ptk Sang Juara
Oleh: Imron Rosidi, M.Pd

Mungkin di antara kita pernah merasa kecewa dalam sebuah lomba KTI, khususnya PTK. Karya tulis yang telah disusun dengan susah payah dalam waktu yang cukup lama tiba-tiba kalah. Padahal, kita sudah berusaha mengikuti beberapa teori tentang teknik membuat PTK yang baik, penggunaan bahasa ilmiah, dan sistematika yang telah ditentukan. Akan tetapi, mengapa PTK tersebut masih saja tidak juara? Ada beberapa syarat sebuah PTK bisa menjadi juara. Syarat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Judul PTK harus provokatif (menarik)
    Ada sebuah PTK yang tebal dengan lampiran yang lengkap. Akan tetapi, mengapa PTK
    tersebut tidak dinilai oleh dewan juri? Hal itu disebabkan dua hal, yaitu
    (1) judul tidak menggambaran sebuah PTK, dan
    (2) tidak menarik karena sudah biasa dan sering ditemukan di perpustakaan ataupun di
         internet.
    Judul PTK bercirikan empat hal, yaitu ada penyakit (masalah) yang akan ditingkatkan,
    ada obat (tindakan) yang digunakan, ada pasien (siswa) kelas berapa tindakan itu
    diberikan, dan ada rumah sakit (sekolah)tempat siswa tersebut belajar. Selain itu,
    tindakan yang diberikan hendaknya menarik dan bias membuat juri bertanya tentang
    jenis tindakan yang digunakan.
Contoh:
(1) Peningkatan kemampuan memahami jenis bangun dengan menggunakan media LCD
     siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan (kurang menarik)
(2) Peningkatan kemampuan memahami jenis bangun dengan menggunakan media PARET
     siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan (menarik)

2. Tindakan yang digunakan inovatif
    Inovatif yang dimaksud dalam PTK berupa tindakan hasil inovasi peneliti. Inovasi yang
    dimaksud adalah hasil kreativitas peneliti dengan menggabungkan berbagai media,
    model, metode, strategi,dan teknik pembelajaran. Saya teringat ketika ada seorang guru
    menggunakan model pembelajaran mozaik.Guru tersebut menjadi juara Lomba
    Keberhasilan Guru (LKG) tingkat nasional. Model mozaik yang dimaksud ternyata
    gabungan dari berbagai model pembelajaran yang telah kita kenal, mulai dari model
    TGT, Jagsaw, TPS, dan sebagainya. Di sinilah letak nilai inovasi yang ada.
Contoh:
(1) Penggunaan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan kemampuan memahami
     jenis paragraf siswa kelas VII A SMP Wahid Hasyim Mojokerto (kurang inovatif)
(2) Penggunaan metode tadarus untuk meningkatkan kemampuan memahami jenis
     paragraf siswa kelas VII A SMP Wahid Hasyim Mojokerto (inovatif)

3. Memiliki prosedur yang benar
    Sebuah PTK selalu ditandai dengan adanya siklus, bisa dua siklus, bisa juga tiga siklus.
    Tidak pernah ada sebuah PTK yang hanya ada satu siklus karena belum terlihat adanya
    peningkatannya.Kalau dibandingkan dengan prasiklus, bukanlah PTK, tetapi penelitian
    eksperimen. Hasil prasiklus sebagai kelompok kontrol, sedangkan hasil siklus satu
    merupakan kelompok eksperimen. Begitu&n juga tidak pernah ada PTK yang memiliki
    lebih dari tiga siklus karena kalau itu terjadi berarti tindakannya perlu diganti atau
    obatnya tidak manjur. Mengenai berapa pertemuan setiap siklusnya? Memang ada yang
    mengatakan bahwa setiap siklus diusahakan memiliki lebih dari satu pertemuan karena
    kalau hanya satu pertemuan dianggap program remidi, bukan PTK.

4. Lampirannya lengkap
    Lampiran dalam PTK sangat dibutuhkan untuk membuktikan; keabsahan hasil
    penelitian. Lampiran akan meyakinkan dewan juri apakah PTK tersebut benar-benar
    dilakukan atau sekadar laporan palsu. Hal-hal yang perlu dilampirkan antara lain RPP
    masing-masing siklus, instrumen yang digunakan (lembar observasi dan tes), contoh
    hasil kerja siswa, danfoto kegiatan.

Inilah yang dapat saya berikan kepada pembaca dalam sebuah tulisan singkat ini. Apabila ada yang perlu didiskusikan, pembaca bisa menghubungi saya dalam email imron_1966@yahoo.co.id atau no HP 081210500199. Terima kasih, semoga bermanfaat. amin

MODEL RPP BERDASARKAN KURIKULUM 2013

MODEL RPP BERDASARKAN KURIKULUM 2013
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA SMK
KODE KD : 3.7


SATUAN PENDIDIKAN SMK NEGERI 2 PASURUAN
MATA PELAJARAN SEJARAH INDONESIA
KELAS/SEMESTER X/2 (DUA)
TOPIK Kedatangan Islam ke Nusantara
ALOKASI WAKTU 2 x 45 menit ( 1 pertemuan)

A. KOMPETENSI DASAR
Kompetensi
Dasar
1.1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.1 Menghayati dan Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-
      jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai),
      santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai
      bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
      secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
      menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
      dunia.
3.7 Menganalisis berbagai teori tentang proses masuk dan
      berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia.
4.7 Mengolah informasi mengenai proses masuk dan perkembangan
      kerajaan Islam dengan menerapkan cara berpikir kronologis, dan
      pengaruhnya pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini
      serta mengemukakannya dalam bentuk tulisan.

B. INDIKATOR PENCAPAIAN PEMBELAJARAN
    1. Menganalisis berbagai teori  tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan
        kebudayaan Islam Indonesia.
    2. Merumuskan  pendapat  tentang  teori  yang  ada  tentang prosesnya masuk dan
        berkembangnya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
    Melalui diskusi, mengamati, dan membaca referensi, siswa dapat:
    1. Menunjukkan sikap toleransi sesama pemeluk agama di Indonesia.
    2. Menunjukkan  sikap  bangga  terhadap  tokoh  pelontar  teori  penyebaran Islam ke
        nusantara.
    3. Menunjukkan  kemampuan  menganalisis  berbagai  teori tentang proses masuk dan
        berkembannya agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia.
    4. Menunjukkan kemampuan menilai teori yang paling tepat tentang masuknya Islam ke
        nusantara
    5. Menunjukkan    keterampilan   menyusun   rumusan   tentang    proses  masuk   dan
        perkembangnya Islam ke Indonesia dalam bentuk flowchat.

D. MATERI AJAR
    1. Kedatangan Islam ke Nusantara
    2. Islam dan Jaringan Antarpulau

E. PENDEKATAN, STRATEGI, DAN MOTODE PEMBELAJARAN
    1. Pendekatan : Saintifik
    2. Strategi/model: TGT
    3. Metode

Ceramah Kedatangan Islam ke nusantara
Diskusi
Kelompok
Menilai teori yang paling tepat tentang masuknya Islam ke nusantara
Tanya Jawab ¤ Tokoh pelontar teoti penyebar agama Islam ke nusantara
¤ Kebudayaan Islam di Indonesia
Unjuk kerja ¤ Membuat flowchat penyebaran agama Islam ke nusantara
- Demonstrasi
- ………… ………………………………………………


F. MEDIA PEMBELAJARAN
    1. LCD proyektor
    2. Papan tulis

G. SUMBER BELAJAR
Pustaka rujukan ¤ Buku materi Sejarah SMK untuk kelas X karangan Restu
   Gunawan, dkk. penerbit Poltek Negeri Media Kreatif
   Jakarta, halaman 137 s.d. 142
Material: VCD
kaset, poster
¤ VCD Masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara
¤ Poster pelontar teori penyebaran agama Islam ke nusantara
- Media cetak
dan elektronik
-
Website
internet
¤ Masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara
- Narasumber -
- Model peraga -
- Lingkungan -


H. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
TAHAP DESKRIPSI WAKTU
PENDAHULUAN
(Apersepsi)

10 menit
¤ Guru memberi salam
¤ Guru mempersilakan siswa untuk berdoa
¤ Guru menanyakan keaadaan siswa
¤ Guru   mempresensi   kehadiran   siswa   dan
   menyampaikan topik yang akan dipelajari
¤ Siswa diajak untuk mengingat kembali
   pembelajaran sebelumnya tentang sejarah
   Indonesia yang telah diperoleh siswa.
¤ Guru memberi contoh berbagai budaya Islam di
   Indonesia
0,5 menit
0,5 menit
1 menit
2 menit

3 menit


3 menit

KEGIATAN INTI

70 menit
¤ Siswa dijelaskan tentang perkembangan dan
   kebudayaan Islam ke nusantara melalui tayangan
   power point lewat LCD proyektor
¤ Siswa mendapat penjelasan tentang model TGT.
¤ Siswa membentuk kelompok dengan model
   pembelajaran TGT berdasarkan nama-nama yang
   disebutkan guru.
¤ Siswa berdiskusi dalam kelompok A, kelompok B,
   dan kelompok C tentang tokoh penyebar agana
   Islam di Indonesia dengan cara mengambil kartu
   di masing-masing kelompok.
¤ Siswa berganti kelompok dan menyebar di seluruh
   meja turnamen I, meja turnamen II, dan meja
   turnamen III
¤ Siswa berdiskusi di kelompok turnamen tentang
   teori yang paling tepat tentang masuk dan
   perkembangan Islam ke Indonesia
¤ Siswa menyampaikan hasil diskusi dalam setiap
   kelompoknya.
¤ Siswa yang lain menanggapi hasil diskusi masing-
   masing kelompok.
¤ Ketua kelopok menghiitung skor tim berdasarkan
   skor turnamen anggota tim,
15 menit


2 menit
4 menit


25 menit



5 menit


10 menit


5 menit

3 menit

1 menit

PENUTUP

10 menit
¤ Siswa menyimpulkan hasil diskusi dibantu guru
   untuk memilih teori yang paling tepat tentang
   proses masuk dan perkembangan islam dan
   budaya ke nusantara
¤ Siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran
   yang sudah berlangsung
¤ Siswa mendapat tugas tentang peta penyebaran
   agama Islam ke nusantara.
¤ Guru menutup pelajaran dengan doa
¤ Guru mengucapkan salam
5 Menit



3 menit

1 menit

0,5 menit
0,5 menit


I. PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
TEKNIK DAN BENTUK Tes Lisan
Tes Tertulis dalam bentuk uraian
- Observasi Kinerja/Demontrasi
Tagihan Hasil Karya/Produk: tugas individu
Pengukuran Sikap
- Penilaian diri
INSTRUMEN /SOAL ¤ Lembar observasi sikap
RUBRIK/KRITERIA
PENILAIAN/BLANGKO
OBSERVASI
¤ rubrik sikap dalam diskusi
¤ rubrik penilaian pembuatan flowchat


1. Bentuk Tes Lisan (Tanya jawab)
    Siapakah tokoh pemilik teori penyebaran agama Islam ke nusantara berikut?

2. Bentuk Tes Tertulis
    a. Apakah bunyi teori ketiga tokoh yang Anda lihat tadi?
    b. Bagaimanakah biografi pelontar teori penyebaran agama Islam ke nusantara?
    c. Bagaimanakah sikap Anda terhadap teori tokoh tersebut?
    d. Mengapa Anda berpendapat bahwa teori tersebut paling benar?

3. Bentuk Nontes (tugas)
    Tugas individu membuat flowchat masuk dan perkembangan Islam ke nusantara

4. Instrumen Penilaian
    a. Tugas membuat flowchat
    NAMA SISWA : .....................................
    KELAS            : .....................................

NO KRITERIA A B C D E
(91-100) (81-90) (71-80) (61-70) (51-60)
1.



Ketertampungan pokok-pokok isi flowchat tentang masuk dan perkembangan Islam ke nusantara
2.

Kebenaran simbol dalam flowchat


Rubrik Penilaian 1
A        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 90% s.d. 100%
B        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 80% s.d. 90%
C        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 70% s.d. 80%
D        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan 60% s.d. 70%
E        : Pokok-pokok isi flowchat disampaikan < 60%

Rubrik penilaian 2
A        : kebenaran simbol 90% s.d. 100%
B        : kebenaran simbol 80% s.d. 90%
C        : kebenaran simbol 70% s.d. 80%
D        : kebenaran simbol 60% s.d. 70%
E        : kebenaran < 60%

    b. Penilaian Sikap dalam Berdiskusi
NO KRITERIA      1           2           3           4     
1.
Aktif Berdiskusi
2.
Bahasa yang digunakan
sopan
3.
Tidak menyela dalam diskusi


Rubrik penilaian 1
1           : aktif berdiskusi < 60%
2           : aktif berdiskusi 60% s.d. 70%
3           : aktif berdiskusi 70% s.d. 80%
4           : aktif berdiskusi 80% s.d 100%
Rubrik penilaian 2
1           : kata tdk sopan 4 kali
2           : kata tdk sopan 3 kali
3           : kata tdk sopan 2 kali
4           : kata tdk sopan 0 s.d. 1 kali

Rubrik penilaian 3
1           : menyela lebih dari 4 kali
2           : menyela 3 s.d.4 kali
3           : menyela 1 s.d. 2 kali
4           : tidak menyela sama sekali



Mengetahui,                                                                                       Guru mata Pelajaran,
Kepala SMKN 2 Pasuruan                                                                    Sejarah Indonesia




Drs. Anali Setio, M.Pd                                                                        Imron Rosidi, M.Pd
19570712 198603 1 009                                                                     19660610 198903 1 022



LAMPIRAN 1
    1. TEORI TENTANG MASUK DAN BERKEMBANGANNYA ISLAM KE
        NUSANTARA DARI BERBAGAI AHLI SEJARAH DARI:
        a. Buku paket
        b. Internet
        c. Berbagai buku sejarah dan biografi

LAMPIRAN 2
GAMBAR TOKOH PELONTAR TEORI TENTANG PENYEBARAN AGAMA ISLAM KE NUSANTARA GAMBAR KEBUDAYAAN INDONESIA PENGARUH ISLAM

mengikuti Upacara 17 Agustus di Istana Negara sebagai juara 1 guru prestasi tingkat nasional

PENDIDIKAN

HARI BUKU NASIONAL MUTIARA YANG TERLUPAKAN
Oleh: Imron Rosidi, M.Pd
Mungkin kalau kita ditanya tentang hari bersejarah apa yang diperingati setiap bulan Mei? Kita semua serempak akan menjawab hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS). Hari untuk mengenang jasa seorang pahlawan pendidikan, yaitu Ki Hajar Dewantara. Hari pada saat diadakannya berbagai lomba, pameran, dan seminar-seminar pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional. Akan tetapi, kita mungkin lupa bahwa pada bulan itu ada hari yang juga bersejarah dan sangat urgen untuk dijadikan momentum kebangkitan bangsa, yaitu Hari Buku Nasional. Mengapa hal ini terlupakan? Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Memang, pamor hari tersebut kalah jika dibanding dengan peringatan lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Itu disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah tidak dijadikannya hari itu sebagai hari besar nasional. Selain itu, buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia masih terjangkit penyakit aliterat - mampu membaca, tetapi malas membaca. Hal ini berdampak pada kemampuan menulis masyarakat Indonesia. Penerbitan buku di Indonesia masih yang terendah dibandingkan Malaysia dan Singapura, yaitu sekitar 3.000 s.d. 10.000 judul buku per tahun. Sungguh ironis bagi negara yang berpenduduk terbesar ketiga di dunia.

Mungkin telinga kita terbiasa mendengar sebuah ungkapan bernada klise, Buku adalah jendela dunia. Membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku. Sepintas ungkapan itu sederhana, namun di dalamnya terkandung makna penting, bahwa membaca (iqra’) ternyata merupakan perintah Allah Swt kepada seluruh umat manusia, sebagaimana tertuang dalam QS Al-Alaq [96] ayat 1-5. Hanya saja, ungkapan-ungkapan tersebut belum sepenuhnya disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Entah karena deraan krisis ekonomi yang masih menyelimuti bangsa ini sehingga buku belum menjadi menjadi skala prioritas, atau mungkin masyarakat kita masih banyak yang lebih mengutamakan aspek meterial, seperti HP, sepeda motor, mobil, perhiasan, dan sebagainya. Bahkan, di kalangan pelajaran dan mahasiswa muncul semacam slogan “lebih baik membeli pulsa dibanding dengan membeli buku”. Siswa dan mahasiswa bersenjatakan HP, bukan bersenjatakan buku.

Hari Buku Nasional dan Hari Buku Dunia Peringatan Hari Buku Nasional biasanya dibarengkan dengan Hari Buku Dunia (World Book Day). Kedua hari bersejarah ini masih terasa asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk para pelajar. Hari Buku Dunia diperingati setiap 23 April, sedangkan Hari buku nasional setiap 17 Mei. Penggunaan 23 April sebagai Hari Buku Dunia bertepatan dengan tanggal lahir sekaligus wafatnya seorang penulis besar, yaitu William Shakespeare. World Book Day yang dirancang oleh UNESCO adalah sebuah perayaan buku dan literasi yang diadakan setiap tahun di seluruh dunia. Indonesia pertama kali memperingati Hari Buku Nasional di tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia Membaca yang didukung oleh berbagai pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day dan Hari Buku Nasional sebagai sebuah ajang untuk memberi semangat kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bisa didapat dari buku dan membaca. Masyarakat diajak untuk selalu memegang buku dan membacanya di mana dan kapan saja dia berada. Masyarakat diajak untuk gemar mengunjungi perpustakaan-perpustakaan seimbang dengan kegemarannya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata dan belanja. Hal ini perlu dibentuk seiring dengan adanya era globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sudah saatnya masyarakat Indonesia melebarkan aktivitasnya dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan Hari Buku Dunia dan Hari Buku Nasional agar lebih menggaungkan buku dan literasi di tengah masyarakat.

Perayaan Hari Buku Dunia dan Hari Buku Nasional diharapkan dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hal itu terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada hari Minggu hanya 55,11 persen, sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 16,72 persen, buku pelajaran sekolah 44.28 persen, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 juga menyebutkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) dibanding membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia juga dapat dilihat dari hasil riset International Association for Evaluation of Educational (IEA) tahun 1992. IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD. Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai sarana untuk memperoleh informasi. Orang lebih memilih televisi dan mendengarkan radio. Malahan, kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2 persen. Jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 211,1 persen.

Dengan demikian, tidak ada kata lain yang dapat diungkapkan selain Jadikan Hari Buku Dunia dan Hari Buku nasional sebagai momentum menuju Indonesia lebih baik. Kemajuan sebuah negara tidak bisa lepas dari kualitas SDM negara tersebut. Melalui kegiatan membaca diharapkan wawasan kita bertambah luas, seluas cakrawala dunia. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Dengan begitu, berkat membaca kelak kita bisa lebih mengenal Allah Swt. Tak hanya itu, kita juga bisa mengenal alam semesta dan diri sendiri (QS Al-Alaq [96] ayat 1-5).

HBN, Mutiara yang Terlupakan Jika dikaitkan dengan perintah Allah Swt di atas, seharusnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam mampu melakukan aktivitas membaca dengan baik. Hal itu disebabkan aktivitas membaca merupakan suatu perintah dari Allah Swt melalui Alquran. Jadi, aktivitas membaca bisa dianggap sebuah kewajiban bagi setiap manusia. Hanya saja, dalam realitasnya aktivitas tersebut tidak gampang diwujudkan. Membaca sebagai menu utama dalam kehidupan dapat ditemui di negara-negara maju, seperti Amerika, Jepang, dan Singapura. Di tempat-tempat umum, seperti tempat tunggu di bandara udara, stasiun kereta api, dan di terminal-terminal dengan mudah kita temui orang yang sedang membaca. Toko-toko buku mudah ditemukan dan selalu dipenuhi oleh para pembeli. Di pinggir-pinggir jalan juga dapat dengan mudah kita dapatkan bahan bacaan yang bisa diambil secara gratis. Apakah hal ini ditemukan di negara kita?

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membawa bangsa kita sejajar dengan negara-negara maju di bidang minat baca adalah dengan tidak melupakan perayaan hari Buku Nasional (HBN). Sebenarnya, perayaan HBN di Indonesia sudah dirayakan setiap tahunnya. Hanya saja, perayaan HBN masih terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, dan hanya di tempat-tempat tertentu. Perayaan HBN yang dapat penulis catat misalnya peringatan Hari Buku Sedunia dan Hari Buku Nasional dilaksanakan pada tanggal 19 s.d 20 Juni 2009. Kegiatan ini diisi oleh pameran, bursa buku, diskusi (talkshow) serta pemutaran film. Pameran diikuti oleh 47 peserta yang terdiri dari 5 Instansi di lingkungan Depdiknas, 3 lembaga perpustakaan dari pemerintahan, 3 perwakilan dari negara asing, 5 dari asosiasi dan organisasi, dan 2 lembaga pendidikan. Bursa Buku diikuti oleh 29 peserta dari penerbit dan distributor buku. Pada peringatan Hari Buku Nasional tahun 2011, IKAPI Jakarta dan Forum Indonesia Membaca meluncurkan program Gerakan Hibah Buku, tepatnya 17 Mei 2010. Gerakan Hibah Buku dilaksanakan dengan menghimpun buku-buku dari penerbit-penerbit Indonesia dan masyarakat umum untuk didistribusikan ke taman bacaan masyarakat. Pengumpulan buku hibah dilakukan bersamaan dengan penyelenggaraan World Book Day Indonesia dan Hari Buku Nasional 2010 mulai tanggal 15-25 Mei 2010 di Museum Mandiri.

Berbagai acara di atas sudah dilaksanakan sejak 2006. Hanya saja, gaung perayaan tersebut masih belum dirasakan masyarakat di daerah-daerah kota dan kabupaten lainnya. Masyarakat masih asing dengan HBN. Hal itu disebabkan beberapa faktor, antara lain: (1) belum dijadikan HBN sebagai hari besar nasional, (2) belum adanya perayaan HBN di daerah-daerah, (3) perayaan HBN belum menjadi agenda atau program Dispendik, (4) minat baca masyarkat Indonesia relatif rendah, (5) buku belum menjadi kebutuhan utama masyarakat, (6) slogan-slogan HBN belum terpampang di tempat-tempat umum, dan (7) belum dimasukkannya pelajaran reading dan writing dalam kurikulum di setiap jenjang pendidikan.

Untuk menjadi HBN sebagai mutiara yang dinantikan diperlukan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah hendaknya mulai berpikir untuk menjadikan HBN sebagai hari besar nasional, memasukkan mata pelajaran reading dan writing dalam kurikulum, melaksanakan berbagai lomba tingkat nasional dalam rangka perayaan HBN, seperti tahun ini yang diselenggarakan Pusbuk, menyediakan tempat-tempat baca yang representatif di setiap sudut bangunan pemerintahan dan daerah, mempermudah izin usaha toko buku kepada para pengusaha, menjadikan perayaan HBN sebagai program Dispendik, serta menyediakan berbagai spanduk dalam rangka perayaan HBN.

Selain peran pemerintah, masyarakat juga harus mau melakukan perubahan (change agent), baik dari segi budaya maupun mental. Budaya konsumtif terhadap barang-barang mewah perlu sedikit dikurangi dengan menyediakan dana untuk membeli buku. Buku hendaknya menjadi kebutuhan utama setiap individu dalam keluarga. Masyarakat hendalnya juga ikut berpartisipasi dalam perayaan HBN, misalnya dengan memasang spanduk. Apabila semua ini dapat diejawantahkan, insyaallah perayaan HBN tahun ini lebih meriah dapat menyentuh berbagai kalangan masyarakat, terutama para pelajar. Perayaan HBN bukan lagi sebuah mutiara yang terlupakan, tetapi mutiara yang dirindukan.

PENDIDIKAN

SMKN 2 PASURUAN DALAM PERINGATAN PUSPA DAN SATWA 2012
LOMBA DAN PAMERAN FOTO SERTA UJI PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK
PASURUAN – Peringatan Hari Puspa dan Satwa 2012 dan pelaksanaan Program RAYA BERSEMI (Rabu Ceria Bersihkan Sekolah Menuju Bersih dan Bebas Polusi) di SMKN 2 Pasuruan berlangsung sangat meriah. Peringatan yang dihadiri oleh seluruh siswa, guru. Staf TU, dan komite ini diawali dengan apel Pagi. Dalam apel tersebut, H. Imron Rosidi, M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini dalam rangka menyukseskan salah satu program 4 S yang meliputi Sukses Adiwiyata, Sukses ISO, Sukses Lomba LKS, dan Sukses Ujian Nasional. Selanjutnya, kepala sekolah berharap siswa mampu berperilaku sehat dan terbiasa hidup bersih dan tumbuh rasa cinta terhadap puspa dan sastwa. Imron juga mengajak siswa SMKN 2 Pasuruan supaya tidak lagi corat-coret bangku, membuang sampah sembarangan, makan makanan yang tidak sehat, dan menjaga kebersihan kamar kecil.    Pameran dan Lomba Foto ini ternyata mendapat sambutan yang luar biasa oleh siswa. Lomba yang seharusnya diikuti oleh 38 peserta sesuai dengan jumlah kelas, ternyata diikuti oleh 49 perserta. Hal ini disebabkan ada beberapa alumni yang ikut mengirimkan karyanya. Lomba tersebut diharapkan tumbuh rasa cinta siswa terhadap semua satwa dan puspa yang ada di lingkungan sekolah yang pada akhirnya di lingkungan Kota Pasuruan dalam rangka menyukseskan program Pemerintah Daerah, yaitu meraih PIALA ADIPURA TAHUN 2013.    Dalam lomba foto tersebut dihasilkan juara 1, 2, dan 3, serta foto favorit pilihan para guru. Juara 1 mendapat hadiah Rp 250.000 atas nama Azil Sufroni dengan judul Mik Cucu dengan tujuan melestarikan anak cucu monyet. Juara 2 dengan hadiah Rp. 200.000 atas nama Dimas Wahyu dengan judul Go Green yang mempunyai tujuan perlindungan terhadap hutan mangrove. Juara ke 3 mendapat hadiah Rp. 150.000 atas nama Zein Zidqi dengan judul samiagulkas. Foto favorit pilihan guru mendapat hadiah Rp. 100.000,- karya Zainul arifin dengn judul Pohon Bakau.    Dalam kegiatan ini juga diadakan kegiatan bersih-bersih kelas, bangku, lingkungan sekolah, bersih-bersih sungai, dan uji teknologi tepat guna, yaitu tabung pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak dan bensin. Alat yang sangat sederhana ini terbuat dari tabung gas 3 kg yang ditambah dengan pipa ke atas untuk proses distilasi untuk menjadi tetes cairan minyak. Tempat pembakarannya menggunakan kaleng bekas cat 40 kg dengan bahan bakar limbah mebel berupa serbuk gergaji. Alat ini akan diproduksi secara masal oleh UPJ SMKN 2 Pasuruan untuk sekolah-sekolah di kota Pasuruan yang membutuhkan. “Saya siap untuk memproduksi secara masal agar permasalahan limbah di sekolah dan Kota Pasuruan bisa teratasi,” kata kepala sekolah yang didampingi Chrisdhiyanto selaku ketua TIM Adiwiyata.

pendidikan

PENERAPAN MANAJEMEN KEUANGAN MASJID
DI LEMBAGA PENDIDIKAN

Oleh: Imron Rosidi, M.Pd


Abstrak: Tiga pendekatan dalam akuntabilitas manajemen keuangan sebuah instansi, yaitu: Disclosure, transparansi, dan kesesuaian dengan program. Ketika pendekatan itu telah dilakukan oleh manajemen keuangan masjid yang bisa diadopsi oleh manajemen keuangan sekolah yang rawan kebocoran. Kebocoran bisa terjadi karena derasnya keluar masuknya keuangan di sebuah sekolah. Bisakah diterapkan?

Paradigma baru manajemen pendidikan menekankan perlunya pelayanan yang bermutu sesuai kebutuhan stakeholders. Salah satu pilar utama yang mendukung pelayanan yang bermutu adalah penerapan akuntabilitas (pertanggungjawaban) pada semua satuan penyelenggaran pendidikan. Akuntabilitas lembaga pendidikan lebih menitikberatkan pada sejauhmana manajemen penyelenggaraan lembaga pendidikan dalam merumuskan, mengimplementasikan, dan mempertangungjawabkan kebijakan dan programnya sesuai harapan dan tuntutan para stakeholders.
Penerapan akuntabilitas manajemen lembaga pendidikan, dalam hal ini manajemen keuangan sekolah, dapat dilakukan melalui tiga pendekatan ini: disclosure, transparansi, dan penyesuaian program dengan kebutuhan. Disclosure berupa pengumuman secara terbuka kepada semua komponen sekolah mengenai keadaan terakhir keuangan yang ada di sekolah. Pendekatan yang kedua adalah transparansi. Transparansi berfokus pada pemberian akses informasi kepada seluruh komponen sekolah tentang proses keluar masuknya keuangan sekolah. Akuntabilitas keuangan yang baik dapat dilihat dari pendekatan yang ketiga, yaitu kesesuaian antara penggunaan keuangan sekolah dengan program yang merupakan skala prioritas.
Ketiga pendekatan dalam akuntabilitas di atas telah diterapkan dalam manajemen keuangan masjid. Manajemen di sini berarti suatu proses perencanaan, pengorganisasian, dan penggunaan sumberdaya organisasi agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Lebih khusus, manajemen keuangan sekolah berarti suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh sekolah.
Pengolahan keuangan masjid sangat memperhatikan ketiga pendekatan dalam akuntabilitas. Setiap hari akan terpampang kondisi keuangan masjid, mengenai pemasukan dan pengeluaraannya sehingga setiap jemaah mengetahuinya. Hal ini sesuai dengan pendekatan discosure. Selain itu, setiap akan dilangsungkannya khotbah Jumat, pengurus akan mengumumkan secara terbuka proses penggunaan keuangan masjid. Dengan ini pengurus masjid sudah melakukan pendekatan transparansi. Pengurus masjid juga menggunakan keuangan masjid sesuai dengan kebutuhan, misalnya pembayaran listrik dan air, serta kebutuhan dana untuk berbagai kegiatan di masjid.
Apakah manajemen keuangan masjid bisa diterapkan di sekolah untuk menekan tingkat kebocoran keuangan sekolah? Apabila kita mengingat pesan AA Gim, yaitu Mulailah dari diri sendiri, Mulailah dari hal kecil, dan Mulailah sekarang juga, penerapan manajemen keuangan masjid di sekolah pasti bisa, asal ada niat baik dari seluruh komponen sekolah, terutama pengelola keuangan, KTU dan kepala sekolah. Pengelola keuangan mau berbuat jujur, KTU tidak kong kalikong dengan kepala sekolah, dan kepala sekolah berani terbuka terhadap semua kebutuhan keuangan sekolah. Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Coba kita tengok betapa rumitnya pengolahan keuangan sekolah, misalnya di sekolah menengah. Selain terdapat keuangan BOS, BKM, BOMM yang harus dikelolah sekolah, juga ada uang yang berasal dari siswa untuk Prakerin, kunjungan industri dan sejarah, uang SPP, serta Bantuan Komite Sekolah. Setiap hari sekolah mengeluarkan uang untuk proses pembelajaran. Setiap hari pula sekolah menerima uang dari siswa. Bagaimana kita tahu kalau di sekolah tersebut tidak terjadi kebocoran? Di sinilah fungsi manajemen keuangan masjid diadopsi dan diadaptasi oleh pihak sekolah.
Pengelolaan keuangan sekolah dengan mengedepankan akuntabilitas dapat dilakukan dengan cara sekolah harus berani mengumumkan secara terbuka kondisi keuangan setiap upacara hari senin oleh pembina upacara. Secara rinci, sekolah harus berani menempelkan kondisi keuangan sekolah setiap akhir bulan. Untuk melihat kesesuaian pengeluaran dengan program prioritas, kepala sekolah harus berani menyampaikan penggunaan uang sekolah yang tidak terduga, yang tidak sesuai program, kepada semua komponen sekolah ketika ada rapat dinas. Dengan demikian, penerapan manajemen keuangan dengan mengedepankan akuntabilitas diharapkan dapat mengurangi tingkat kebocoran keuangan sekolah.

artikel kebahasaan

SUMBANGSIH ALIRAN STRUKTURALISME
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Bahasa adalah sistem simbol vokal arbitrer yang memungkinkan orang-orang yang hidup dalam budayanya, atau orang yang sudah mempelajari sistem budaya terkait menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi. Dalam pandangan di atas, bahasa memiliki fungsi yang terkait dengan identitas manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk berbudaya. Sejak lama manusia telah menyadari pentingnya bahasa dan penguasaan bahasa untuk perkembangan peradaban. Hingga sekarang, semakin maju peradaban manusia semakin besar peran bahasa dalam kehidupan.

Untuk itu, kemampuan berbahasa siswa sangat penting bagi perkembangan suatu bangsa. siswa sebagai pembaru, pemimpin, dan calon-calon pemimpin bangsa harus memilik kemampuan berbahasa yang baik. Jika tidak, berarti masa depan bangsa sedang terancam. Bahaya yang akan timbul pada masa depan adalah sulitnya kemunikasi kerja dan tidak efektifnya kepemimpinan karena pesan-pesan tidak dapat disampaikan dengan efektif dan kemampuan menyerap informasi baru sangat lambat.
Pembelajaran bahasa Indonesia sudah diberikan sejak pendidikan level terendah sampai perguruan tinggi. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah ditekankan pada pengasaan keterampilan berbahasa siswa, mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek pengetahuan berbahasa, mulai dari fonem, morfem, frasa, klausa, dan kalimat diajarkan secara terintegrasi dengan keterampilan berbahasa. Sebagai contoh, siswa tidak langsung belajar tentang perbedaan frasa dengan klausa, tetapi mencari frasa dan klausa dalam tulisannya.
Analisis bahasa mulai dari yang terkecil menuju yang besar (kalimat) merupakan bentuk sumbangsih salah satu aliran bahasa, yaitu strukturalisme. Aliran ini memiliki ciri kegramatikalan berdasarkan keumuman. Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi. Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat. Selain itu, ciri aliran ini mengikuti aliran behavioristik, yaitu menganut sistem drill dalam mengajarkan bahasa. Hal ini tampak dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas-kelas rendah, mulai TK sampai SD kelas rendah.
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra manusia Indonesia. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan menyimak, kemampuan berbicara, kemampuan membaca, dan kemampuan menulis. Keempat jenis kemampuan tersebut diajarkan secara integratif.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap puisitif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Adapun tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, (2) menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara, (3) memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan keampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial, (5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, serta (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Aliran Linguistik Strukturalisme
Aliran strukturalis berlandaskan pola pikir behavioristik. Aliran ini lahir pada awal abad XX yaitu pada tahun 1916 yang bersamaan dengan lahirnya buku ”Course de linguistique Generale” karya Saussure yang juga merupakan pelopor aliran ini. Ia dikenal sebaga Bapak Strukturalisme dan sekaligus Bapak Linguistik Modern.
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasakan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini menguraikan konsep telaah sinkronik dan diakronis, perbedaan langue dan parole, perbedaan signifiant dan signifie, dan hubungan sintagmatik dan pradikmatik yang banyak berpengaruh dalam perkembangan linguistik di kemudian hari.
a. Sinkronis dan Diakronis
Telaah sinkronik dan diakronis. Ferdinand de Saussure membedakan telaah bahasa secara sinkronik, artinya mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Misalnya, mempelajari bahasa Indonesia yang digunakan saat ini saja, sedangkan telaah diakronis artinya telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh penuturnya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa telaah bahasa secara diakronis adalah jauh lebih kompleks daripada telaah sinkronis. Sebelum terbit buku Course de Linguistique Generale Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915, telaah bahasa selalu dilakukan orang secara diakronis. Ahli-ahli pada waktu itu belum sadar bahwa bahasa dapat diteliti secara sinkronis. Inilah salah satu pandangan de Saussure yang sangat penting sehingga sekarang dapat diberikan pemerian terhadap suatu bahasa tertentu tanpa melihat sejarah bahasa itu.
b. Langue dan Parole
Langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak, sedangkan yang dimaksud dengan parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa; sifatnya konkret karena parole itu tidak lain adalah realitas fisik yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Dalam hal ini yang menjadi objek telaah linguistik adalah langue yang tentu saja juga parole karena parole itulah wujud bahasa yang konkret yang dapat diamati dan diteliti.
c. Signifiant dan Signifie
Ferdinand de Saussure mengemukakan teori bahwa setiap tanda atau tanda linguistik dibentuk oleh dua buah komponen yang tidak terpisahkan yaitu komponen signifiant dan komponen signifie. Yang dimaksud dengan signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran, sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran. Selanjutnya, ada yang menyamakan signe itu sama dengan kata; signifie sama dengan ‘makna’; dan signifiant sama dengan bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu.
Sebagai tanda linguistik, signifiant dan signifie itu biasanya mengacu pada sebuah acuan atau refrensi yang berada di alam nyata sebagai sesuatu yang ditandai oleh signifie linguistique.
d. Sintagmatik dan Paradikmatik
Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan sintagmatik ini terdapat baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan makna kata itu. Umpamanya pada kata kita terdapat hubungan, fonem-fonem dengan urutan /k, i, t, a/. Apabila urutannya diubah, maka maknanya akan berubah, atau tidak bermakna sama sekali.
Hubungan sintagmatik pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata, yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah, tetapi ada kemungkinan pula tak bermakna sama sekali. Misalnya makan hati tidak sama dengan hati makan, kata matahari tidak sama dengan harimata. Hubungan sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tak bermakna sama sekali. Sebagai contoh dapat dilihat berikut ini.
Hari ini barangkali dia sakit
Barangkali dia sakit hari ini
Dia sakit hari ini barangkali
Dia sakit barangkali hari ini
Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara substitusi, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis. Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi tampak pada contoh antara bunyi /r/, /k/, /b/, /m/, dan /d/ yang terdapat pada kata rata, kata, bata, mata, dan data. Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi tampak pada prefiks me-di-, pe-, dan te- yang terdapat pada kata-kata merawat, dirawat, perawat , dan terawat, sedangkan hubungan paradigmatik pada tataran sintaksis pada antara kata-kata yang menduduki fungsi sebjek, predikat, dan objek. Sebagai contoh dapat dilihat berikut ini.
Ali membaca koran

Dia membeli buku

Adik mengambil boneka
Adapun ciri-ciri Aliran linguistik struktural adalah: (1) Berlandaskan pada faham behaviourisme. Proses berbahasa merupakan proses rangsang-tanggap (stimulus-response); (2) Bahasa berupa ujaran. Ciri ini menunjukka bahwa hanya ujaran saja yang termasuk dalam bahasa . dalam pengajaran bahasa teori struktural melahirkan metode langsung dengan pendekatan oral. Tulisan statusnya sejajar dengan gersture; (3) Bahasa merupakan sistem tanda (signifie dan signifiant) yang arbitrer dan konvensional. Berkaitan dengan ciri tanda, bahasa pada dasarnya merupakan paduan dua unsur yaitu signifie dan signifiant. Signifie adalah unsur bahasa yang berada di balik tanda yang berupa konsep di balik sang penutur atau disebut juga makna, sedangkan signifiant adalah wujud fisik atau hanya yang berupa bunyi ujar.
Ciri selanjutnya adalah (4) bahasa merupakan kebiasaan (habit). Berdasarkan sistem habit, pembelajaran bahasa diterapkan metode drill and practice yakni suatu bentuk latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga membentuk kebiasaan; (5) Kegramatikalan berdasarkan keumuman; (6) Level-level gramatikal ditegakkan secara rapi. Level gramatikal mulai ditegakkan dari level terendah yaitu morfem sampai level tertinggi berupa kalimat. Urutan tataran gramatikalnya adalah morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat; (7) Analisis dimulai dari bidang morfologi; (8) Bahasa merupakan deret sintakmatik dan paradigmatik; (9) Analisis bahasa secara deskriptif, dan (10) Analisis struktur bahasa berdasarkan unsur langsung.
Sumbangsih Aliran Strukturalisme dalam Pembelajaran Bahasa
Arah pembinaan bahasa Indonesia sebagai pegangan utama dalam pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia dituangkan dalam kurikulum bahasa Indonesia yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006. Salah satu standar kompetensi dan kompetensi dasar yang diharapkan dapat dimiliki siswa SMK berdasarkan KTSP adalah berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat unggul dengan kompetensi dasar menyimak untuk memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana. Kompetensi dasar ini selanjutnya dikembangkan dalam beberapa indikator, yaitu: (1) memperlihatkan rekasi kinetik (menunjukkan sikap memperhatikan, mencatat) terhadap penayangan prosa sederhana, (2) menunjukkan reaksi verbal berupa komentar terhadap konteks penayangan prosa sederhana, (3) menceritakan kembali isi prosa yang ditayangkan dengan menggunakan kata-kata sendiri, (4) mengungkapkan unsur intrinsik prosa fiksi (tokoh, perwatakan, latar, plot, tema).
Sumbangsih aliran strukturalisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia tampak pada asumsi yang diusung, yaitu: Pertama, bahwa prosedur kerja linguistik (struktural) dapat digunakan sebagai metode pengajaran bahasa. Asumsi ini mengisyaratkan kepada penekanan perlunya latihan berbicara dan menggunakan informan asli untuk menirukan dan latihan lafal. Melalui latihan-latihan pasangan minimal siswa berlatih membedakan fonem-fonem, dan berusaha menghasilkan fonem dalam cara pasangan minimal yang dapat dikenali penutur asli. Setelah itu siswa mempelajari isyarat-isyarat gramatikal (morfem, kata tugas, urutan kata), melalui berbagai-bagai latihan subtitusi dan perluasan dalam bentuk pola-pola latihan (drill).
Asumsi ini memang tampak jelas pada pembelajaran bahasa Inggris di sekolah taman Kanak-Kanak atau di SD kelas rendah. Akan tetapi, untuk pembelajaran bahasa Indonesia, asumsi ini tampak ketika guru sedang mengajarkan kalimat, yang dimulai dari pengenalan kata-kata atau nama-nama barang di sekitar siswa. Guru lebih dulu memperkenalkan kata sebelum kalimat. Pola-pola kalimat dengan berbagai bentuk juga diajarkan guru bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah.
Kita dapat mengidentifikasikan aspek-aspek aliran struktural yang berpengaruh dalam pengajaran bahasa terutama metode audio-lingual. Terdapat penekanan yang lebih besar terhadap berbicara daripada menulis, dalam tahap awal metode audio-lingual. Hal ini disadari oleh asumsi kedua yang menyatakan bahwa materi pengajaran bahasa harus disajikan dalam bentuk latihan berbicara sebelum siswa diperkenalkan dengan latihan menulis. Pada tahap awal keterampilan berbahasa berbicara dan menyimak dianggap lebih penting, dan baru kemudian membaca dan menulis.
Hal ini tampak pada pembelajaran bahasa di sekolah Taman kanak-kanan (TK). Anak-anak TK lebih banyak diajak untuk berkomunikasi secara lisan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Anak TK tidak ditekankan pada pembelajaran membaca dan menulis. Anak TK dan SD kelas rendah lebih banyak diberi tugas untuk bercerita pengalaman pribadi, menyimak cerita dari guru, atau berkomunikasi lisan dengan teman sebaya.
Linguistik struktural tidak terlalu memperhatikan makna. Dalam analisis bahasa, mereka tidak membentuk-bentuk yang mirip. Oleh karena itu, asumsi ketiga yang disodorkan adalah bahwa tidaklah penting bagaimana makna itu diperoleh siswa. Makna itu dapat ditanyakan saja langsung kepada penutur asli.
Asumsi yang keempat menyatakan bahwa tidak perlu menyajikan gradasi dan urutan kekomplekan gramatikal pada materi yang dipelajari siswa. Asumsi ini berdasarkan kepada tesis dalam analisis struktural bahwa ahli bahasa hanya memiliki kontrol yang sedikit terhadap kekomplekan data yang diperoleh dari informannya. Apabila ahli bahasa itu menemukan data (ujaran) yang terlalu kompleks, cenderung menghindar atau dipilih dari yang tidak komplek. Dalam pengajaran bahasa mereka berpendapat bahwa struktur yang kompleks akan menyulitkan siswa dalam proses memorinya.
Salah satu alasan mengapa kaum strukturalis kurang memperhatikan makna dalam analisisnya karena mereka berpendapat bahwa makna ini bersifat abstrak, tidak dapat diindra. Makna ini hanya ada dalam pikiran sehingga makna dianggap bersifat subjektif. Ilmuwan mestilah mengamati fenomena dan baru mempelajarinya. Tegasnya ilmuwan harus mempelajari apa yang bisa diamati. Sikap yang demikian melahirkan asumsi yang kelima yang menyatakan bahwa bahasa itu adalah tingkah laku dan tingkah laku dapat dipelajara dengan cara melakukan. Oleh karena itu, siswa mempelajari bahasa dengan cara melakukan respon dalam praktek-praktek latihan kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang benar.
Asumsi yang terakhir ini sesungguhnya hasil dari analisis kaum psikologi behavioris. Orang dapat mendiskusikan lebih lanjut tentang teknik pengajaran bahasa melalui respon dari penguatan ini. Asumsi-asumsi di atas terutama asumsi ketiga dan keempat banyak mengandung perdebatan di kalangan guru bahasa, sedangkan asumsi yang kelima telah diserang langsung penganut tata bahasa generatif.
Penutup
Pada prinsipnya, sebuah aliran pasti memiliki keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan aliran strukturalisme. Sebagai contoh, Metode drill yang ditawarkan pada aliran ini sudah kurang cocok untuk SD kelas tinggi dan sekolah lanjutan. Kelemahan yang lain misalnya pembentukan kebiasaan (habit formation) antara lain adalah bahwa siswa tidak dilatih menggunakan kalimat (struktur) dalam situasi komunikasi yang aktual. Namun kekuatannya juga ada, yaitu penguasaan akan kaidah-kaidah yang dipelajari oleh siswa sangat besar. Untuk itu, seorang guru bahasa Indonesia harus mampu memformulasikan berbagai aliran dalam melaksanakan tugasnya agar siswanya

KELAKAR GUS DUR SEBAGAI SEBUAH KRITIK
Oleh: Imron Rosidi

Pengantar
Gus Dur ya Gus Dur, sampai wafat pun masih meninggalkan kontroversi. Hal itu ditandai dengan adanya kegiatan nonton bareng (Nobar) sepak bola Piala AFF antara Malaysia dengan Indonesia dalam Haul Gus Dur yang pertama di Jombang (Nobar). Sesuatu yang kontroversi sebab Haul seorang ulama biasanya diisi dengan berbagai bacaan ayat-ayat suci Al-quran, ceramah agama, pemutaran biografi, sampai pada pembacaan salawat secara bersama-sama. Itulah Gus Dur, sampai wafat pun masih memunculkan kontroversi.

Memang, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah tiada. Tokoh yang satu ini memang luar biasa. Dalam sosoknya melekat banyak ikon: pejuang demokrasi, pembela kaum marginal, pluralis, kontroversial, dan tentu saja humoris dan sudah pasti masih banyak lagi ikon lain yang melekat padanya. Tak ayal lagi, kepergiannya akan dikenang sepanjang masa oleh segenap anak bangsa.
Banyak orang mengenang Gus Dur dengan berbagai cara. Baru beberapa hari wafat, para politisi berusaha mengenangnya dengan usulan gelar pahlawan nasional. Dasar politisi, suka memanfaatkan peluang alias momentum, oportunis sejati melebihi pengusaha. Para pengikut (umat) Gus Dur lebih senang berdoa sambil berisak tangis di sisi makamnya. Jurnalis televisi tentu memutar kembali tayangan dialog atau wawancara bersama sang Guru Bangsa semasa hayatnya. Kaum akademisi bisa mengkaji kalimat-kalimat Gus Dur yang terungkap selama beliau sebagai presiden maupun selama beliau menjadi masyarakat biasa.
Kalimat-kalimat kelakar dan terkesan arogan dan kontroversi yang keluar dari mulut beliau tentunya bukanlah hanyalah sebuah kelakar. Kalimat-kalimat tersebut mengandung makna menuju kea rah kebaikan. Sebagai contoh, kalimat Taman Kanak-kanak kepada yang terhotmat anggota Dewan masih melekat di hati rakyat Indonesia. Kata-kata Gus Dur tersebut bertujuan untuk mengingatkan para anggota dewan untuk bertindak lebih dewasa, tidak hanya ingin menang sendiri, seperti sifat siswa Taman kanak-kanak. Siswa Taman Kanak-kanak akan selalu berebut apabila melihat gurunya
akan membagi kue. Ternyata terbukti saat ini pada diri anggota dewan. Anggota dewan hanya berpikir untuk dapat saling menjatuhkan, baik sesama anggota dewan lain partai maupun kepada pemerintah.
Ketika Gus Dur menjadi presiden, beliau sangat sedih banyaknya provokator di sekitarnya sehingga pemerintah yang dipimpinnya terasa goyah. Saat itu Gus Dur bercerita bahwa ada temannya dari kampung terpilih sebagai anggota DPR. Setelah di DPR, teman-temannya memanggil dia dengan sebutan prof'. Teman Gus Dur itu jelas heran bukan kepalang sebab dia tidak pernah mengajar, bukan dosen, tetapi selalu dipanggil 'prof'. Setelah dicek ke sana-sini, ternyata prof yang dimaksud oleh teman-temannya itu bukan professor, tetapi provokator. Hal ini merupakan bentuk kelakar Gus Dur yang bertujuan untuk mengingatkan anggota DPR untuk tidak menjadi seorang provokator.
Meski seorang kyai kontroversial, namun ucapan Gus Dur seringkali membuat banyak orang sadar. Pernyataan-pernyataan Gus Dur memancing orang untuk ikut berpikir dan merenung. Sekalipun pandangan matanya terganggu, Gus Dur dikenal sebagai humoris, seperti kutipan di atas. Saat berbicara, dia selalu menyelipkan joke, cerita lucu, yang membuat pendengarnya tertawa. Joke-jokenya itu disukai oleh banyak tokoh dunia.
“Gus, kok suka humor terus sih?” tanya seorang yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti.
“Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari,” jelasnya.
“Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat,” sambungnya.
Analisis wacana kritis (critical discourse analysis-CDA), selanjutnya disebut AWK, memandang wacana tidak dipahami semata-mata sebagai objek studi bahasa. Istilah wacana (discourse) yang berasal dari Bahasa Latin, discursus, telah digunakan baik dalam arti terbatas maupun luas. Secara terbatas, istilah ini menunjuk pada aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan yang mendasari penggunaan bahasa baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Secara lebih luas, istilah wacana menunjuk pada bahasa dalam tindakan serta pola-pola yang menjadi ciri jenis-jenis bahasa dalam tindakan.
Bahasa dipandang sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi. AWK melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam AWK dipandang dapat menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Orang bisa mencoba mempengaruhi orang lain (menunjukkan kekuasaannya) melalui pemilihan kata yang secara efektif mampu memanipulasi konteks. Untuk itu, kelakar-kelakar Gus Dur menurut hemat penulis menarik untuk dikaji berdasarkan AWK.
Analisis Wacana Kritis
Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Dalam ilmu sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat. Menurut Foucault (1972), wacana sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan, seperti yang sering diucapkan para anggota Dewan bahwa hal ini masih sebuah wacana. Selanjutnya, apakah yang dimaksud analisis wacana?
Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal yang lebih memperhatikan pada unit kata, frasa, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa merupakan aspek sentral dari penggambaran suatu subjek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek bahasa inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.
Bahasa (teks) mampu menentukan konteks. Bahasa merupakan bahasa sosial dan bukan sesuatu yang netral atau konsisten, melainkan partisipan dalam proses tahu, budaya, dan politik. Bahasa bukan merupakan sesuatu yang transparan yang menangkap dan memantulkan segala sesuatu diluarnya secara jernih. Secara sosial, terikat bahasa dikonstruksi dan direkonstruksi dalam kondisi khusus dan setting sosial tertentu dan bukan semata tertata menurut hukum yang diatur secara alamiah dan universal. Oleh karena itu, sebagai representasi hubungan sosial tertentu, bahasa senantiasa membentuk subjek-subjek, strategi-strategi, dan tema-tema wacana atau diskursus tertentu.
Norman Fairclough melihat bahasa sebagai praktek kekuasaan. Karena bahasa secara sosial dan historis dianggap sebagai bentuk tindakan, dalam hubungan dialektik dengan struktur sosial sehingga dalam menganalisis wacana, Fairclough memusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu. Berdasarkan beberapa penjelasan di atas disimpulkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai bahasa verbal, melainkan juga sebagai sebuah kegiatan sosial yang tidak netral dan tidak konsisten. Dalam konteks sosial, bahasa dapat dikonstruksi ataupun direkonstruksi pada kondisi dan setting sosial tertentu. Untuk kalangan kritis (critical), bahasa dipandang sebagai alat perjuangan kelas. Makna dalam hal ini tidak ditentukan oleh struktur realitas, melainkan oleh kondisi ketika pemaknaan dilakukan melalui praktek sosial.
AWK memandang pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam AWK menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Konsep ini dipertegas oleh Fairclough dan Wodak yang melihat praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologis, artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas yang perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial. Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis wacana kritis adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing.
Karakteristik penting dari analisis kritis, yaitu: (1) Tindakan. Wacana dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan wacana sebagai bentuk interaksi. Seorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Wacana dalam prinsip ini dipandang sebagai sesuatu yang bertujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu, wacana dipahami sebagai sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar, (2) Konteks. Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan dimengerti dan dianalisis dalam konteks tertentu. Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; khalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak. Tiga hal sentaralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan). Wacana dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi.
Karakteristik yang lain yaitu: (3) Historis, menempatkan wacana dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks, dan (4) Kekuasaan. Analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan. Wacana dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan antara wacana dan masyarakat.
Mills menjadikan teori wacana Foucault sebagai ground teori untuk analisis wacana kritis. Pendekatan wacana yang mengguanakan teori Foucault sebagai grounded disebut sebagai Analsis Wacana Pendekatan Prancis (French Discourse Analysis). Sara Mills merupakan salah satu penganut dari teori ini. Walaupun lebih dikenal sebagai seorang feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan realasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam penelitian ini. Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi-posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subjek penceritaan dan siapa yang menjadi objek penceritaan akan manentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu, juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks.
Mengenal Sosok Gus Dur sebagai Bapak Bangsa
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilahirkan di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur tanggal 7 September 1940. Beliau lahir dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. Addakhil berarti Sang Penakluk. Kata Addakhil tidak cukup dikenal, dan diganti nama Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.
Gus adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti abang atau mas. Beliau lahir dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya adalah KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, yaitu KH Wahid Hasyim, terlibat dalam gerakan nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Ibunya, Ny Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Pada tahun 1944, Wahid pindah dari Jombang ke Jakarta, tempat ayahnya terpilih menjadi Ketua I Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.
Pada akhir tahun 1949, Wahid pindah ke Jakarta, dan ayahnya ditunjuk menjadi Menteri Agama. Abdurrahman Wahid belajar di Jakarta, masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada April 1953, ayah Wahid meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Tahun 1954, ia masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada tahun itu, ia tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Pada tahun 1957, lulus dari SMP, Wahid pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo.
Gus Dur mulai mengikuti pendidikan di luar negeri pada tahun 1963. Beliau menerima beasiswa dari Kementerian Agama RI untuk belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir. Pada tahun 1966, Gus Dur mengikuti pendidikan prasarjana beasiswa di Universitas Baghdad Tahun 1970. Beliau juga belajar di Universitas Leiden, Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971. Karier awal Gus Dur berada di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), dan mendirikan majalah prisma, kemudian meneruskan kariernya sebagai jurnalis, dan menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas.
Pada tahun 1974, Gus Dur bekerja tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian, Gus Dur juga menjadi guru Kitab Al Hikam. Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Wahid bergabung Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Pada pemilihan umum legislatif 1982 adalah pengalaman politik pertamanya berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pemilu 1999 dan SU MPR.
Pada Juni 1999, PKB ikut serta dalam arena pemilu legislatif. PKB memenangi 12 persen suara, sedangkan PDI-P menang dengan raihan 33 persen suara.
Megawati memperkirakan akan memenangkan pemilihan presiden pada SU MPR. Namun PDI-P tidak memiliki mayoritas penuh sehingga membentuk aliansi dengan PKB. Pada Juli, Amien Rais membentuk Poros Tengah, berisi koalisi partai-partai Islam. Poros Tengah kemudian mulai menominasikan Gus Dur sebagai kandidat ketiga pada pemilihan presiden, dan komitmen PKB terhadap PDI-P mulai berubah.
Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi menyatakan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden.
Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie, dan Habibie harus mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian Akbar Tanjung, Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR menyatakan bahwa Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru. Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4 dengan 373 suara, sedangkan Megawati hanya meraih 313 suara.
Tidak senang karena calon mereka gagal memenangkan pemilihan, pendukung Megawati mengamuk, dan Gus Dur menyadari bahwa Megawati harus terpilih sebagai wakil presiden. Setelah meyakinkan Jenderal Wiranto untuk tidak ikut serta dalam pemilihan wakil presiden dan membuat PKB mendukung Megawati, Gus Dur pun berhasil meyakinkan Megawati untuk ikut serta. Pada 21 Oktober 1999, Megawati ikut dalam pemilihan wakil presiden dan mengalahkan Hamzah Haz dari PPP.
Pada hari Rabu, 30 Desember 2009, pukul 18.45 WIB, Abdurrahman Wahid meninggal dunia. Sebelumnya Gus Dur dirawat di RSCM sejak Sabtu pekan lalu. Gus Dur sempat dirawat di Jombang dan meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo. Sebelumnya, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu dirawat di ruang VVIP nomor 116 Gedung A rumah sakit itu.
Meskipun telah tiada, Gus Dur tetap dikenang sebagai sosok yang penuh kontroversi dan humoris. Kelakarnya selalu membuat pendengar tepingkal-pingkal, meskipun kadang membuat yang disindir telinganya merah.
Kelakar Gus Dur sebagai Sebuah Kritik
Kelakar Gus Dur sebagai suatu wacana akan lebih menarik apabila dianalisis melalui analisis wacana kritis karena akan menjadi kentara bagaimana bahasa telah digunakan sebagai piranti kepentingan. Wacana publik, lebih-lebih pada kasus yang melibatkan kepentingan yang saling berbenturan, terbukti telah dijadikan sebagai senjata, baik bagi yang kuat maupun bagi yang lemah. Satu pihak menggunakan wacana sebagai sarana untuk mengendalikan dan merekayasa batin yang lain. Sebaliknya, pihak lain, dengan piranti wacana pula untuk melakukan perlawanan,atau sekurang-kurangnya melakukan pembakangan.
Melalui analisis wacana kritis, menjadi mudah memahami wacana dan kontrawacana sebagai setali-tiga-uang dengan hegemoni dan kontra-hegemoni. Ini berarti bahwa cabang kajian bahasa yang menautkan unsur-unsur bahasa dengan peristiwa nyata komunikasi ini telah menyumbang cukup besar dalam upaya kita memahami siasat penguasaan hegemonik sekaligus siasat melakukan perlawanan terhadapnya. Dilekatkan dalam diri pengguna bahasa, ternyata entitas makna memiliki beberapa ciri penting, yaitu: kerentanan dan kepirantian. Karena bersifat rentan dan atau mudah rusak ini, makna-makna diperlakukan secara hati-hati oleh kelompok pendukungnya, dan dipertahankan apabila ada serangan terhadapnya.
Gus Dur sebagai seorang negarawan yang lama berada di pesantren tentunya memiliki sifat yang blak-blakan atau terbuka tanpa tedeng aling-aling dalam berbicara atau mengeluarkan statement. Hal ini kadang-kadang dapat membuat orang yang mendengarkan menjadi tersinggung ataupun merasa disakiti. Padahal, wacana kelakar yang disampaikan Gus Dur lebih dari itu maknannya, seperti yang tampak pada kutipan berikut.
Handoyo "Gus Pur" epigon Gus Dur bernafas lega ketika dipertemukan dengan tokoh aslinya yaitu Gus Dur, saat program Kick Andy yang diputar di Metro TV, Kamis 15 November 2007.

"Apakah Handoyo pernah minta izin langsung kepada Anda untuk menjadi Gus Dur dalam Republik Mimpi?" tanya Andy F Noya, host program itu, kepada Gus Dur.
"Abis gimana lagi, yah anggep saja sudah," jawab Gus Dur enteng.

Obrolan itu terjadi di sebuah stasiun televisi yang dihadiri berbagai kalangan dan dipirsa oleh bangsa Indonesia. Tentunya, setiap jawaban yang akan disampaikan oleh Gus Dur melalui pertimbangan yang matang. Akan tetapi, sifat humor dan prinsip gitu saja kok repot selalu melekat pada beliau sehingga pertanyaan serius dijawab dengan enteng Abis gimana lagi, yah anggep saja sudah tentunya membuat para pendengar tertawa lebar. Melihat latar belakang Gus Dur, jawaban enteng tersebut memiliki makna yang cukup dalam, yaitu: (1) banyak para elit politik yang suka meng-klaim program milik orang lain, meskipun dia belum meminta izin pada sang pemilik, (2) banyak elit politik yang menganggap sepele suatu persoalan, padahal terlalu sulit dan rumit, misalnya dalam menangani kasus Lapindo.
Gus dur juga pernah berkelakar ketika menanggapi maraknya kegiatan main hakim sendiri yang seakan sudah dianggap normal oleh masyarakat kita. Pelakunya bukan cuma rakyat biasa, tetapi sering justru aparat yang berwenang. Paling tidak penghakiman dilakukan di depan aparat. Sampai-sampai majalah Tempo, jauh sebelum pembredelan pernah “menghitamkan” beberapa halamannya sebagai tanda prihatin. Para pembaca Tempo tentu kaget dan heran. Bermacam dugaan pun segera muncul. Gus Dur termasuk yang heran dan menduga-duga.
“Mengapakah Tempo dibuat hitam seperti itu?” tanya Gus Dur dalam “kuis imajiner”-nya.
“Karena reportase soal tukang santet dan bromocorah Jember.”
“Siapakah yang memerintahkan penghitaman itu?”
“Tukang santet dan bromocorah Jakarta.” kata Gus Dur

Kalimat terakhir yang diucapkan Gus Dur tentunya mengandung makna bahwa setiap kerusuhan yang terjadi di masyarakat pasti ada penggeraknya. Gus Dur memperkirakan bahwa yang menggerakkan adalah para aparat dan elite politik yang berada di Jakarta. Itu lebih berbahaya daripada pelaku sebagai seorang suruhan.
Dalam mengkritik Gus Dur tidak tebang pilih. Beliau juga tidak segan-segan mengkritik NU maupun orang-orang kepercayaannya apabila dianggap perlu. Akan tetapi, kritikan Gus Dur selalu dalam bentuk kelakar, seperti kritikan kepada orang-orang NU yang tampak dalam kutipan berikut.
Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU ataupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota.
Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.
Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya.
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.

Wacana kelakar di atas disampaikan Gus Dur ketika masih menjabat sebagai ketua PB NU. Beliau memiliki kekuasaan terhadap NU yang dipimpinnya. Orang-orang NU sangat fanatik terhadap organisasi dan pemimpinnya, apabilagi Gus Dur adalah cucu dari pendiri NU. Kefanatikan itu digambarkan Gus Dur melalui kelakar kunjungan rumah. Gus Dur menganggap tidak semua NU ingin membesarkan NU, tetapi ada juga yang ingin memecah belah NU, terutama orang NU yang sudah duduk dalam lingkaran birokrasi, yang takut kehilangan kekuasaannya.
Gus Dur membagi NU menjadi tiga, yaitu: pertama NU asli, tulen warga NU yang terdiri atas para Kiai NU dan warga NU yang digambarkan Gus Dur orang yang berkunjung layaknya seorang tamu yang mengerti waktu kunjung. Para kiai dan pengikut pada tipe ini sudah memahami watak dan kebiasaan Gus Dur dan memaklumi setiap kontroversi yang dilakukan Gus Dur. Kedua orang yang gila NU, yaitu orang NU yang terlalu fanatik sehingga apa saja mau dilakukan demi NU, meskipun kadang-kadang menjadi fanatik buta. Orang-orang ini digambarkan dengan tamu yang tidak mengerti waktu. Ketiga, orang NU yang gila, yaitu orang-orang di luar NU atau yang mengaku warga NU ketika dia selalu meminta restu ketika akan berebut kekuasaan. Orang-orang itu selalu memanfaatkan Gus Dur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Orang-orang ini selalu ingin mempertahankan kekuasaannya maupun orang yang ingin mendapatkan kekuasaan, padahal dia tidak mampu atau kurang yakin terhadap kemampuannya.
Kritikan Gus Dur terhadap anggota Dewan sering terlontar ketika beliau menjabat sebagai presiden. Gus Dur menjadi presiden bukan karena partainya menang, tetapi atas bantuan poros tengah yang dikomandani Amin Rais. Beliau didukung untuk menyingkirkan Megawati yang kurang mendapat dukungan para Kiai. Karena itulah, Gus Dur selalu mendapat kritikan dari para anggota Dewan, terutama dari PDI dan lainnya. Selain itu, poros tengah yang sebelumnya mendukung Gus dur mulai goyah karena Gus Dur juga mengkritik tanpa melihat kawan atau lawan, seperti yang tampak pada kutipan berikut.

Pada bulan Juli Tahun 2001 terjadi perselisihan antara Gus Dur sebagai presiden dengan DPR RI. Dengan rasa percaya diri Gus Dur mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membubarkan DPR RI . Akan tetapi, dekrit tersebut tidak direspon oleh DPR RI yang berakibat lengsernya Gus Dur dari jabatan presiden RI. Pada pertemuan dengan wartawan di Ciganjur, beliau ditanya
“kenapa dekrit Gus Dur tidak laku ?”
“bukan tidak laku, tetapi DPR yang tidak tahu dekrit”, Gus Dur menjelaskan
“masak DPR tidak tahu dekrit Gus”, tanya wartawan.
“Tanya aja sendiri…anggota DPR kan belum lulus SD”, ujar Gus Dur sambil tertawa terkekeh kekeh.

Gus Dur selalu mengeluarkan kelakar dalam mengkritik seseorang, termasuk dalam mengkritik anggota dewan yang terus merongrongnya. Gus Dur pernah mengatakan bahwa dewan bagaikan taman kanak-kanak. Selang beberapa bulan, anggota dewan adu fisik untuk mempertahankan keinginan dan kekuasaannya, seperti yang diungkapkan Gus Dur. Saat kelakar itu tercetus, banyak orang yang menganggap Gus Dur keterlaluan. Akan tetapi, ketika hal buruk terjadi di dewan yang terhormat, semua orang menganggap Gus Dur selalu memiliki misi ke depan, yang tahu apa yang akan terjadi.
Saat Gus Dur menjadi seorang presiden atas jasa baik poros tengah, Gus Dur diharap selalu mengikuti apa yang diinginkan poros tengah. Kenyataannya, Gus Dur selalu melakukan manuver, mulai dari memangkas berbagai institusi atau departemen, pemecatan beberapa menteri, sampai mengeluarkan dekrit. Akibatnya, semua anggota dewan dari berbagai fraksi membencinya.
Gus Dur tetap tenang, meskipun jabatannya terancam. Gus Dur sebagai seorang santri menganggap jabatan adalah sebuah amanah yang kapan saja siap lepas. Gus Dur berpikir bahwa apa yang benar harus ditegakkan meskipun terasa pahit. Orang-orang yang sebelumnya dipecat Gus Dur pada akhirnya juga bermasalah terhadap hukum, yang terakhir Bachtiar Khamsah yang siap-siap menuju terali besi. Ini berarti apa yang dilakukan Gus Dur ada benarnya, meskipun dia awal-awal dianggap sebuah blunder dan kesalahan.
Untuk mengkriti DPR yang tidak menyetujui Dekrit yang dikeluarkan, Gus Dur bekelakar bahwa anggota DPR belum lulus SD. Seseorang yang belum lulus SD tentunya belum bisa bernalar secara aplikatif dan evaluatif. Anak SD hanya bisa menghalaf dan memahami hal-hal yang sifatnya konkret serta kekinian. Anak SD belum bisa berpikir ke masa yang akan datang dan abstrak. Gus Dur menganggap bahwa Dekrit dikeluarkan untuk masa depan bangsa. Karena anggota DPR belum lulus SD sudah sepantasnya kalau tidak menyetujui Dekrit.
Penutup
AWK memandang pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam AWK menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial. Kelakar Gus Dur sangat pas apabila dikaji dengan pisau AWK. Kelakar Gus Dur tidak sekadar kelakar, tetapi lebih dari itu. Kelakar Gus Dur merupakan bentuk kritik terhadap seseorang ataupun institusi yang sedang berkuasa.
Pustaka
Brown, G. dan Yule, G. 1966. Analisis Wacana. Diterjemahkan oleh Sutikno. Jakarta: Gramedia.
Fairclough, H. 1989. Language and Power. London: Longman.
Van Dijk, Teun A. 2001. Critical Discouse Analisis. Diterjemahkan oleh Suhendro. Bandung: UPI.


MEMBANGUN WAWASAN TENTANG FILSAFAT
Oleh: Imron Rosidi



A. Pengantar
Dunia ini adalah sebuah pangggung yang berisi berbagai makhluk hidup yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan hidupnya. Hanya saja, dalam berinteraksi kadang kala di anatarnya terjadi kesalahpahaman, yang satu menyalahkan yang lain. Hal ini terjadi di semua ranah kehidupan, mulai dari politik, sosial, sejarah, budaya, dan agama. Hal ini mungkin dapat dianggap wajar karena setiap manusia yang berinteraksi memiliki tujuan dan cara pandang yang berbeda satu dengan lainnya. Untuk mengurangi bentuk keangkuhan dengan selalu merasa benar diperlukan filsafat.

Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke-7 S.M. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Akan tetapi, filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato, sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.
Mengenai pengertian, sejarah, dan cabang-cabang filsafat secara harafiah mungkin di antara kita sudah memahami. Akan tetapi, untuk memahami secara batiniah tentang filsafat, kita perlu mempelajari secara saksama makalah ini, kemudian mendiskusikan atau mendialektikakan. Hal inilah cara kerja filsafat.

B. Pengertian Filsafat

Sebelum memahami pengertian filsafat, kita perlu mengetahui terlebih dahulu asal kata filsafat. Kata filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan adaptasi dari bahasa Arab ةفسلف. Kata filsafat juga diambil dari bahasa Yunani Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa Yunani, kata philosophia merupakan kata majemuk yang berasal dari kata-kata (philia/philos: persahabatan, cinta, suka) dan (Sophia: kebijaksanaan, kearifan, dan pengetahuan). Secara harafiah, kata filsafat berarti seorang “pencinta kebijaksanaan, kearifan, dan pengetahuan”. Kata Filsafat juga diambil dari kata philosophy dari bahasa Inggris dan filosofi dari bahasa Belanda. Untuk itu, dalam bahasa Indonesia, seseorang yang mendalami bidang filsafat disebut "filsuf".
Untuk dapat memahami hakikat filsafat, kita tidak cukup hanya mengetahui asal usul dan arti istilah yang digunakan, tetapi juga perlu memerhatikan konsep dan pengertian yang disampaikan para filsuf. Pendekatan etimologis tidak dapat mencapai pengertian yang hakiki dan hanya mencapai ciri luarnya saja, bukan substansinya. Padahal, Aristoteles mengatakan bahwa pengertian (definisi) adalah esensi dari sesuatu (definition is essential of think). Untuk itu, dalam kesempatan ini, kami akan menyajikan beberapa pengertian filsafat beserta penjelasannya.
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar (Hidayat, 2006:11). Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara tepat, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk itu, dalam studi filsafat mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, filsafat didefinisikan sebagai: (1) Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; (2) Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; (3) Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisikan, dan epistemologi; dan (4) Falsafah (KBBI, 2008:392). Dengan demikian, orang dikatakan berfilsafat apabila dia sedang berpikir secara radikal (mendasar sampai ke akar-akarnya) dengan memberikan argumen yang bernalar. Argumen yang bernalar tersebut membutuhkan sebuah media yang berupa bahasa dan logika, seperti yang telah dilakukan oleh al-Ghazali dalam mengkaji pemikiran para filsuf muslim.
Para filsuf pra-Socrates memberi pengertian sebagai ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas dengan mengandalkan akal budi. Menurut plato (427-347 SM), filsafat adalah suatu ilmu yang membicarakan hakikat sesuatu, sedangkan Aristoteles mengartikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang kebenaran yang meliputi: logika, fisika, metafisika, dan pengetahuan praktis. Hanya saja, filsafat bukan sekadar ilmu yang mencoba mencari hakikat kebenaran dari sesuatu, tetapi hakikat kebenaran dari seluruh ilmu pengetahuan.
William James mengartikan filsafat sebagai sejumlah kumpulan pertanyaan yang belum pernah terjawab oleh sains secara memuaskan. Menurut Mulder, filsafat adalah pemikiran teoretis tentang susunan realitas yang membuat susunan itu menjadi sasaran pemikiran, sedangkan Fung Yu Lan mengatakan bahwa filsafat adalah pikiran sistematis dan merupakan refleksi tentang hidup.
Para filsuf muslim abad pertengahan memberikan pengertian filsafat sebagai ilmu yang meneliti tentang hakikat segala sesuatu yang ada (al-maujudah) dengan cara menggunakan akal sempurna. Untuk itu, seorang filsuf harus selalu berpikir kritis dengan logika yang benar, tidak terkesan ingin menang sendiri untuk mencapai kebenaran yang diinginkan.
Para filsuf Indonesia mengartikan filsafat sebagai ilmu (tentang segala sesuatu) yang menyelidiki keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya , sedangkan Sidi Gazalba mendefinisikan filsafat sebagai sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil berpikir secara radikal, sistematis, dan universal. Ali Maksum menyimpulkan beberapa pengertian filsafat dari ahli filsuf sebagai proses berpikir secara radikal, sistematis, dan universal terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada. Pengertian yang disampaikan Ali Maksum di atas tampaknya melengkapi pengertian yang disampaikan Sidi Gazalba.
Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa: (1) filsafat adalah sebuah ilmu atau teori, (2) filsafat merupakan kumpulan pertanyaan, (3) filsafat adalah proses berpikir secara radikal, (4) filsafat merupakan hasil karya manusia, dan (5) filsafat bertujuan untuk menanamkan cinta kebijaksanaan dan kebenaran.

C. Cara Kerja Filsafat
Cara kerja filsafat adalah dialektika (dialectic), yaitu suatu kajian konseptual dengan mengajukan berbagai pertanyaan, sejumlah jawaban, dan membangun berbagai implikasi dari jawaban-jawaban itu secara berkelanjutan dan tanpa akhir. Cara kerja ini dikenal dengan dialektik Socrates. Menurut Socrates, cara terbaik untuk mendapatkan pengetahuan adalah lewat pembicaraan secara teratur sebagai stimulus agar orang lain mau berikir serius. Hal ini disebabkan filsafat mengkaji tentang esensi, bukan bentuk lahiriah sebuah ekspresi.
Beberapa model dialektika sebagai cara kerja filsafat kami tampilkan dalam tulisan ini. Pertama, model dialektika yang diperkenalkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831). Beliau ini adalah salah satu filsuf Jerman yang termasyhur dan menjadi rujukan dari pemikiran Idealisme pada masa sekarang ini. Idealisme yang dimaksud adalah salah satu jenis pemikiran yang mengutamakan ide atau gagasan sebagai sumber kebenaran. Biasanya, Idealisme dibandingkan dengan Empirisisme atau jenis pemikiran yang mengutamakan pengalaman atas kenyataan sebagai sumber kebenarannya.
Model dialektika Hegel merupakan salah satu yang tersulit dipahami dalam sejarah filsafat modern. Ini dikarenakan Hegel berbicara dalam tingkatan yang sangat teoretis dan tidak membicarakan hal-hal yang bersifat praktis. Apalagi, filsafat Hegel memiliki dasar pemikiran pada sesuatu yang sangat abstrak, yaitu filsafat "roh". Model dialektika Hegel ini adalah yang lazim dikenal sebagai: tesis - antitesis – sintesis. Tesis secara sederhana dipahami sebagai "suatu pernyataan atau pendapat yang diungkapkan untuk sesuatu keadaan tertentu", misalnya: "Tanah ini basah karena hujan". Antitesis adalah "pernyataan lain yang menyanggah pernyataan atau pendapat tersebut", misalnya: "Hari ini tidak hujan". Sintesis adalah "rangkuman yang menggabungkan dua pernyataan berlawanan tersebut sehingga muncul rumusan pernyataan atau pendapat yang baru", misalnya: "Oleh karena hari ini tidak hujan, tanah ini tidak basah karena hujan."
Model dialektika ini sebenarnya sudah banyak kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pikiran yang satu disanggah dengan pikiran yang lainnya. Namun, rumusan ilmiah atas itu memang baru dibuat secara "hebat" dan mulai terkenal dalam pemikiran filsafat semenjak diperkenalkan Hegel untuk menopang pandangan filsafatnya.
Akan tetapi, membaca pikiran Hegel itu tidak mudah. Membaca Hegel, sama dengan membaca pikiran tiga orang filsuf sebelumnya, yaitu: Immanuel Kant (1724 - 1804), Johan Gottlieb Fichte (1762 - 1814), Friedrich Wilhelm Joseph Schelling (1775 - 1854). Pada dua orang terakhir ini, Hegel mengambil saripati pikiran yang dikembangkan sebagai model dialektika. Sebagai gambaran sederhana, saya akan ringkaskan sedikit pandangan bagaimana Hegel itu sendiri "berdialektika" dengan Ficthe dan Schelling di bawah ini.
Pendapat Fichte yang terutama terletak pada pemahaman atas diri yang disebut "Aku" atau "Ego". Menurutnya, Aku merupakan unsur terpenting dalam diri manusia. Hal itu karena Aku adalah pribadi yang dapat melakukan perenungan. Ini seibarat pendapat Rene Descartes (1596 - 1650) yang mengatakan bahwa Aku berpikir, maka Aku ada (bahasa latinnya, yaitu: Cogito ergo sum). Namun, dalam pikiran Fichte, Aku ini tidaklah sendiri. Aku ini menjadi sadar karena ada sesuatu yang di luar Aku. Dalam konteks ini, sesuatu yang di luar Aku dapat berupa Aku yang lain ataupun alam. Dengan pergumulan Aku yang lain inilah, Aku menjadi sadar kalau dirinya terbatas. Begitu pun sebaliknya dengan Aku yang lainnya itu. Bahasa sederhananya, ketika kita menyadari kehadiran orang lain, kita menjadi sadar kalau kita tidak sendiri. Dengan menyadari ketidaksendirian itu, kita pun menjadi sadar kalau kita dibatasi ataupun membatasi orang lain. Kita maupun orang lain menjadi tidak bebas.
Dalam model dialektika, pola pikir Fichte terumus demikian: Aku ini sadar (tesis) - Ada Aku lain (antitesis) - Aku dan Aku lain saling membatasi (sintesis).

Dalam pikiran Schelling, hal ini terungkap dalam kaitannya dengan permasalahan identitas. Schelling menolak Fichte yang mengutamakan Aku atas alam. Menurutnya, identitas Aku itu tidaklah bersifat subjektif (berciri "roh") ataupun objektif (berciri "materi"). Aku mengatasi keduanya. Oleh karena itu, Aku berciri mutlak atau absolut. Maksudnya, secara sederhana, andaikan saja Aku ini bukan pribadi, Aku akan mendapatkan ciri yang sangat abstrak karena ketika tadi dipahami bahwa alam adalah Aku yang lain, alam yang bukan pribadi mendapatkan status yang sama dengan manusia yang pribadi. Jadi, tidak ada bedanya antara manusia dan alam karena keduanya dapat dipandang sebagai Aku.
Dalam model dialektika, pola pikir Schelling terumus demikian: Aku yang lain atau alam (tesis) - Aku individu atau manusia (antitesis) - Aku yang bukan materi dan roh (sintesis).

Berusaha mengatasi perdebatan antara Fichte dan Schelling, Hegel lalu merumuskan sesuatu yang "sederhana" dibandingkan dua pendapat filsuf itu. Pada satu sisi, ia mengkritik pandangan Fichte yang tidak menyelesaikan masalah pertentangan antara Aku dengan Aku yang lain. Sementara pada sisi yang lain, walaupun kagum dengan filsafatnya Schelling, Hegel mengatakan bahwa pendapat Schelling memiliki kelemahan karena tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan Aku absolut itu sendiri. Hegel lalu merumuskan pemahamannya atas masalah ini menjadi: Idea (tesis) - Alam (antitesis) - Roh (sintesis). Inilah yang dimaksudkan sebagai Aku absolut menurut pandangan Hegel.

D. Cabang-cabang Filsafat
Pada awal perkembangannya, semua ilmu pengetahuan tergolong filsafat. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada masa Renaisance abad ke-17, ilmu-ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang dangat pesat dan memisahkan diri dari filsafat dan filsafat menjadi sebuah ilmu tersendiri yang mencoba untuk memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh sebuah ilmu.
Sebagaimana pengertian filsafat, pembagian cabang-cabang filsafat oleh para filsuf juga berbeda-beda. Dalam tulisan ini akan disajikan cabang-cabang filsafat menurut M.J. Langeveld, De Vos, Alburey Castell, Will Durrant, dan Aristoteles. M.J. Langeveld membagi filsafat dalam tiga masalah utama, yaitu: (1) Lingkungan masalah-masalah keadaan (metafisika manusia, alam, dan segala ciptaan Tuhan, (2) Lingkungan masalah-masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan, dan logika, dan (3) lingkungan masalah-masalah nilai ( teori nilai, etika, estetikan, moral, dan religi).
De Vos menggolongkan cabang-cabang filsafat menjadi: metafisika, logika, ajaran tentang ilmu pengetahuan, filsafat alam, filsafat budaya, filsafat sejarah, etika, estetika, dan antropologi. Alburey Castell membagi masalah filsafat menjadi: theological problem, metafisikal problem, epistemological problem, ethical problem, political problem, dan historical problem, sedangkan Will Durrant mengemukakan lima cabang filsafat, yaitu: logika, estetika, etika, politika, dan metafisika. Aristoteles membagi filsafat ke dalam tiga bidang, yaitu: (1) filsafat spekulatif atau teoretis (fisika, metafisika, biopsikologi), (2) filsafat praktika (etika, politik), dan (3) filsafat produktif (sastra, retorika, dan estetika).
Dari berbagai pembagian dari para Filsuf di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat dapat dibagi ke dalam beberapa cabang, yaitu sebegai berikut.
a. Epistemologi, yaitu filsafat tentang ilmu pengetahuan yang mempersoalkan sumber, asal mula, dan jangkauan, serta validitas dan reliabilitas dari berbagai klaim terhadap pengetahuan.
b. Metafisika, yaitu filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, tentang hakikat yang bersifat transeden, di luar jangkauan indera manusia (ontologi, kosmologi, teologi metafisik, dan antropologi). Misalnya, persoalan hidup setelah mati. Hal ini sulit untuk dijelaskan.
c. Logika, yaitu studi tentang metode berpikir dan penelitian, yang meliputi: obeservasi, introspeksi, deduksi, dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis.
d. Etika, yaitu studi tentang tingkah laku yang ideal, termasuk aksiologi. Pertanyaan pokok dalam etika adalah Apa yang harus kita lakukan?
e. Estetetika, yaitu studi tentang bentuk ideal dan keindahan, yang biasa disebut filsafat seni.
f. Filsafat khusus, misalnya filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.

E. Mengapa Perlu Belajar Filsafat?
Tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak memiliki manfaat, termasuk mempelajari filsafat. Dengan mempelajari filsafat diharapkan kita bisa lebih bijaksana, artinya kita selalu menggunakan akal budi, arif, dan tajam pikiran; pandai dan selalu ingat apabila sedang menghadapi kesulitan. Apabila kesulitan itu hinggap pada diri kita, maka kita perlu mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan kesulitan tersebut. Jadi, sudahkah Anda membuat pertanyaan itu?
Misalnya begini. Apakah yang dinamakan blog itu? Secara sederhana tentu kita dapat menjawab bahwa blog adalah "satu tempat kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital", atau mungkin Anda punya jawaban ini, blog adalah "diari elektronik".
Nah, dari pertanyaan sederhana tentang blog saja kita sudah mendapat dua jawaban yang berbeda. Jawaban pertama tampak terlalu formal, dan jawaban yang kedua lebih mudah kita ingat. Ini sudah menimbulkan sedikit masalah sebenarnya karena kita mungkin bingung untuk memilih jawaban yang pertama apa jawaban kedua atau mungkin Anda mempunyai jawaban lain.
Bertambahnya jawaban, walaupun hanya satu, menandakan bahwa pikiran kita yang bingung mulai berkembang untuk mengatasi masalah tersebut. Ada jawaban A, B, hingga Z mungkin. Oleh karenanya, dibutuhkan kemauan dan kesanggupan kita untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam konteks ini, filsafat sebenarnya membantu kita untuk menata persoalan. Dalam kasus di atas, kalau kita memiliki jawaban lain yang mengatakan bahwa blog itu adalah "cara baru untuk bertegur sapa", mengapa tidak kita coba saja membandingkannya dengan jawaban di atas.

A --> Blog adalah "satu tempat yang di dalamnya kita dapat berekspresi secara bebas di dunia digital".

B --> Blog adalah "diari elektronik".

C --> Blog adalah "cara baru untuk bertegur sapa".

Tiga pengertian ini kalau kita ambil yang pokoknya akan terdiri dari beberapa istilah penting, yaitu: tempat, ekspresi, bebas, dunia digital, diari, elektronik, cara, dan tegur sapa. Istilah-istilah ini bisa dirangkai lagi menjadi pengertian baru menjadi:
Blog adalah cara berekspresi di dunia digital atau diari yang kita buat secara elektronik dan menjadi tempat baru untuk bertegur sapa dengan bebas.

Akhirnya, jawaban baru di atas merupakan rangkuman semua jawaban yang sudah ada sebelumnya. Inilah gambaran sederhana bagaimana kita berfilsafat. Filsafat itu adalah cara untuk memahami sesuatu. Untuk memahami blog, kita dapat memformulasikan berbagai jawaban sebelumnya untuk menghasilkan sebuah jawaban baru yang lebih baik dan lengkap.
Hal inilah salah satu alasan mengapa kita perlu belajar filsafat. Kita butuh satu cara untuk lebih memahami masalah-masalah kita; memahami keluarga, saudara, kerabat, sahabat, teman, teman dekat, pacar, kolega, orang asing, dan macam-macam orang yang sejenis dengan "manusia"; juga yang terpenting memahami tujuan hidup kita sendiri.
Pada tingkat yang lebih jauh, dengan belajar filsafat atau tepatnya belajar memahami secara lebih baik, kita tidak akan menjadi egois atau mengaku yang paling benar. Kalau ada di antara kita yang senang menyalahkan orang lain berarti dia belum belajar filsafat. Dia hanya "belajar teori filsafat". Jadi, Anda perlu belajar filsafat.

F. Filsafat Bahasa
Filsafat adalah proses berpikir secara radikal tentang suatu realitas. Dalam hal ini berpikir adalah berbahasa, dan yang dipikirkan adalah realitas. Sementara realitas merupakan sesuatu yang disimbolkan lewat bahasa. Bahasa tidak sekadar urutan bunyi yang dapat dicerna secara empiris, tetapi juga kaya dengan makna yang sifatnya non-empiris. Dengan demikian, bahasa merupakan sarana penting dalam berfilsafat, yakni sebagai alat untuk mengejawantahkan pikiran tentang fakta dan realitas yang disimbulkan lewat simbol bunyi. Tanpa bahasa para filsuf tidak akan pernah berfilsafat. Namun, tanpa filsafat kita tetap mampu berbahasa. Sebaiknya sebelum ide dikatakan benar atau salah, perlu dikaji lebih dahulu apakah bahasa yang digunakan menentukan maknanya. Jadi, makna menjadi fokus analisis linguistik dalam penyelidikan filsafat.
Ada dua kelompok filsafat bahasa, yakni: pertama, perhatian para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan berbagai objek filsafat. Artinya, objek material filsafat adalah bahasa itu sendiri, sedangkan objek formalnya adalah sudut pandang falsafi terhadap bahasa itu. Cara kerja ini lazim disebut filsafat analitik atau filsafat analitik bahasa.
Kedua, perhatian terhadap objek bahasa sebagai objek materi dari kajian filsafatseperti halnya filsafat hukum, filsafat seni, filsafat manusia, filsafat agama, dan sebagainya. Filsafat bahasa atau filsafat bentu-bentuk simbolis berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti hakikat dan fungsi bahasa, hubungan bahasa dan realitas, jenis-jenis sistem simbol, dan dasar-dasar untuk mengevaluasi sistem bahasa. Dari kelompok kedua inilah berkembang teori-teori linguistik selama ini. Ada beberapa alasan, mengapa filsafat bahasa jarang dibahas, yaitu: (1) filsafat bahasa dianggap kurang relevan karena idak terkait langsung dengan persoalan praktik di lapangan, (2) kurangnya tenaga pengajar yang berminat terhadap filsafat bahasa sehingga regenerasi dan reproduksi minat dan komitmen terhadap filsafat bahasa menjadi lamban.

G. Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan adalah suatu teori yang mendasari alam pikiran ihwal pendidikan atau suatu kegiatan pendidikan. Pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat pendidikan adalah apakah tujuan pendidikan itu. Untuk itu, perlu mengkaji metafisik, epistimologis, moral, dan politik. Selan itu, peranyaan yang harus dikaji adalah: Apa hakikat manusia? Bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan? Apa standar moral yang harus dipegang manusia? Bagaimana semestinya masyarakat diorganisir? Jadi tidak sekadar mengkalimatkan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan harus dirinci secara jelas sehingga metode untuk mencapai tujuan itu jelas.
Cerminan dari filsafat pendidikan dituangkan dalam kurikulum. Lebih spesifik lagi adalah apa yang diajarkan oleh guru di kelas. Kaitan antara filsafat dan kurikulum adalah bahwa kurikulum menggarap aspek tertentu dari filsafat dan melihat manusia dalam bingkai mikrokosmos, sementara filsafat merupakan teori umum ihwal pendidikan dan melihat manusia dalam bingkai makrokosmos. Karena itu, tim pengembang kurikulum harus membuat sejumlah keputusan cerdas tentang tiga perkara, yaitu: (1) hakikat realita (ontologi), (2) hakikat pengetahuan (epistimologi), dan (3) hakikat nilai baik dan buruk (aksiologi).

H. Filsafat Pendidikan Bahasa
Filsafat pendidikan bahasa adalah sinergi antara foilsafat pendidikan dan filsafat bahasa. Pemikir pendidikan bahasa mempelajari filsafat bahasa secara historis, sistematis, analisis, dan intuitif. Jadi, filsafat pendidikan bahasa adalah teori yang mendasari alam pikiran manusia tentang pendidikan bahasa atau suatu kegiatan pendidikan bahasa. Berdasarkan filsafat pendidikan bahasa inilah, maka berkembanglah teori-teori, pendekatan-pendekatan, metode-metode, dan teknik-teknk mengajar bahasa. Jadi, setiap kebijakan engajaran di kelas dapat ditelusuri asalnya, yakni melalui filsafat pendidikan bahasa. Pendidikan bahasa sangat penting kedudukannya dalam pendidikan lain karena sukses dalam penguasaan mata pelajaran sangat bergantung pada penguasaan bahasa lisan dan tulis atau literasi, karena pembelajaran berbagai mata pelajaran mesti menggunakan bahasa.


I. Hakikat Dasar Keilmuan
Ilmu (science) merupakan salah satu cabang dari pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) yang mempunyai karakteristik tersendiri. Karakteristik tersebut mencirikan hakikat keilmuan. Ilmu pengetahuan merupakan konsekuensi usaha manusia yang antara lain bertujuan untuk: (a) memahami realitas kehidupan dan alam semesta, (b) menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi, dan (c) mengembangkan dan melestarikan hasil yang sudah dicapai oleh manusia sebelumnya.
Ilmu bukan merupakan suatu bangunan abadi, namun merupakan sesuatu yang tidak pernah selesai. Ilmu tidak lepas dari keterbukaan terhadap koreksi, meskipun didasarkan pada kerangka objektif, rasional, sistematis, logis, dan empiris. Kebenaran ilmu bersifat relatif, bukan merupakan kebenaran mutlak. Alternatif pengembangan ilmu menyangkut aspek metodologis, ontologis, aksiologis, dan epistemologis. Karena itu pengembangan ilmu yang dilahirkan validitas dan kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan baik berdasarkan context of justification maupun context of discovery.
Pengembangan ilmu tidak hanya dapat dirumuskan dari konteks ilmu itu sendiri, namun harus disinkronisasikan dengan akar budaya suatu bangsa. Nilai sebuah pengembangan ilmu dapat dilihat dari sejauh mana esensi ilmu tersebut mampu memberikan nilai lebih terhadap kemakmuran kehidupan manusia tanpa harus meninggalkan tata nilai, etika, moral, dan filosofi di mana manusia tersebut berada. Jadi, nilai budaya pada hakikatnya dapat dijadikan kerangka landasan pengembangan ilmu. Selain itu, ilmu dapat merupakan sumber nilai terhadap pengembangan kebudayaan.
Yang menjadi persoalan adalah sejauh mana pengembangan ilmu pengetahuan ini adalah sejauh mana spiritualitas, moralitas, dan norma-norma etika mampu berperan sebagai dasar pengembangan ilmu itu sendiri. Apakah tata nilai ilmu pengetahuan mampu mengembangkan budaya dan pola pikir manusia sehingga tidak terjebak dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kering yang hanya bersifat fisik semata. Dalam hal inilah pemahaman terhadap filsafat ilmu sangat diperlukan.
1. Pengetahuan
Pengertian pengetahuan secara luas adalah mencakup segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek, terminologi generik yang mencakup segenap cabang pengetahuan seperti seni, moral, dan ilmu. Manusia mendapatkan pengetahuan tersebut lewat berpikir, merasa, dan mengindera. Selain itu juga lewat intuisi dan wahyu.
Secara garis besar, pengetahuan dapat ditinjau dari kegunaannya dan dari sumbernya. Ditinjau dari kegunaannya, ada tiga kategori utama pengetahuan. Ketiga kategori tersebut adalah: (1) etika, yakni pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk; (2) estetika, yakni pengetahuan tentang apa yang indah dan jelek; dan (3) logika, yakni pengetahuan tentang apa yang salah dan benar. Selanjutnya, sumber pengetahuan adalah pikiran, perasaan, indra, intuisi, dan wahyu.
Untuk mengetahui, menyusun, dan memanfaatkan pengetahuan, ada tiga ciri pembeda pengetahuan. Ketiga ciri pembeda tersebut adalah: (1) apa (antologi), (2) bagaimana (epistemologi), dan (3) untuk apa (aksiologi). Ketiga ciri pembeda inilah yang mencirikan hakikat pengetahuan, sekaligus membedakannya dengan jenis-jenis pengetahuan yang lain.
2. Penalaran
Penalaran adalah suatu kegiatan berpikir berdasarkan suatu aturan (logika). Tujuan utama penalaran adalah mengembangkan kemampuan untuk mencirikan dan membedakan buah pikiran berdasarkan konsep pemikiran tertentu. Karena itu, dalam mengembangkan kemampuan penalaran ilmiah, harus dikembangkan konsep kemampuan untuk menguasai konsep hakikat keilmuan dan mempergunakannya untuk membedakan ilmu terhadap cabang-cabang pengetahuan lainnya. Hal ini memungkinkan kita untuk meletakkan ilmu prespektif yang benar di tengah prespektif pengetahuan secara keseluruhan dan kita dapat menganalisis kaitan ilmu dengan pengetahuan lainnya seperti moral dan humaniora. Pendekatan seperti ini akan menghasilkan ilmuwan yang mempunyai keahlian tinggi dan berkepribadian luhur yang mencerminkaan pembentukan manusia seutuhnya secara intelektual, moral, dan sosial.
Berpikir logis merupakan suatu kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan logika. Proses berpikir logis tersebut ddisebut sebagai kegiatan analisis. Analisis ini merupakan suatu proses yang harus ditempuh dalam kegiatan berpikir agar kesimpulan yang ditarik sahih ditinjau dari logika tertentu.
Tidak semua kesimpulan ditarik lewat kegiatan analisis, misalnya dalam berpikir intuitif. Kegiatan berpikir secara intuitif mengandung kelemahan, yakni kita tidak bisa menjelaskan alasan mengapa kita bisa sampai kepada kesimpulan tersebut. Kadang kegiatan intuisi mempunyai peranan yang lebih besar daripada kegiatan analisis. Hal itu merupakan salah satu penghambat pengembangan berpikir ilmiah. Kesimpulan ilmiah harus didasarkan pada analisis epistemologi keilmuan dan bukan pada intuisi yang bersifat memintas penalaran.
Perasaan efektif bagi seni dan moral, tidak dapat diandalkan dalam menyusun pengetahuan ilmiah. Perasaan cenderung bersifat subjektif, sedangkan ilmu bersifat objektif. Perasaan memegang peranan dalam kebudayaan. Hal ini merupakan penghambat kedua dalam berpikir keilmuan. Jadi, tidak mungkin mengembangkan ilmu dan teknologi berdasarkan perasaan yang subjektif dan intuisi yang mem-by pass penalaran.
Kemampuan untuk mencirikan dan membedakan hakikat keilmuan harus ditunjang oleh pengembangan subkultur keilmuan. Hal ini merupakan tumpuan pokok untuk mengembangkan ilmu dan teknologi.
3. Ilmu dan Kebenaran
Ilmu merupakan kategori yang ketiga (logika) secara luas. Pengertian logika secara sempit adalah cara berpikir menurut suatu aturan aatau disiplin tertentu. Hal ini karena ilmu dikenal sebagai disiplin pengetahuan yang relatif teratur dan terorganisasikan.
Ilmu merupakan pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Hal itu memungkinkaan kita untuk meramalkan dan mengontrol apa yang akan terjadi. Ilmu membatasi ruang jelajah kegiatan pada daerah pengalaman manusia. Objek penjelajahan keilmuan meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat pancainderanya.
Ilmu menafsirkan realitas objek penelaahan sebagaimana adanya (das sein). Secara metafisik ilmu bersifat bebas nilai. Ilmu secara otonom dapat mempelajari alam sebagaimana adanya. Jadi, antologi keilmuan bersifat bebas nilai.
Secara epistemologis, ilmu memanfaatkan kemampuan pikiran dan indra manusia dalam menjelajah alam. Epistemologi keilmuan merupakan gabungan antara berpikir rasional dan berpikir empiris dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran.
Kriteria kebenaran dalam ilmu adalah: (1) koherensi, (2) korespondensi, dan (3) pragmatisme. Koherensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri pada kriteria tentang konsistensi suatu argumentasi. Bila ada konsistensi dalam alur berpikir, maka kesimpulan yang ditarik adalah benar. Bila terdapat argumentasi yang tidak bersifat konsistensi, maka kesimpulan yang ditarik aadalah salah.
Argementasi yang konsisten harus koheren untuk disebut benar. Artinya, argumentasi yang konsisten harus terpadu secara utuh (koheren). Demikian juga bila dikaitkan dengan pengetahuan sebelumnya yang dianggap benar. Landasan koherensi ini untuk menyusun pengetahuan yang bersifat sistematis dan konsisten.
Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri pada kriteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan tersebut. Teori ini menghubungkan kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Jadi, teori ini mensyaratkan adanya kesesuaian antara materi yang terkandung dalam pernyataan itu dengan kenyataan sebenarnya.
Sifat salah atau benar dalam teori korespendensi disimpulkan dalam proses pengujian (verifikasi) untuk menentukan sesuai tidaknya suatu pernyataan dengan kenyataan yang sebenarnya. Dalam menyusun pengetahuan yang bersifat rasional, konsisten, dan sistematis, ilmu mengandalkan pikiran dan pancaindera untuk menguji kesesuaian pernyataan dengan kenyataan. Jadi, pengetahuan ilmiah selain bersifat rasional, konsisten, dan sistematis juga teruji kebenarannya, sehingga ilmu pengetahuan dapat diandalkan.
Pada kenyataannya, kebenaran ilmiah tidaklah bersifat mutlak, melainkan bersifat pragmatis. Teori keilmuan dipandang benar pada kurun waktu tertentu, mungkin akan dipandang salah pada kurun waktu lain. Namun, hal itu tidak masalah, sebab dalam menilai kegunaan pengetahuan yang disusunnya, ilmu mendasarkan diri pada kriteria pragmatisme.
Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang berfungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Bila suatu teori secara keilmuan mampu menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol suatu gejala alam tertentu, maka secara pragmatis teori itu adalah benar.
Nilai kegunaan pengetahuan didasarkan kepada preferensi teori yang satu dibandingkan dengan teori yang lain. Dunia keilmuan memberikan preferensi kepada teori yang bersifat umum (universal) dibandingkan dengan teori-teori sebelumnya. Bila suatu pengetahuan ilmiah bersifat fungsional dalam kurun waktu tertentu, yang mencerminkan situasi peradaaban manusia waktu itu, maka secara relatif pengetahuan itu benar.
4. Penarikan Kesimpulan yang Sahih
Proses kegiatan keilmuan merupakan serangkaian argumentasi yang membuahkan kesimpulan yang sahih. Pengetahuan ilmiah disebut benar apabila argumentasi yang dikemukakannya sahih ditinjau dari kriteria koherensi, korespondensi, dan pragmatisme. Ilmu merupakan upaya manusia untuk menemukan kebenaran. Untuk itu, ilmuwan harus menguasai dengan benar langkah-langkah dalam menemukan kebenaran tersebut serta perangkat yang memungkinkan penarikan kesimpulan yang sahih. Langkah-langkah dalam menemukan kegemaran ilmiah tersebut disebut metode ilmiah. Perangkat ilmiahnya terdiri dari bahasa, logika, matematika, statistika, dan lain-lain.
Penelitian ilmiah merupakan penjabaran secara utuh dari langkah-langkah yang ditunjang oleh perangkat ilmiah. Penelitian ilmiah mencerminkan kegiatan profesional ilmuwan dalam memproses pengetahuan yang dapat diandalkan. Selain itu sebagai sarana pendidikan yang ditujukan kepada penguasaan langkah dan perangkat keilmuan. Oleh karena itu, kegiatan penelitian ilmiah merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan, baik dalam kegiatan profesional ilmuwan, maupun dalam proses pendidikan. Pengembangan paradigma penelitian ilmiah merupakan landasan bagi kemajuan ilmu dan teknologi.
5. Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan langkah-langkah dalam memproses pengetahuan ilmiah dengan menggabungkan cara berpikir rasional dan empiris dengan jalan membangun jembatan penghubung yang berupa pengajuan hipotesis. Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik secara rasional dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat koheren dengan pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebelumnya. Fungsi hipotesis sebagai jawaban sementara terhaap permasalahan yang ditelaah dalam kegiatan ilmiah. Hipotesis merupakan suatu kesimpulan dari suatu proses berpikir dan bukan dugaan yang dikemukakan secara asal-asalan. Penarikan kesimpulan tersebut harus memenuhi persyaratan kriteria kebenaran koherensi yang merupakan tolok ukur kesahihan cara berpikir rasional. Perangkat yang digunakan dalam hal itu disebut logika deduktif.
Logika merupakan alur pikiran dalam sebuah penalaran yang teratur atau prosedur dalam kegiatan berpikir agar kesimpulan yang ditarik bersifat sahih. Logika deduktif merupakan prosedur penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat umum menjadi pernyataan yang bersifat khusus. Logika deduktif menjamin konsistensi dalam argumentasi yang dipersyaratkan oleh kriteria kebenaran koherensi. Argumentasi ilmiah harus mendasarkan diri pada pengetahuan ilmiah sebelumnya dalam menarik kesimpulan yang berupa hipotesis.
Jadi, pengetahuan ilmiah berfungsi sebagai sumber informasi dalam menyusun kerangka berpikir yang membuahkan hipotesis yang berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap pernyataan yang dipermasalahkan. Bila pengetahuan ilmiah dalam argumentasi deduktif tidak berfungsi menyebabkan penguasaan kita terhadap ilmu bersifat dangkal.
Hipotesis secara intuitif dan tanpa argumentasi menyebabkan kesahihan pengetahuan ilmiah diragukan, mematikan kegiatan berpikir analitis, dan memberikan persepsi yang salah terhadap fungsi pengetahuan ilmiah. Pada akhirnya dapat menyebabkan tidak adanya kesesuaian antara pengetahuan ilmiah yang dikuasai dengan sikap dan tindakan dalam kegiatan sehari-hari.
Secara rasional, berbagai hipotesis dapat diajukan sebagai dugaan terhadap permasalahan yang diajukan. Karena itu, bagaimanapun meyakinkannya suatu argumentasi yang disusun dalam menyimpulkan hipotesis, kesimpulan tersebut hanya merupakan salah satu dari sejumlah hipotesis yang mungkin disusun dalam menjawab permasalahan itu. Kesimpulannya hanya bersifat dugaan atau jawaban sementara yang kebenarannya harus diseleksi atau dinilai kembali berdasarkan kriteria tertentu, yakni kriteria korespondensi.
Secara sederhana, hakikat metode ilmiah adalah: “Timbang dengan akal lalu dengan indera”. Sebaliknya, mengamati kenyataan tanpa “konsepsi” yang dibangun pikiran kita tidak akan menghasilkan apa-apa, malah mungkin kita menyimpulkan pernytaan yang tidak-tidak. Metode ilmiah merupakan langkah-langkah yang memporoskan troika: (a) penyusunan kerangka berpikir berdasarkan logika deduktif; (b) pengajuan hiptesis sebagai kesimpulan dari kerangka berpikir tersebut; dan (c) pengujian (verifikasi) hipotesis. Metode ilmiah dikenal sebagai proses logiko-hipotetiko-verifikatif atau dedukto-hipotetiko-verifikatif. Metode ilmiah yang didiskripsikan secara sistematis sangat penting untuk tujuan edukatif.
Langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut.
(1) Perumusan masalah, merupakan pernyataan tentang objek empiris yang mempunyai lingkup/batas permasalahan yang jelas, yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
(2) Penyusunan kerangka berpikir, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan teoritis antara faktor-faktor yang merupakan permasalahan dengan mempergunakan pengetahuan ilmiah dengan tujuan untuk menyimpulkan hipotesis yang berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan.
(3) Pengajuan hipotesis, merupakan kesimpulan yang ditarik dari kerangka yang telah disusun.
(4) Pengujian hipotesis, merupakan pengumpulan data yang relevan untuk menilai kesesuaian antara materi pernyataan yang terkandung dalam hipotesis dengan kenyataan empiris yang sebenarnya.
(5) Penarikan kesimpulan, menilai apakah kenyataan empiris sesuai atau tidak dengan hipotesis yang diajukan. Jika data mendukung hipotesis, maka pernyataan dalam hipotesis dianggap benar. Sebaliknya, jika data yang dikumpulkan tidak mendukung hipotesis, maka hipotesis tersebut ditolak.
6. Sarana Kegiatan Ilmiah
Ilmu memerlukan seperangkat alat dalam melakukan kegiatannya agar penarikan kesimpulan yang dilakukan dalam memproses pengetahuan ilmiah bersifat sahih dan membuahkan pengetahuan yang akurat serta dapat diandalkan. Sarana kegiatan ilmiah yang harus dikuasai secara memadai adalah: (1) bahasa, (2) logika, (3) matematika, dan (4) statistika.
Proses berpikir ilmiah hakikatnya merupakan kegiatan berpikir analitis agar membuahkan kesimpulan yang sahih dengan mempergunakan logika deduktif atau logika induktif. Logika deduktif, merupakan cara penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat umum kepada pernyataan yang bersifat khas (khusus). Pengetahuan ilmiah merupakan pernyataan secara umum (universal), sedangkan masalah konkret dalam kehidupan praktis biasanya bersifat khas. Karena itu, logika deduktif diperlukan untuk menerapkan pengatahuan ilmiah tersebut kepada masalah-masalah praktis.
Logika induktif, merupakan cara penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat individual (khas) kepada pernyataan yang bersifat umum. Logika induktif dipergunakan dalam melakukan pengujian terhadap hipotesis. Logika induktif merupakan sarana yang dipergunakan untuk melakukan generalisasi tersebut.
Kekacauan mengenai logika menyebabkan kesimpulan yang ditarik menjadi tidak sahih. Hal ini terutama terjadi dalam proses pengujian sering terjadi kesimpulan mengenai data empiris berdasarkan logika deduktif. Terlihat pada seseorang yang tidak menguasai statistika, penarikan kesimpulan induktif dari data yang dikumpulkan biasanya tidak representatif. Karena itu, pengetahuan statistika sangat diperlukan. Statistika merupakan sarana berpikir ilmiah yang membantu kita untuk melakukan generalisasi secara sahih dari data empiris yang dikumpulkan.
Penarikan kesimpulan deduktif membutuhkan sarana lain, yakni matematika yang merupakan sarana berpikir deduktif yang canggih (sophisticated) dan lebih dapat diandalkan karena ada unsur pengukuran. Lambang matematis berfungsi sebagai sarana komunikasi ilmiah di samping bahasa verbal.
Kemampuan berbahasa merupakan syarat mutlak untuk melakukan kegiatan ilmiah karena bahasa merupakan sarana komunikasi ilmiah yang pokok. Dengan bahasa ilmuwan dapat mengomunikasikan gagasannya kepada pihak lain, menyampaikan informasi serta berargumentasi. Bahasa memang mempunyai beberapa kelemahan karena bahasa mempunyai beberapa fungsi dalam kehidupan manusia.
Ada tiga jenis pesan yang ingin disampaikan dengan bahasa, yakni (a) emosi, (b) sikap, dan (c) pikiran (termasuk penalarannya). Aspek pikiran inilah yang membedakan bahasa manusia dengan binatang. Aspek emosi dan sikap sangat dipengaruhi oleh kebudayaan.
Kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi ilmiah sangat kurang, apalagi dalam komunikasi tulisan. Kekurangmampuan ini juga disebabkan oleh proses pendidikan kita yang kurang memperhatikan aspek penalaran dalam pengajaran bahasa.

Referensi
Alwasilah, A. Chaedar. 2010. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Hidayat, Asep Ahmad. 2006. Filsafat Bahasa. Mengungkap Hakikat bahasa, makna, dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Maksum, Ali. 2008. Pengantar Filsafat: Dari masa Klasik Hingga Postmodernisme. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Mustasyir, Rizal. 1988. Filsafat Bahasa: Aneka Masalah Arti dan Upaya Pemecahannya. Jakarta: Prima Karya.
Thoyibi, M. 1999. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Preess.