kajian bahasa

ANALISIS WACANA
Oleh: Imron Rosidi


            Ketika kita membahas pragmatik, kita telah mengenal pertanyan-pertanyaan tentang penafsiran wacana yang dikehendaki oleh penutur. Hal-hal yang dikaji dalam pragmatik diperlukan juga dalam analisis wacana. Analisis wacana (discourse analysis) membahas bagaimana pemakai bahasa mencerna apa yang ditulis oleh para penulis dalam buku-buku teks, memahami apa yang disampaikan penyapa secara lisan dalam percakapan, dan mengenal wacana yang koheren dan yang tidak koheren.
Definisi Wacana
            Definisi wacana klasik yang diturunkan dari asumsi kaum formalis (dalam istilah Hyme “Struktural”) adalah bahwa wacana merupakan “bahasa di atas kalimat atau klausa” (Stubbs, 1983). Mey mengatakan bahwa wacana adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Istilah wacana mengacu ke rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulis (Samsuri, 1987/1988:1). Wacana memperlakukan kaidah-kaidah tata bahasa sebagai suatu sumberdaya yang menyesuaikan dengan kaidah-kaidah itu ketika memang diperlakukan.
            Dijk (1985:4) mengamati “uraian-uraian struktural mengkarakterisasi wacana pada sejumlah tingkatan atau dimensi analisis dan dalam berbagai macam satuan, kategori, pola skematis atau relasi.” Di samping keberagaman pendekatan struktural yang dikemukakan oleh Van Dijk, juga ada inti yang umum. Analisis-analisis struktural difokuskan pada berbagai macam satuan yang berbeda berfungsi dalam kaitannya satu sama lain (sebuah fokus yang secara umum sama dengan strukturalisme, tetapi mengabaikan relasi-relasi fungsional dengan konteks (wacana merupakan bagian di dalamnya). Karena secara tepat hubungan ini (antara wacana dan konteks yang wacana merupakan bagian di dalamnya) yang mengkarakterisasi analisis fungsional, agaknya terasa bahwa kedua pendekatan memiliki sedikit persamaan.
Hakikat Analisis Wacana
            Daya tarik analisis wacana berasal dari realisasi bahwa bahasa, tindakan, dan pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Wawasan terpenting, disampaikan oleh Austin bahwa ujaran-ujaran merupakan tindakan (Austin, 1962). Sejumlah tindakan tindakan hanya dapat dilakukan melalui bahasa (misalnya, meminta maaf), sementara yang lain dapat dilakukan secara verbal maupun nonverbal (misalnya mengancam). Selanjutnya, begitu kita mulai mengkaji bagaimana bahasa dipakai dalam interaksi sosial. Jelas kiranya bahwa komunikasi tidak mungkin terjadi tanpa adanya pengetahuan dan asumsi yang sama antara penutur dan pendengar.
            Analisis wacana dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis wacana mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih besar seperti percakapan atau teks tulis. Di samping itu, analisis wacana juga mengkaji pemakaian bahasa dalam konteks sosial termasuk interaksi di antara penutur-penutur bahasa (Stubbs, 1984:1). Analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksudkan oleh pembicara dalam wacana lisan, atau oleh penulis dalam wacana tulis. Untuk mencapai tujuan itu, analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat, piranti-piranti, serta temuan-temuannya yang penting (Kartomihardjo, 1992:1). Analisis wacana adalah penyelidikan atas apa yang memberi keruntunan wacana. Analisis wacana juga memanfaatkan hasil kajian pragmatik. Oleh karena itu, analisis wacana berupakaya menafsirkan suatu wacana yang tidak terjangkau oleh semantik tertentu maupun sintaksis. Sebagai contoh, perhatikan ujaran berikut.
    (1) Jangan dilipat.
    (2) Rasanya seperti buka puasa
            Ujaran (1) tertera pada sebuah amplop yang dikirim oleh sebuah instansi/dinas. Ujaran tersebut berfungsi sebagai peringatan kepada jasa pengiriman surat agar tidak melipat surat itu karena di dalamnya berisi sesuatu yang dapat rusak kalau dilipat, misalnya lembar jawaban UAN. Tulisan itu tidak disertai ujaran tambahan amplop surat ini. Walaupun demikian, pengirim surat tentunya maklum bahwa yang dimaksudkan ialah amplop itu, bukan amplop yang lain.
            Ujaran (2) diucapkan oleh mahasiswa terundang yang sedang menghadapi berbagai jenis minuman dalam sebuah acara yang diadakan fakultas. Ujaran itu menunjukkan bahwa mahasiswa terundang sangat haus. Dia mengutarakannya dengan membandingkan siatuasi yang dialaminya pada saat itu dengan situasi ketika dia menjalani puasa. Pendengar yang sudah pernah merasakan hausnya saat puasa dan nikmatnya buka puasa mengetahui secara pasti apa yang dimaksudkan dalam ujaran itu.
            Dari kedua contoh di atas diketahui bahwa ternyata kedua kalimat tersebut tidak lengkap. Meskipun demikian, kalimat (1) dapat dipahami karena adanya dukungan konteks terjadinya ujaran itu yang memungkinkan penafsiran lokal, sedangkan ujaran (2) dapat dipahami karena adanya “pengetahuan tentang dunia” yang sama disampaikan berdasarkan analogi.
Asal Mula Analisis Wacana (The origins of discourse analysis)
            Jika kita menerima pembedaan antara dua pendekatan yang berbeda pada pencarian tatanan dan regularitas dalam bahasa, tidaklah tepat menganggap pendekatan kedua, analisis wacana sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, tanpa asal usul apapun dalam kajian bahasa di masa lalu. Para mahasiswa bahasa di tradisi barat, para sarjana Yunani dan Romawi juga sadar atas pendekatan yang berbeda itu dan memisahkan tata bahasa (grammar) dengan retorika, tata bahasa (grammar) yang berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa sebagai objek tersendiri, dan retorika berurutan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan kata-kata, mencapai efek dan berkomunikasi secara gemilang dengan orang-orang dalam konteks tertentu. Ironisnya, beberapa aliran analisis wacana yang seringkali dianggap sebagai salah satu disiplin ilmu terbaru dalam kajian bahasa, menggunakan istilah-istilah dari retorika klasik, salah satu kajian yang tertua.
            Di sepanjang sejarah selalu ada kajian-kajian bahasa dalam konteks dalam berbagai selubung. Dalam linguistik abad ke dua puluh, dalam linguistik kalimat juga ada pendekatan yang sangat berpengaruh yang mengkaji bahasa dalam konteksnya yang penuh, sebagai bagian masyarakat dan dunia. Di Amerika Utara, dalam dekade awal abad ini, kerja yang menarik di bidang bahasa dilakukan oleh orang-orang yang merupakan ahli antropologi dan ahli bahasa. Di Inggris, tradisi serupa berkembang dalam karya Firt yang memandang bahasa bukan sebagai sistem yang otomatis, namun sebagai bagian budaya yang sangat tanggap terhadap lingkungan. Tradisi-tradisi tersebut memiliki banyak wawasan yang ditawarkan pada analisis wacana. Selain itu, terdapat banyak disiplin ilmu yang lain -- filsafat, psikologi, psikiatri, sosiologi, dan antropologi. Kecerdasan tiruan, kajian media, kajian sastra -- yang sering kali meneliti objek kajiannya: jiwa, masyarakat, budaya-budaya lain, komputer, media, karya sastra melalui bahasa dan dengan demikian mereka sedang melaksanakan analisis wacananya sendiri, sering kali merupakan yang terbaik.
            Keterlibatan disiplin-disiplin ilmu yang berbeda ini bisa sangat membingungkan dan tampaknya menyatakan bahwa analisis wacana sama sekali bukanlah aktivitas yang terpisah, namun merupakan pencarian bahaya timbulnya penguapan pada ilmu-ilmu yang lain. Mungkin pembedaan yang paling berguna adalah menganggap disiplin-disiplin ilmu yang lain itu sebagai upaya mengkaji sesuatu yang lain melalui wacana: sebaiknya analisis wacana memiliki wacana sebagai objek utama kajian, dan meski bisa membawa ke arah kajian di banyak bidang yang berbeda, dia selalu kembali pada perhatian utamanya.
            Ironisnya, linguis kalimatlah yang menentukan istilah “analisis wacana” dan memprakarsai pencarian kaidah-kaidah bahasa yang menjelaskan bagaimana kaitan kalimat-kalimat dalam suatu teks dengan tata bahasa (grammar) yang diperluas. Linguis tersebut adalah Zellig Harris. Pada tahun 1952, dalam artikelnya berjudul “Analisis Wacana” dia menganalisis iklan untuk topik rambut -- di situ dia menghilangkan nama merk – dan mulai mencari kaidah-kaidah gramatikal untuk menjelaskan mengapa satu kalimat mengikuti kalimat yang lain ( untungnya bagi dia, setiap kalimat dalam iklan itu gramatikalnya bagus). Rincian analisisnya bukan menjadi pokok perhatian kita: namun kesimpulan-kesimpulannya sangat menarik. Di awal artikel ini, dia mengamati bahwa ada kemungkinan arah bagi analisis wacana. Satu arahnya adalah “ Meneruskan linguistik deskriptif di luar batas-batas kalimat tunggal di setiap waktu”. Inilah apa yang dia ingin dia capai. Arah yang kedua adalah: “Mengkorelasikan budaya dan bahasa (yakni perilaku linguistik dannon linguistik). Sebagai linguis kaliat, itulah yang tidak dianggap sebagai minatnya. Namun dengan mempertimbangkan dua pilihan itu, di akhir artikel itu, dia menyimpulkan: “……dalam setiap bahasa, ternyata bahwa hampir semua hasilnya terdapat dalam regangan yang relatif pendek yang bisa kita sebut kalimat. ….. hanya saja kita jarang bisa menyatakan kleterbatasan-keterbatasan dalam kalimat-kalimat.
            Jika kita harus menemukan jawaban atas masalah apa yang memberi jenis-jenis bahasa keutuhan dan makna, kita bisa memandang di luar kaidah-kaidah formal yang bekerja dalam kalimat-kalimat dan mempertimbangkan orang-orang yang menggunakan bahasa dan orang-orang yang menggunakan bahasa dan juga terjadinya bahasa itu. Namun sebelum kita melakukannya, juga perlu disimnak seberapa jauh kaidah-kaidah linguistik yang formal dan murni itu digunakan dalam menjelaskan cara keberhasilan satu kalimat dalam mendampingi kalimat lain. Inilah bidang inquiri katya berikutnya.
Analisis Wacana sebagai Disiplin Ilmu
            Analisis Wacana (discourse analysis) dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu yang sudah lama maupun perkembangannya masih dianggap baru. Asal usul analisis wacana dapat ditelusuri hingga 2000 tahun yang lalu dalam kajian kesusastraan dan pidato-pidato. Salah satu disiplin ilmu yang menonjol pada saat itu ialah retorika klasik (clasical rhetoric), yaitu seni berbicara yang baik, termasuk merencanakan, menyusun, dan menyajikan pidato umum dalam bidang politik maupun hukum (Dijk, 1988).
            Asal usul analisis wacana modern dapat ditelusuri pada dasawarsa 1960-an. Pada waktu itu di Perancis diterbitkan analisis struktur wacana, analisis cerita, analisis film sampai analisis foto-foto media cetak. Meskipun latar belakang, tujuan, dan metode analisis itu masih beragam, banyaknya minat dalam kajian bidang kebahasaan secara luas itu akhirnya membentuk benang merah yang menjadikan wujud analisis wacana menjadi lebih utuh. Bersama dengan itu di Amerika Serikat Dell Haymes menerbitkan sebuah karya yang sangat berpengaruh, yaitu language in Culture and Society. Karya-karya awal analisis wacana dari dua belahan dunia itu didasarkan pada prinsip yang sama, yaitu mengawinkan antara linguistik dan strukturalis (structural linguistics) dan antropologi yang menekankan analisis pemakaian bahasa, bentuk wacana, dan bentuk komunikasi. Karya-karya lain yang mengawali munculnya analisis wacana juga terbit pada dasawarsa 1960-an.
            Pengamatan gejala perkembangan analisis wacana itu membuahkan beberapa kesimpulan. Pertama, pada mulanya analisis wacana merupakan kajian kebahasaan struktural dan deskriptif dalam batas-batas linguistik dan antropologi. Kedua, kajian pada tahun awal-awal itu lebih mengarah ke analisis ragam wacana populer, seperti cerita rakyat, mitos, dongeng, dan bentuk-bentuk interaksi ritual. Ketiga, analisis struktur kalimat atau wacana secara fungsional itu dipisakan dari paradigma gramatika transformasi generatif yang juga berpengaruh sebagai metode analisis bahasa pada waktu itu (Dijk, 1988).
            Kalau dasawarsa 1960-an merupakan periode lahirnya berbagai kajian pada teks dan peristiwa komunikasi, dasawarsa 1970-an memantapkan perkembangan analisis wacana yang sistematis sebagai bidang kajian tersendiri dengan dasar beberapa disiplin ilmu. Perkembangan itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi disertai dengan perkembangan aspek-aspek lain.
            Perkembangan pertama ialah perkembangan teoretis dan metodologis. Teori dan metodologi dalam analisis wacana juga dipengarui oleh perubahan paradigma dalam kajian bahasa. Misalnya, sosiolinguistik menjadi mantap pada akhir dasawarsa 1960-an dengan karya-karya Joshua Fishman. Pada tahun 1972, Labov menerbitkan hasil penelitiannya tentang pemakaian bahasa Inggris oleh orang-orang kulit kulit hitam yang menurut analisis bentuk percakapan antarremaja dan juga analisis pengalaman pribadi seseorang.
Perkembangan kedua yang cukup penting pada dasawarsa 1970-an ialah penemuan linguistik karya filsuf Austin, Grice, dan Searle mengenai tindak bahasa (speech acts). Berbeda dengan sosiolinguistik yang menekankan peran variasi bahasa dan konteks sosial, pendekatan itu memandang ujaran verbal tidak saja sebagai kalimat, tetapi juga merupakan bentuk tindakan sosial tertentu. Apabila kalimat digunakan dalam konteks tertentu juga dapat mengemban fungsi, yaitu fungsi ilokusi yang harus dijelaskan menurut maksud, kepercayaan atau evaluasi penutur, atau menurut hubungan penutur dan pendengar. Dengan cara itu, yang dapat dianalisis bukan saja hakikat konteks tetapi juga hubungan antara ujaran sebagai objek linguistik abstrak dan ujaran yang dipandang sebagai bentuk interaksi sosial. Dimensi baru itu menambah orientasi pragmatik pada komponen teoretis bahasa.
            Perkembangan ketiga, dalam kerangka teori gramatika itu sendiri seringkali diutarakan bahwa gramatika hendaknya jangan hanya memberikan penjelasan kalimat-kalimat lepas. Kajian pronomina dan pemarkah kohesif lain, koherensi, preposisi, topik, dan komentar, dan struktur semantik secara umum, ciri-ciri teks yang dipahami sebagai rangkaian kalimat mulai dikaji dalam linguistik dengan pandangan baru dan terpadu. Pendekatan itu mulai menunjukkan kinerjanya dengan mengkaji struktur pemakaian bahasa dengan munculnya kajian tentang teks dan wacana.
            Kehadiran pendekatan baru itu melengkapi perhatian yang besar saat itu pada jenis-jenis wacana monolog (teks, dongeng, mitos, dan lain-lain). Pemakainan bahasa secara spontan dan alamiah itu berwujud percakapan dan bentuk-bentk dialog dalam situasi sosial. Orang menjadi tidak saja mengetahui kaidah-kaidah gramatika secara tak langsung, tetapi juga kaidah-kaidah alih giliran (turn-taking) dalam percakapan. Pendekatan itu menjadi pendekatan pertama yang mengkaji struktur kalimat dan gramatika interaksi verbal. Oleh karena itu, pendekata itu tidak saja menambah dimensi baru dalam pengkajian struktur wacana monolog yang sudah banyak diminati pada waktu itu, tetapi juga memungkinkan pengkajian pemakaian bahasa sebagai bentuk interaksi sosial, sebagaimana yang telah dilakukan pragmatik dan teori tindak bahasa dalam istilah yang lebih formal dan filosofis. Analisis itu akhirnya berkembang pula ke analisis percakapan di kelas dan latar resmi yang lain. Dengan berkembangnya penelitian etnografi tentang peristiwa komunikasi yang disebut dengan etnografi komunikasi (ethnography of communication), ruang lingkup analisis wacana menjadi lebih berkembang. Analisis wacana tidak saja berhenti pada analisis bentuk sapaan, mitos, dan interaksi ritual, tetapi juga menangani berbagai bentuk percakapan dalam kebudayaan yang berbeda, seperti salam, cerita spontan, pertemuan formal, perdebatan, dan bentuk-bentuk komunikasi dan interaksi verbal yang lain.
Analisis Wacana Struktural
            Analisis wacana secara struktural berusaha mencari konstituen-konsituen (satuan linguistik yang lebih kecil) yang memiliki keterkaitan khusus satu sama lain dan yang muncul pada sejumlah pengaturan terbatas (seringkali berupa kaidah yang diatur). Pada kebanyakan pendekatan struktural, wacana dipandang sebagai suatu tingkat struktur yang lebih tinggi dari kalimat, atau satuan teks yang lain. Harris (1951), ahli bahasa pertama yang memakai istilah analisis wacana, secara terang-terangan mengklaim bahwa wacana adalah tingkat lanjutan dalam hierarki morfem, klausa, dan kalimat.
Kelemahan Pandangan Wacana di Atas Kalimat
            Ada beberapa akar permasalahan yang disebabkan oleh ketergantungan definisi dan analisis pada satuan kalimat yang lebih kecil. Sebuah permaalahan yang langsung timbul adalah bahwa satuan-satuan yang diucapkan oleh penutur tidak tampak sebagai kalimat. Penelitian yang dilakukan oleh Chafe (1980, 1987, 1992) misalnya, mengemukakan bahwa bahasa ucap dihasilkan dalam satuan-satuan akhiran intonasional dan semantik, bukannya kahiransintaksis (Schiffrin, 1994:25).
Wacana sebagai Text-Sentence
            Salah satu cara untuk mengatasi sejumlah masalah yang baru saja dikemukakan adalah dengan mengadopsi pembedaan Lyon (1977) antara system-sentence dengan text-sentence. System-sentence adalah berbagai jalinan yang bagus yang dihasilkan oleh tata bahasa, misalnya berupa konstruk-kontruk teoretis abstrak yang menghubungkan apa yang dihasilkan dari model sistem bahasa para ahli bahasa. Sebaliknya, text-sentence merupakan petanda-petanda ujaran (atau bagian-bagian dari petanda-petanda ujaran) yang bergantung pada konteks yang mungkin terjadi pada teks-teks tertentu. Pembedaan Lyon memungkinkan wacana diuraikan atas beberapa text-sentence dari system-sentence
Kepustakaan
Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press.
Dijk, T.A. Van. 1988. Discourse Analisis as a New Cross-Discipline. Dalam Mercer, Neil             (Ed.). Language and Literacy. Milton Keynes, Philadelphia: Open University             Press.
Kartomihardjo, Soeseno. 1989. Penggunaan Bahasa dalam Masyarakat. Prasaran             disampaikan dalam pertemuan Ilmiah MLI Regional Jawa Timur. Malang: IKIP             Malang. 20-21 Oktober.
Mey, Jacob L., 1996. Pragmatic An Introduction. USA: Blackweel Oxford UK &             Cambride.
Samsuri. 1987/1988. Analisis Wacana. Malang: Penyelenggaraan Pendidikan             Pascasarjana. Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi. IKIP             Malang.
Stubbs, Michael. 1984. Discourse Analisis: The Sociolinguistic Analisis of Language.             Oxford: Basil Blackwell Publisher.

Komentar :

ada 0 komentar ke “kajian bahasa”

Poskan Komentar